Thursday, April 11, 2019

FILSAFAT AL QUR’AN

0 Comments
FILSAFAT AL QUR’AN
Image result for falsafah quran
 
Alhamdulillah, segala puja dan puji syukur kehadirat Allah Swt. yang selalu memberikan rahmat dan hidayah-Nya kepada setiap makhluk-Nya di alam semesta, khususnya sehingga dapat bertahan misi ini.
Sholawat dan salam selalu kita curahkan kepada Nabi Muhammad Saw. yang telah membawa kita ke jalan kebenaran dengan al Qur’an sebagai penerang jalan menuju keselamatan dunia hingga akhirat.
 
Kebaikan, kebenaran, dan keindahan merupakan nilai mutlak bagi filsafat . Sejumlah filosof menambahkan keimanan dan keagamaan sebagai nilai yang keeempat.

Filsafat bukanlah bidang yang terasing dari cabang- cabang ilmu lainnya, malahan mendasari semuanya, dan sebenarnya merupakan unsur yang pertama dalam pencapaian tujuan-tujuan praktis maupun teoretis.
Filsafat adalah cabang ilmu yang paling penting, dan semua perkembangan manusia dan ilmunya pasti terikat dengan perkembangan filsafat. Sama seperti kehendak manusia untuk menguasai semua tindakannya, maka demikian pula filsafat kebudayaan hendaknya menguasai semua arah perkembangannya.
Para filosof, menurut William Temple, senantiasa mencarai jalan baru dari yang terbatas ke yang tak terhingga, dari yang tampak ke yang nyata, dari dunia ke Tuhan. Kemudian mereka berhenti, tidak memberitahukan kepada kita bagaimana bayangan mereka akan Tuhan telah memandu mereka untuk menanggapi dunia ini.
Kesulitan membahas masalah filsafat kini semakin jelas. Kita harus berurusan dengan alam semesta ini secara keseluruhan dan mencoba untuk menyelidiki sifat kebenaran dan keberadaan yang mendasarinya di mana- mana, pada segala waktu, dan dalam keadaan apapun. Bidang ini terlalu luas untuk dapat dikaji oleh seseorang atau bahkan sejumlah orang sekalipun. Jika kita melihat sejarah perkembangan filsafat, maka akan terlihat bahwa masing- masing filosof telah menanganinya dengan caranya sendiri, dan kita tidak bisa mengharapkan lebih dari itu.
 
Matematika adalah salah satu ilmu pasti yang mengkaji abstraksi ruang, waktu, dan angka. Matematika merumuskan gagasan-gagasan atau konsep-konsepnya    ke    dalam    bahasa    lambang    dan    angka    untuk mendeskripsikan realitas alam semesta. Setelah itu dapatlah diikuti secara deduktif konsepnya dan menetapkan sebuah sistem pengukuran tertentu yang berkenaan dengan angka-angka dan keruangannya, yang semuanya berguna dalam kehidupan kita dan dalam penelitian ilmu lainnya.

Kita menjadi sadar akan sifat kenyataan dari ruang, waktu, dan angka dengan cara penyajian demikian. Kita kemudian membentuk sejumlah sistem perhitungan yang demikian pasti sehingga hasilnya nampak bagaikan suatu mukjizat saja. Semua ini dimungkinkan karena kita, dalam matematika, menggunakan simbol dan angka untuk membantu kita dan juga meringkasnya menjadi penalaran logis sedemikian rupa sehingga tidak dapat dilakukan oleh ilmu- ilmu lainnya.
Matematika, sebuah ilmu yang menggunakan lambang-lambang nyata dan lebih dekat dengan mistisisme dari pada ilmu lainnya.  Namun keseluruhan matematika itu terdapat di dalam dalil-dalil, rumusan-rumusan, definisi-definisi, teorema-teorema, dan aksioma-aksioma yang telah kita tetapkan sebelumnya. Kajian matematika telah mengungkapkan kepada kita akan sifat kenyataan atau kebenaran yang mendasari ruang, waktu, dan angka sesuai dengan konsep dan gagasan kita yang telah kita yakini. Andaikata gagasan atau konsep itu tidak nyata, hanya tampak seolah-olah nyata saja, maka semua deduksi kita juga akan seolah-olah nyata. Matematika adalah semacam permainan intelektual yang dilakukan oleh ahlinya dan seolah-olah dia menghasilkan mukjizat intelektual. Tetapi ahli itu tidak dapat dan tidak bisa menyingkap sifat mutlak dari kenyataan gagasan atau konsepnya.
 
