Friday, April 12, 2019

Falsafah Al-Qur'an

0 Comments
Falsafah Al-Qur'an

(Konteks I'jâz dalam Menghadapi Tantangan Modernitas) (I'jâz Konteks dalam Menghadapi Cabaran Modeniti)

Al-Qur'an diturunkan sebagai petunjuk bagi ummat Manusia. Al-Quran diturunkan sebagai panduan kepada umat manusia. Allah berfirman: "Ini adalah sebuah Kitab yang diturunkan kepadamu, maka janganlah ada kesempitan di dalam dadamu karenanya, supaya kamu memberi peringatan dengan kitab itu dan menjadi pelajaran bagi orang-orang yang beriman. (QS. Al-A'râf: 2) Allah berfirman: "Ini adalah Kitab yang diturunkan kepadamu, maka tidak ada sempit di dalam dada kamu, supaya kamu memberi peringatan kepada kitab itu dan menjadi pelajaran bagi orang-orang yang beriman" (QS Al-A'râf: 2)

Surah Al-A'raaf - سورة الأعراف Surah Al-Arara - سورة الأعراف

[ 7:2 ] - Ini adalah sebahagian dari keseluruhan surah. [ 7: 2 ] - Ini adalah sebahagian daripada seluruh surah. [Papar keseluruhan surah] [Tunjukkan seluruh surah]


7:2 7: 2
7_2 (Al-Quran ini) sebuah Kitab yang diturunkan kepadamu (wahai Muhammad dari Tuhanmu). (Al-Quran ini) Kitab yang diturunkan kepadamu (wahai Muhammad dari Tuhanmu). Oleh itu, janganlah ada perasaan bimbang dalam dadamu mengenainya, supaya engkau memberi amaran dengan Al-Quran itu (kepada orang-orang yang ingkar), dan supaya menjadi peringatan bagi orang-orang yang beriman. Oleh itu, tidak ada perasaan tidak ragu-ragu di dada anda, supaya anda memberi amaran kepada Al-Quran (kepada orang-orang yang menafikan), dan supaya menjadi peringatan kepada orang-orang yang beriman.
( Al-A'raaf 7:2 ) | ( Al-A'raf 7: 2 ) | <Embed> | <Embed> | English Translation | Terjemahan Inggeris | Tambah Nota | Tambah Nota | Bookmark Bookmark | | Muka Surat 151 - ١٥١ Wajah Surat 151 - 151

Fungsi Al-Qur'an sebagai petunjuk ini ditegaskan oleh Al-Ustâdz Al-Imâm Muhammad 'Abduh, sehingga beliau menyatakan bahwa tujuan yang pertama dan utama dari ilmu Tafsir adalah: merealisasikan keberadaan Al-Qur'an itu sendiri sebagai petunjuk dan rahmat Allah, dengan menjelaskan hikmah kodifikasi kepercayaan, etika dan hukum menurut cara yang paling bisa diterima oleh pikiran dan menenangkan perasaan. Fungsi Al-Qur'an sebagai panduan disahkan oleh Al-Ustad Al-Imam Muhammad 'Abduh, maka beliau menyatakan bahwa tujuan pertama dari ilmu tafsir adalah: untuk mewujudkan kewujudan Al-Qur'an itu sendiri sebagai panduan dan rahmat Allah, dengan menerangkan kebijaksanaan kepercayaan, etika dan undang-undang, dengan cara yang paling dapat diterima oleh minda dan menenangkan perasaan. Dengan demikian, tujuan yang sebenarnya dari ilmu ini adalah untuk mencari petunjuk kebenaran di dalam Al-Qur'an. Oleh itu, tujuan sebenar pengetahuan ini adalah mencari petunjuk tentang kebenaran dalam Al-Qur'an. (Al-Khûlî, 1995: 229) (Al-Khûlî, 1995: 229)

Falsafah Al-Qur'an
Penjelasan yang lebih mendetail tentang dimensi-dimensi fungsional Al-Qur'an Penjelasan yang lebih terperinci tentang dimensi fungsional Al-Quran
(baca: maqâshid wadl'i Al-Syarî'ah) sebagai petunjuk ini bisa didapatkan—antara lain—dalam magnum opus Al-Syâthibî, Al-Muwâfaqât. (baca: maqâshid wadl'i Al-Shari'a) kerana petunjuk ini boleh diperolehi antara lain - dalam magnum opus Al-Sythibî, Al-Muwâfaqât. (Al-Syâthibî: 64 et seqq) (Al-Syāthibî: 64 et seqq)

Bertolak dari "tesa teologis" tentang fungsi Al-Qur'an di atas, dirancang untuk membangun dan merumuskan beberapa pemikiran awal ke arah sebuah "entitas" yang kiranya paling tepat kalau dinamakan sebagai "Falsafah Al-Qur'an" (dengan huruf "F" kapital). Bermula dari "tesis teologi" mengenai fungsi Al-Quran di atas, ia dirancang untuk menubuhkan dan merumuskan beberapa pemikiran permulaan ke arah "entiti" yang paling sesuai jika disebut "Falsafah Al-Qur'an" (dengan huruf "F "modal).

Sebuah Falsafah yang memungkinkan Al-Qur'an menjalankan fungsinya sebagai petunjuk dan rahmat bagi ummat manusia yang "hidup" dalam ruang dan waktu yang berubah, bergeser dan berkembang. Falsafah yang membolehkan Al-Quran untuk melaksanakan fungsinya sebagai panduan dan rahmat bagi umat manusia yang "hidup" dalam ruang dan masa yang berubah, berubah dan berkembang.

Lebih dari itu, Falsafah Al-Qur'an memungkinkan "Teks Kitab Suci" itu menjadi hidup (posisi aktif) dan dalam salah satu aspeknya mampu bertahan menghadapi pemikiran-pemikiran baru (posisi pasif dinamis). Selain itu, Falsafah Al-Qur'an membolehkan "Teks Kitab" menjadi hidup (kedudukan aktif) dan dalam satu aspek ia dapat menahan pemikiran baru (kedudukan pasif dinamik).

Refleksi Tentang Studi Al-Qur'an Refleksi mengenai Kajian Al-Quran

  • Diskursus Lisan dan TeksTulisan Wacana Oral dan Teks Penulisan
  • Al-Qur'an dan Realita Al-Quran dan Realiti
  • Struktur Al-Qur'an Struktur Al-Quran
  • Logika Presentasi Al-Qur'an Logik Penyampaian Al-Quran
  • Tentang Epistéme dan Metodologi interpretasi Mengenai Epistéme dan Metodologi pentafsiran
  • Accountability of Al-Qur'an Akauntabiliti Al-Qur'an



Menghidupkan Al-Qur'an Hidupkan Al-Qur'an

Falsafah Al-Qur'an dengan empat bagiannya: Falsafah Al-Qur'an dengan empat bahagiannya:
  • ontologis, ontologi,
  • epistemologis, epistemologi,
  • aksiologis dan axiologi dan
  • konteks realitasnya. konteks realiti.

Sebagai materi penunjang kajian tentang kemukjizatan Al-Qur'an, yakni kemukjizatannya dalam menghadapi tantangan modernitas. Sebagai bahan untuk menyokong kajian mukjizat Al-Qur'an, iaitu keajaibannya dalam menghadapi cabaran modernitas.