Tujuan Utama adalah memperkenalkan analisa matematis untuk menafsirkan kebanaran dan keberadaan nilai-nilai filosofis yang terkandung dalam ayat-ayat al Qur’an, yang memandu kami untuk menanggapi dunia ini, dengan bahasa matematika sederhana yang menjadi letak kekhasan tujuan  ini.
 
Akhirnya, semoga dapat diambil manfaatnya guna menambah pengetahuan dan keimanan tentang ketauhidan kita kepada Allah Swt. melalui al Qur’an. Tiada gading yang tak retak, tiada manusia tanpa kealpaan, diharapkan saran dan kritik membangun guna perbaikan dan kelanjutan.

Sejarah Perkembangan Tafsir Al Qur’an

 
Al Qur’an adalah sumber ajaran dan pedoman hidup umat Islam yang pertama, kitab suci ini menempati posisi sentral dalam segala hal yaitu dalam pengembangan dan perkembangan ilmu pengetahuan dan keislaman. Pemahaman ayat-ayat Al Qur’an melalui penafsiran mempunyai peranan yang sangat besar bagi maju mundurnya peradaban umat Islam. Di dalam menafsirkan Al Qur’an terdapat beberapa metode yang dipergunakan sehingga membawa hasil yang berbeda-beda pula, sesuai dengan sudut pandang dan latar belakang penafsir masing-masing. Sehingga timbullah berbagai corak penafsiran seperti tafsir bil ma’tsur, bil ra’yi, shufi, ilmi, adzabi, fiqhi dan falsafi dan lain-lain yang tentunya juga akan menimbulkan pembahasan yang luas serta pro-kontra dari zaman ke zaman.
Penafsiran terhadap Al Qur’an telah tumbuh dan berkembang sejak masa awal Islam. Sejalan dengan kebutuhan umat Islam untuk mengetahui seluruh segi kandungan Al Qur’an serta intensitas perhatian para ulama terhadap tafsir, maka tafsir Al Qur’an pun terus berkembang, baik pada masa ulama salaf maupun khalaf bahkan hingga sekarang. Pada tahapan-tahapan perkembangannya tersebut, muncullah karakteristik yang berbeda-beda baik dalam metode maupun corak penafsirannya.
Pada saat kejayaan Islam terutama pada masa pemerintahan Bani Abbasiyah, pemerintah mensupport para pemikir untuk melakukan penerjemahan besar-besaran terhadap buku-buku yang bukan dari Islam terutama buku-buku filsafat Yunani dan Persia ke dalam bahasa Arab. Walhasil beredarlah buku-buku baru yang menjadi bahan bacaan umat Islam pada waktu itu.
Pemikiran-pemikiran filsafat Yunani yang berkembang pesat di kalangan umat Islam pada saat itu memberi inspirasi para ilmuwan dan mufassir muslim, seperti Ibn Sina, Ibn Rusyd dan Al Faraby untuk menginterpretasikan Al Qur’an dengan menggunakan teori-teori filsafat.
Sejarah telah mencatat perkembangan tafsir yang begitu pesat, seiring dengan kebutuhan, dan kemampuan manusia dalam menginterpretasikan ayat- ayat Tuhan. Setiap karya tafsir yang lahir pasti  memiliki sisi  positif dan negative, demikian juga tafsir falsafi yang cenderung membangun proposisi universal hanya berdasarkan logika dan karena peran logika begitu mendominasi, maka metode ini kurang memperhatikan aspek historisitas kitab suci. Namun begitu, tetap ada sisi positifnya yaitu kemampuannya membangun abstraksi dan proposisi makna-makna latent (tersembunyi) yang diangkat dari teks kitab suci untuk dikomunikasikan lebih luas lagi kepada masyarakat dunia tanpa hambatan budaya dan bahasa.
 