Kekurangan yang perlu ditambal dan kesalahan yang perlu diluruskan. Kekurangan yang perlu ditapis dan kesilapan yang perlu diperbetulkan. Apalagi lebih banyak bergerak di dataran teoritis yang masih perlu dijabarkan dan diaplikasikan lebih lanjut oleh mereka-mereka yang lebih berkompeten dari seorang penulis yang tunduk pada prinsip: "Lâ yukallifu'lLâh nafsan illâ wus'ahâ,… wa inna sa'yaka la syatta …". Selain itu, lebih banyak bergerak pada bidang teoretis yang masih perlu diterangkan dan diterapkan lebih jauh oleh mereka yang lebih kompeten daripada seorang penulis yang tertakluk kepada prinsip: "Lâ yukallifu'lLâh nafsan illâ wus'ahâ, ... wa inna sa'yaka la syatta ... "

Semoga kesalahan-kesalahan besar bisa membantu orang lain untuk hanya terjerumus dalam kesalahan-kesalahan yang kecil saja. Mudah-mudahan kesilapan besar dapat membantu orang lain jatuh ke dalam kesilapan kecil. Nûn, wa'l Qalam wa mâ yasthurûn, wa'lLâh Al-Muwaffiq. Nûn, wa'l Qalam wa mâ yasthurûn, wa'lLâh Al-Muwaffiq.

Catatan : Nota:

  • Menggunakan istilah istilah Teks Transendental (Al-Nassh Al-Muta'âlî) untuk mengisyaratkan akan kepercayaan 'aqîdah bahwa Al-Qur'an adalan sebuah Kitab Suci yang diwahyukan oleh Allah kepada Nabi Muhammad saw dan bahwasanya Al-Qur'an adalah Kalam Allah bukanlah makhluq dan berharap penjelasan ini sudah cukup menghindarkan dari kesalahpahaman yang menjerumuskan, lebih dari itu menimbulkan asumsi yang mencelakakan. Menggunakan istilah Teks Transcendental (Al-Nassh Al-Muta'lî) untuk membayangkan kepercayaan 'aqîdah bahawa Al-Qur'an adalah Kitab yang diturunkan oleh Allah kepada Nabi Muhammad dan bahawa Al-Qur'an adalah Kalam Allah tidak harapan dan harapan bahawa penjelasan ini sudah cukup untuk mengelakkan salah faham yang munasabah, lebih daripada itu mencetuskan anggapan yang berbahaya.
  • Perhatikan, antara lain, firman Allah: Haa Miim. Perhatikan, antara lain, firman Allah: Haim Miim. Demi Kitab (Al-Qur'an) yang menerangkan. Demi Kitab (Al-Qur'an) yang menerangkan. Sesungguhnya Kami menjadikan Al-Qur'an dalam bahasa Arab supaya kamu memahami(nya). Sesungguhnya Kami menjadikan Alquran dalam bahasa Arab supaya kamu mengerti (itu). (QS. Al-Zukhruf: 1-3). (Surah Al-Zukhruf: 1-3).


Surah Az-Zukhruf - سورة الزخرف Surah Az-Zukhruf - سورة الزخرف

[ 43:1 - 43:3 ] - Ini adalah sebahagian dari keseluruhan surah. [ 43: 1 - 43: 3 ] - Ini adalah sebahagian dari seluruh surah. [Papar keseluruhan surah] [Tunjukkan seluruh surah]



Bismillah Dengan nama Allah, Yang Maha Pemurah, lagi Maha Mengasihani.' Dengan nama Allah, Yang Maha Pemurah, lagi Maha Mengasihani. '


43:1 43: 1

43_1 Haa, Miim. Haa, Miim.
( Az-Zukhruf 43:1 ) | ( Az-Zukhruf 43: 1 ) | <Embed> <Embed> | | English Translation Terjemahan Bahasa Inggeris | | Tambah Nota Tambah Nota | | Bookmark Bookmark | | Muka Surat 489 - ٤٨٩ Surat Muka 489 - 489


43:2 43: 2
43_2 Demi Kitab Al-Quran yang menyatakan kebenaran. Demi Kitab Al-Quran yang menyatakan kebenaran.
( Az-Zukhruf 43:2 ) | ( Az-Zukhruf 43: 2 ) | <Embed> <Embed> | | English Translation Terjemahan Bahasa Inggeris | | Tambah Nota Tambah Nota | | Bookmark Bookmark | | Muka Surat 489 - ٤٨٩ Surat Muka 489 - 489