  Pengertian Tafsir Falsafi Al Qur’an

 
Tafsir falsafi menurut Quraisy  Shihab adalah upaya penafsiran Al Qur’an dikaitkan dengan persoalan-persoalan filsafat. Ada juga yang mendefisnisikan tafsir falsafi sebagai penafsiran ayat-ayat Al Qur’an dengan menggunakan teori-teori filsafat. Hal ini berarti bahwa semua ayat-ayat Al Qur’an dapat ditafsirkan dengan menggunakan filsafat. Karena semua ayat Al Qur’an bisa berkaitan dengan persoalan-persoalan filsafat atau ditafsiri dengan menggunakan teori-teori filsafat.
Dari pemahaman tersebut tidak tidak terlalu berlebihan kiranya kalau kita mengharapkan nantinya terwujudnya tafisr falsafi ideal, sebuah konsep tafir falsafi yang kontemporer yang tidak hanya berlandaskan interpretasi pada kekuatan logika tetapi juga memberikan perhatian pada realitas sejarah yang mengiringinya. Sebab pada prinsipnya teks Al Qur’an tidak lepas dari struktur histories dan konteks sosio-kultural di mana ia diturunkan. Dengan demikian, akan lahir tarfir-tafsir filosofis yang logis dan proporsional, tidak spekulatif dan diberlebih-lebihan. Dan mungkin harapan tersebut tidak terlalu berlebihan karena di samping memang kita belum menemukan tafsir yang secara utuh menggunakan pendekatan filosofis, kalaupun ada itu hanya pemahaman beberapa ayat yang bisa kita temukan dalam buku-buku mereka.
Corak penafsiran ini akan sangat bermanfaat nantinya untuk membuka khazanah keislaman kita, sehingga kita nantinya akan mampu mengetahui maksud dari ayat tersebut dari berbagai aspek, terutama aspek filsafat. Metode berfikir yang digunakan filsafat yang bebas, radikal dan berada dalam dataran makna tentunya akan memperoleh hasil penafsiran yang lebih valid walaupun


keberannya masih tetap relative. Namun kombinasi hasil penafsiran tersebut dengan aspek sosio-historis tentunya akan semakin menyempurnakan eksistensinya. Sehingga produk tafsir ini jelas akan lebih memikat dan kredibel dari pada tafsir lain.
 

Respon Ulama Islam Terhadap Tafsir Falsafi

 
Ada dua macam pendapat ulama dalam menyikapi interfensi filsafat Yunani dalam proses penafsiran Al Qur’an, yaitu :
1.      Ulama menolak ilmu-ilmu yang bersumber dari karya para filosof tersebut. Menurut mereka di dalam filsafat tersebut ada banyak hal yang tidak sesuai dengan ajarah agama Islam. Bahkan al  Ghazali dalam kitabnya Tahafut al Falasifah menyebut mereka dengan istilah kaum bid’ah. Menurutnya mereka membangga-banggakan diri dengan anggapan bahwa akan terhormat apabila mereka tidak tidak menerima kebenaran secara taklid, meskipun sebaliknya mereka justru segera menerima kebohongan tanpa kritik. Al Ghazali, sebenarnya sama sekali tidak melarang menggunakan pendekatan filosofis. Yang  ia tidak sukai dan ia kritik habis adalah pendekatan model metafisika- spekulatif Ibn Sina dan para filasuf peripatetic yang lain. Namun ia tidak melarang orang untuk belajar logika, tabi’iyat, matematika dan lain sebagainya.
2.      Ulama yang menerima dan sangat kagum terhadap filsafat. Mereka selalu membenarkan teori filsafat dan berpendapat bahwa seluruh ayat Al Qur’an dapat diinterpretasikan dengan pendekatan filosofis. Salah satu tokohnya adalah Ibn Rusyd, dia menulis pembelaannya terhadap filsafat dalam Tahafut al Tahafut sebagai sanggahan terhadap Tahafut al Falasihnya Al Ghazali.
 
Menurut Adz Dzahaby, sebenarnya tidak seorangpun dari filosof- filosof Islam yang menerima pemikiran filsafat Yunani tersebut yang menulis tafsir secara utuh, dalam artian menafsirkan satu mushaf Al Qur’an. Mereka hanya menafsirkan ayat-ayat tertentu dalam Al Qur’an yang berhubungan dengan teori filsafat yang tertuang dalam karya filsafat mereka.


Tokoh-Tokoh Tafsir Filsafat Dan Contoh Tafsir Mereka.

 
1.      Ibn Sina
Metode Ibn Sina dalam menafsiri Al Qur’an adalah dengan memandang Al Qur’an dan filsafat, kemudian menafsirkan Al Qur’an secara filsafat murni. Biasanya dia jelaskan kebenaran-kebenaran agama ditinjau dari tinjauan filsafat. Karena menurutnya Al Qur’an itu sebagai symbol yang sulit dipahami oleh orang-orang awam dan hanya bisa dipahami oleh orang-orang tertentu.
Salah satu ayat yang ditafsirkan oleh Ibn Sina adalah surat Al Haqqah ayat 17 :

Surah Al-Haaqqah - سورة الحاقة

[69:17] - Ini adalah sebahagian dari keseluruhan surah. [Papar keseluruhan surah]


69:17
69_17 Sedang malaikat-malaikat (ditempatkan) mengawal segala penjurunya, dan Arasy Tuhanmu pada saat itu dipikul oleh lapan malaikat di atas malaikat-malaikat yang mengawal itu.
(Al-Haaqqah 69:17) | <Embed> | English Translation | Tambah Nota | Bookmark | Muka Surat 567 - ٥٦٧ 

 
Dan malaikat-malaikat berada di penjuru-penjuru langit. dan pada hari itu delapan orang malaikat menjunjung 'Arsy Tuhanmu di atas (kepala) mereka.”
 
Menurut Ibn Sina, arsy adalah planet ke-9 yang merupakan pusat planet-planet lain, sedangkan delapan malaikat adalah delapan planet penyangga yang berada di bawahnya. Ia menyatakan bahwa arsy itu merupakan akhir wujud ciptaan jasmani. Kalangan antromorfosis yang menganut faham syari’at berpendapat bahwa Allah berada di atas arsy tetapi bukan berarti ia berdiam di sana (hulul) sebagaimana juga pada filosof beranggapan bahwa akhir ciptaan yang bersifat jasmani adalah planet ke-9 tersebut, dan Tuhan berada di sana tetapi tidak dalam artian berdiam. Selanjutnya mereka menjelaskan bahwa planet itu bergerak dengan jiwa. Gerak tersebut bersifat esensial dan tidak esensial, gerak esensial dapat bersifat alamiah dan nafsiyah (kejiwaan). Kemudian mereka jelaskan bahwa planet-planet tersebut tidak akan binasa dan tidak akan berubah sepanjang masa. Dalam syariat disebutkan bahwa malaikat itu hidup, tidak mati seperti layaknya manusia mati, maka jika dikatakan bahwa planet-planet itu makhluk hidup yang dapat berfikir dan makhluk hidup yang dapat berfikir disebut malaikat, maka planet-planet tersebut dapat dinamakan malaikat.