43:3 43: 3
43_3 Sesungguhnya Kami jadikan Kitab itu sebagai Quran yang diturunkan dengan bahasa Arab, supaya kamu (menggunakan akal) memahaminya. Sesungguhnya Kami telah menjadikan Kitab itu sebagai Al-Quran yang diturunkan dalam bahasa Arab supaya kamu mengerti.
( Az-Zukhruf 43:3 ) | ( Az-Zukhruf 43: 3 ) | <Embed> <Embed> | | English Translation Terjemahan Bahasa Inggeris | | Tambah Nota Tambah Nota | | Bookmark Bookmark | | Muka Surat 489 - ٤٨٩ Surat Muka 489 - 489



  • Selain menunjukkan transendentalitas Al-Qur'an telah disinggung dalam bagian sebelumnya, ayat ini (dan ayat-ayat semacamnya) juga menunjukkan bahwa praktek membaca (atau bahasa Arabnya: qara'a qur'ânan) pada saat itu bukan dilakukan pada kumpulan teks tertulis yang belakangan dikenal sebagai "Mushaf". Selain memperlihatkan transendenitas al-Qur'an yang disebutkan dalam ayat sebelumnya, ayat ini (dan ayat-ayat serupa) juga menunjukkan bahawa amalan membaca (atau bahasa Arab: qara'a qur'an) pada masa itu tidak dilakukan dalam kumpulan teks bertulis yang kemudian dikenali sebagai "Mushaf". Bagaimana tidak, bukankah pada saat itu Al-Qur'an belum rampung diturunkan, dan bukankah tindakan kodifikasi tertulis yang "resmi" baru dilakukan sekitar 20 tahun kemudian? Bagaimanakah saya tidak, pada masa itu Al-Qur'an belum diturunkan, dan bukan tindakan pengkodifikasi bertulis "rasmi" yang hanya dilakukan sekitar 20 tahun kemudian?
  • Salah satu manifestasi fenomena ini adalah diberikannya 'legitimasi" kepada kekuasaan untuk menentukan yang benar dan yang salah dalam menyikapi perbedaan pendapat yang ada di antara ummat. Dalam bahasa ushûliyûn: "Hukm al-hâkim yarfa' al-khilâf". Akibatnya "kebenaran" dan "kesalahan" bisa ditentukan sesuai dengan arah angin yang bertiup dari kursi kekuasaan. Contoh kasusnya bisa dilihat dari nasib kaum Mu'tazilah yang mengalami rotasi dari posisi "kebenaran resmi" ke "kesalahan" teologis-ideologis-politis pada masa Al-Ma'mûn dan selanjutnya pada masa Al-Mutawakkil Al-'Abbâsî. (Abû Zuhrah: 126) Satu manifestasi fenomena ini adalah memberi 'legitimasi' kepada kuasa untuk menentukan yang betul dan salah dalam menjawab perbezaan pendapat antara ummah, dalam bahasa ushûliyûn: "Hukm al-hâkim yarfa 'al-khilâf". Hasilnya adalah "kebenaran" dan "kesilapan" boleh ditentukan mengikut arah angin yang bertiup dari tempat duduk kuasa. Kes itu dapat dilihat dari nasib kaum Mu'tazilah yang mengalami putaran dari kedudukan "kebenaran rasmi" kepada teologi ideologi-politik "kesilapan" dalam Al-Ma'mun dan kemudian pada masa Al-Mutawakkil Al-'Bbâsî. (Abû Zuhrah: 126)
  • Di antara dogma teologis tersebut adalah sabda yang dinisbahkan kepada Nabi besar Muhammad saw.: "Ummatku tidak akan berkumpul membenarkan kesesatan, dan 'Tangan' Allah adalah menaungi jamaah kolektif ummat". Di antara dogma-dogma teologi ini adalah perkataan yang dikaitkan dengan Nabi Muhammad: "Umat saya tidak akan mengumpulkan kesaksian yang membenarkan, dan 'Tangan' Allah menutupi jemaah kolektif ummah".
  • Dalam magnum opus-nya, Al-Burhân, Al-Imâm Al-Zarkasyî menjelaskan secara panjang lebar bahwa Al-Qur'an dalam pengertian yang metafisik ini memiliki sifat keterbukaan yang luas. Dalam bukunya magnum, Al-Burhân, Al-Imâm Al-Zarkasyî menjelaskan secara ringkas bahawa Al-Qur'an dalam erti metafizik ini mempunyai keterbukaan yang luas. Sifat metafisik ini kemudian menjiwai "bentuk fisik" Al-Qur'an (=Mushaf) yang bisa dipahami secara plural. Sifat metafizik ini kemudian menghidupkan bentuk "fizikal" Al-Qur'an (= Mushaf) yang dapat dimengerti jamak. (Al-Zarkasyî, Al-Burhan fî 'Ulûm Al-Qur'ân, Dâr Al-Ma'rifah, Beirut, cet. III, 1977, hal 6-17, dikutip dari Abû Zayd, 1994: 43-44). (Al-Zarkasyî, Al-Burhan 'Ulûm Al-Qur'ân, Dar Al-Ma'rifah, Beirut, cet III, 1977, ms 6-17, dipetik dari Abû Zayd, 1994: 43-44). Dalam kapasitasnya sebagai seorang yang mempunyai tradisi gnostik a lâ Persia, Seyyed Hossein Nasr menulis mengenai wujud metafisik Al-Qur'an ini: "… that's why in Islam one distinguishes between a Qur'an that is 'written' and 'composed' (tadwînî) and a Qur'an which is 'ontological' and pertains to cosmic existence (takwînî). This is not to say that there are two Qur'ans but that, metaphysically, the Qur'an has an aspect of knowledge connected with its text as a book and an aspect of being connected with its inner nature as the archetypical blue-print of the Universe". Dalam kapasitinya sebagai orang yang mempunyai tradisi gnostik Persia, Seyyed Hossein Nasr menulis mengenai bentuk metafizik Al-Qur'an ini: "... itulah sebabnya dalam Islam seseorang membezakan antara Al-Qur'an yang 'ditulis' dan 'disusun' (tadwînî ) dan Al-Qur'an yang 'ontologi' dan berkaitan dengan kewujudan kosmik (takwînî). Ini bukanlah mengatakan bahawa terdapat dua orang Qur'ân tetapi, secara metafizik, Al-Qur'an mempunyai aspek pengetahuan yang berkaitan dengan teksnya sebagai sebuah buku dan satu aspek berkaitan dengan alam batinnya sebagai cetak biru arketik Alam Semesta ". (Nasr, 1989: 53) (Nasr, 1989: 53)
  • Dalam hal ini ada dua pandangan yang saling berseberangan: (1) Sesuai dengan premis 'dialog' Al-Qur'an dengan realita—yang dicerminkan oleh sebab dan latarbelakang penurunan ayat-ayatnya—, maka haruslah dikatakan revisi dan pengedaluarsaan bagian-bagian Al-Qur'an yang tidak lagi sesuai, dan (2) Apabila ada realita yang "berlawanan" dengan Al-Qur'an, maka secara otomatis realitas tersebutlah yang harus disalahkan dan selanjutnya diluruskan sesuai dengan otoritas Al-Qur'an. Dalam hal ini terdapat dua pandangan yang saling bertentangan: (1) Sesuai dengan premis 'dialog' Alquran dengan realiti - yang tercermin dalam sebab-sebab dan latar belakang penurunan ayat-ayat -, harus dikatakan bahwa revisi dan pendedahan bagian-bagian Al- Al-Qur'an tidak lagi sesuai, dan (2) Jika ada kenyataan yang "bertentangan" dengan Al-Qur'an, maka secara otomatis realiti