2.      Al Faraby
Metode tafsir falsafi yang digunakan Al Faraby sama dengan Ibn Sina, yaitu sama-sama menilai Al Qur’an dengan filsafat. Dalam kitabnya “Fushus al Hikam”, ia menafsirkan Surat al Hadid ayat 3 dengan pendekatan filosofis :

Surah Al-Hadiid - سورة الحديد

[57:3] - Ini adalah sebahagian dari keseluruhan surah. [Papar keseluruhan surah]


57:3
57_3 Dia lah Yang Awal dan Yang Akhir; dan Yang Zahir serta Yang Batin; dan Dia lah Yang Maha Mengetahui akan tiap-tiap sesuatu.
(Al-Hadiid 57:3) | <Embed> | English Translation | Tambah Nota | Bookmark | Muka Surat 537 - ٥٣٧

 
 
”Dialah yang Awal dan yang akhir yang Zhahir dan yang Bathin; dan dia Maha mengetahui segala sesuatu.”
 
Beliau menafsirkan ayat tersebut tersebut berdasarkan filsafat Plato tentang keqadiman alam, ia menyatakan bahwa wujud pertama ada dengan sendirinya, setiap wujud (hal “ada”) yang lain berasal dari wujud yang pertama (prima causa). Alam itu awal (qadim) karena kejadiannya paling dekat dengan wujud  pertama. Sedangkan  tafsir tentang Ia merupakan wujud yang terakhir ialah karena segala sesuatu yang diteliti, sebab-sebabnya akan berakhir padaNya. Dialah wujud terakhir karena Dia tujuan  akhir  yang  hakiki  dalam setiap proses. Dialah kerinduan utama karena itu Dia akhir dari segala tujuan.
 
3.      Ibn Rusyd
Penafsiran Ibn Rusyd ini lebih cenderung pada perpaduan pemikiran filosof dan teori-teori yang ada dalam nash-nash Al Qur’an. Di mana Ibn Rusyd mempertimbangkan dengan matang agar tidak terjebak dalam pemikiran filosof radikal yang mampu menjerumuskan alam pikiran kepada jalan yang menyesatkan yaitu kekafiran.
Contoh tafsir Ibn Rusyd surat Hud ayat 7 :

Surah Hud - سورة هود

[11:7] - Ini adalah sebahagian dari keseluruhan surah. [Papar keseluruhan surah]


11:7
11_7 Dan Dia lah yang menjadikan langit dan bumi dalam enam masa, sedang "ArasyNya, berada di atas air (Ia menjadikan semuanya itu untuk menguji kamu: siapakah di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan demi sesungguhnya! Jika engkau (wahai Muhammad) berkata: "Bahawa kamu akan dibangkitkan hidup kembali sesudah mati" tentulah orang-orang yang ingkar akan berkata: "Ini tidak lain, hanyalah seperti sihir yang nyata (tipuannya)".
(Hud 11:7) | <Embed> | English Translation | Tambah Nota | Bookmark | Muka Surat 222 - ٢٢٢

 
Dan Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam hari dan tahtanya berada di atas air, agar ia uji siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya.
 
Menurutnya alam bukanlah dijadikan dari tiada tetapi dari sesuatu yang memang sudah ada. Sebelum ada wujud langit dan bumi telah ada wujud yang lain lain yaitu air yang di atasnya terdapat tahta kekuasaa Tuhan. Sedangkan dalam surat al Anbiya ayat 30 dan Ibrahim 47-48 disebutkan bahwa bumi dan langi pada mulanya berasal dari unsur yang sama, kemudian dipecah dari benda yang berlainan. Dengan demikian sebelum bumi dan langit telah ada benda lain yang dalam sebagian ayat diberi nama air, dan dalam ayat lain disebut uap. Uap dan air berdekatan selanjutnya bumi dan langit dijadikan dari uap atau air bukan dijadikan dari unsur yang tiada, dalam arti unsurnya bersifat kekal dari zaman yang lampau yaitu qodim.
 
4.      Ikhwanush Shafa
Ayat Al Qur’an menurut mereka selalu mengandung makna ganda, yaitu makna lahir dan batian yang hanya bisa dipahami oleh orang yang mampu melepaskan diri dari unsur-unsur material. Mereka menganut paham bathiniyah yang menganggap makna lahir Al Qur’an bukanlah makna sebenarnya seperti yang dikehendaki Tuhan. Contoh tafsir mereka surat al an’am ayat 112 :

Surah Al-An'aam - سورة الأنعام

[6:112] - Ini adalah sebahagian dari keseluruhan surah. [Papar keseluruhan surah]


6:112
6_112 Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap Nabi itu musuh dari Syaitan-syaitan manusia dan jin, setengahnya membisikkan kepada setengahnya yang lain kata-kata dusta yang indah-indah susunannya untuk memperdaya pendengarnya. Dan jika Tuhanmu menghendaki, tentulah mereka tidak melakukannya. Oleh itu, biarkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan (dari perbuatan yang kufur dan dusta) itu.
(Al-An'aam 6:112) | <Embed> | English Translation | Tambah Nota | Bookmark | Muka Surat 142 - ١٤٢


Dan Demikianlah kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu syaitan-syaitan (dari jenis) manusia dan (dan jenis) jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan- perkataan   yang   indah-indah   untuk   menipu   (manusia).   Jikalau


Tuhanmu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, Maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan.”
 
Mereka menafsirkan bahwa syayathinal jinni adalah nafsu jahat yang terpisah dari jasad manusia dan tidak bisa ditangkap oleh panca indra sedangkan syayathinal insi ialah nafsu yang bersemayam dalam raga manusia.
 
5.      Thabathaba’i
Salah satu ayat yang ditafsir oleh Thabathaba’i dengan menggunakan tafsir filsafat adalah  al Baqarah ayat 167 yang berbunyi

Surah Al-Baqarah - سورة البقرة

[2:167] - Ini adalah sebahagian dari keseluruhan surah. [Papar keseluruhan surah]


2:167
2_167 Dan (pada masa yang mengecewakan itu) berkatalah orang-orang yang menjadi pengikut: Alangkah eloknya kalau kami (dengan itu dapat kami berlepas diri daripada mereka sebagaimana mereka berlepas diri daripada kami (pada saat ini)!" Demikianlah Allah perlihatkan kepada mereka amal-amal mereka (dengan rupa yang mendatangkan) penyesalan yang amat sangat kepada mereka, dan mereka pula tidak akan dapat keluar dari neraka.
(Al-Baqarah 2:167) | <Embed> | English Translation | Tambah Nota | Bookmark | Muka Surat 25 - ٢٥

 
Dan berkatalah orang-orang yang mengikuti: "Seandainya kami dapat kembali (ke dunia), pasti kami akan berlepas diri dari mereka, sebagaimana mereka berlepas diri dari kami."  Demikianlah Allah memperlihatkan kepada mereka amal perbuatannya menjadi sesalan bagi mereka; dan sekali-kali mereka tidak akan keluar dari api neraka.”
 
Menurutnya siksaan di neraka tidak akan kekal atau akan terputus, karena Tuhan Maha Pengasih sangat luas sekali, sehingga bagaimana Tuhan yang Pengasih itu akan menyiksa hambanya selamanya dan tidak akan pernah berhenti menyiksanya. Alasan lainnya yang dikemukakan bahwa balas dendam terhadap perbuatan orang yang aniaya hanyalah perbuatan orang yang dhalim. Sedangkan tuhan tidak akan pernah mendhalimi hambanya dengan balas dendam, maka siksaan di neraka akan terputus atau tidak akan kekal.


Filsafat Al Qur’an

 
Filsafat al Qur’an pada intinya terdapat dalam kalimat tauhid, yiatu la- Ilaha illa Allah (tidak ada Tuhan selain Allah), la-Ilaha illa Hu (tidak ada Tuhan selain Dia), la Ilaha illa Ana (tidak ada  Tuhan selain Aku), atau ungkapan-ungkapan lain yang bermakna ke-Esaan Tuhan. Dalam kalimat fislafat dan bahasa sehari-hari dikenal sebagai Tuhan Yang Maha Esa, beserta semua bagian yang berasal dari satu Kesatuan.
”Sekiranya ada di langit dan di bumi tuhan-tuhan selain Allah, tentulah keduanya itu telah rusak binasa. Maka Maha suci Allah yang mempunyai Arsy daripada apa yang mereka sifatkan.” (QS.21:22)

Surah Al-Anbiyaa' - سورة الأنبياء

[21:22] - Ini adalah sebahagian dari keseluruhan surah. [Papar keseluruhan surah]


21:22
21_22 Kalau ada di langit dan di bumi tuhan-tuhan yang lain dari Allah, nescaya rosaklah pentadbiran kedua-duanya. Maka (bertauhidlah kamu kepada Allah dengan menegaskan): Maha Suci Allah, Tuhan yang mempunyai Arasy, dari apa yang mereka sifatkan.
(Al-Anbiyaa' 21:22) | <Embed> | English Translation | Tambah Nota | Bookmark | Muka Surat 323 - ٣٢٣

Allah sekali-kali tidak mempunyai anak, dan sekali-kali tidak ada tuhan (yang lain) beserta-Nya, kalau ada tuhan beserta-Nya, masing-masing tuhan itu akan membawa makhluk yang diciptakannya, dan sebagian dari tuhan- tuhan itu akan mengalahkan sebagian yang lain. Maha Suci Allah dari apa yang mereka sifatkan itu.” (QS.23:91)

Surah Al-Mu'minuun - سورة المؤمنون

[23:91] - Ini adalah sebahagian dari keseluruhan surah. [Papar keseluruhan surah]


23:91
23_91 Allah tidak sekali-kali mempunyai anak, dan tidak ada sama sekali sebarang tuhan bersamaNya; (kalaulah ada banyak tuhan) tentulah tiap-tiap tuhan itu akan menguasai dan menguruskan segala yang diciptakannya dengan bersendirian, dan tentulah setengahnya akan bertindak mengalahkan setengahnya yang lain. Maha Suci Allah dari apa yang dikatakan oleh mereka (yang musyrik) itu.
(Al-Mu'minuun 23:91) | <Embed> | English Translation | Tambah Nota | Bookmark | Muka Surat 348 - ٣٤٨

Dia menurunkan para malaikat dengan membawa wahyu dengan perintah- Nya di antara hamba-hamba-Nya, yaitu: Peringatkanlah olehmu sekalian, bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan Aku, maka hendaklah kamu bertakwa kepada-Ku. (QS:16:2)

Surah Al-Nahl - سورة النحل

[16:2] - Ini adalah sebahagian dari keseluruhan surah. [Papar keseluruhan surah]


16:2
16_2 Ia menurunkan malaikat membawa wahyu dengan perintahNya kepada sesiapa yang dikehendakiNya dari hamba-hambaNya (yang layak menjadi Rasul); (lalu Ia berfirman kepada Rasul-rasul): "Hendaklah kamu menegaskan kepada umat manusia bahawa tiada Tuhan melainkan Aku. Oleh itu, bertaqwalah kamu kepadaku".
(Al-Nahl 16:2) | <Embed> | English Translation | Tambah Nota | Bookmark | Muka Surat 267 - ٢٦٧
 

Ayat terakhir ini kemudian diikuti dengan berbagai ayat lainnya yang menjadi petunjuk akan kesatuan alam semesta dengan penciptanya. Ayat ketiga pada surat yang sama menceritakan tentang penciptaan langit dan bumi, ayat keempat tentang penciptaan manusia, ayat kelima tentang penciptaan binatang ternak, dan diikuti oleh ayat-ayat tentang penciptaan air, tumbuh- tumbuhan, terjadinya siang dan malam, matahari dan bulan dengan bintang- bintang, segala isi bumi, gunung-gunung dan lautan, dan seterusnya yang menunjukkan tanda-tanda kebesaran Allah.

No comments:

Post a Comment

 
back to top