itu harus dipersalahkan dan kemudian diluruskan sesuai dengan kewibawaan Al-Qur'an. Dalam sejarah pemikiran muslim, kedua aliran tersebut kemudian menemukan jalan tengahnya, dimulai oleh Al-Ustâdz Al-Imâm yang menyatakan bahwa Al-Qur'an tidak mungkin bertentangan dengan realitas keilmuan yang benar, selanjutnya kalaupun ditemukan "ketidakbenaran" maka fokus verifikasi seharusnya diarahkan kepada pemahaman manusia itu sendiri terhadap Al-Qur'an. Dalam sejarah pemikiran muslim, kedua-dua sekolah itu kemudiannya mendapati sebuah jalan tengah, yang dimulakan oleh Al-Ustâdz Al-Imâm yang menyatakan bahawa Al-Qur'an tidak dapat bertentangan dengan realiti ilmiah yang benar, maka jika "tidak benar" ditemukan maka fokus pengesahan harus diarahkan ke pemahaman manusia mengenai Al-Quran. ('Abduh, 1998: 130). ('Abduh, 1998: 130). Karena itu, Al-Imâm Al-Akbar Mahmûd Syaltût menyatakan bahwa "pemahaman manusia terhadap Islam bukanlah agama yang wajib diikuti". Oleh itu, Al-Imam Al-Akbar Mahmud Syalt berkata bahawa "pemahaman manusia tentang Islam bukan agama mandatori". (Syaltût, 1997: 8) (Syaltût, 1997: 8)
  • Fakta ini bisa dilihat di buku Asbâb Al-Nuzûl karya Imam Al-Wâhidî dal Al-Suyûthî. Fakta ini boleh dilihat dalam buku Asbâb Al-Nuzûl oleh Imam Al-Wâhidî dalam Al-Suyûthî. Pemeriksaan yang teliti akan membuat kita menyimpulkan bahwa sebagian yang amat besar ayat-ayat Al-Qur'an tidak mempunyai sebab dan latarbelakang penurunan, dan bahwasanya sebagian besar ayat yang dikatakan mempunyai sebab dan latarbelakang penurunan, ternyata sanad periwayatannya lemah tidak bisa dijadikan dalil, kalaupun toh sanadnya valid, tetapi indikasinya terhadap (sebab atau latarbelakang) penurunan ayat tidak tegas. Pemeriksaan yang teliti akan membuat kita menyimpulkan bahawa sebahagian besar ayat-ayat Al-Qur'an tidak mempunyai sebab dan latar belakang penurunan, dan bahawa kebanyakan ayat yang dikatakan mempunyai sebab dan latar belakang penurunan, ternyata bahawa penyebaran penyebaran lemah tidak boleh digunakan sebagai argumen, walaupun namun sanad adalah sah, tetapi tanda-tanda untuk (menyebabkan atau latar belakang) penurunan ayat tidak tegas.
  • Di antara akibat destruktif secara teologis yang timbul dari penerimaan tesa ini adalah kemungkinan pembenaran terhadap tuduhan yang menyatakan bahwa Teks ini adalah produk sejarah yang dikreasi oleh seorang "nabi" bernama Muhammad, dan selanjutnya bukan merupakan wahyu yang diturunkan Allah dengan perantaraan malaikat Jibril as. Antara kesan-kesan merosakkan teologi yang timbul daripada penerimaan tesis ini adalah kemungkinan justifikasi untuk tuntutan bahawa teks ini adalah hasil sejarah yang dicipta oleh seorang nabi yang bernama Muhammad, dan kemudiannya tidak wahyu yang diturunkan oleh Allah melalui malaikat Jibril.
  • Perkembangan ilmu-ilmu humaniora modern telah membedakan antara kedua istilah ini. Perkembangan kemanusiaan moden telah membezakan antara dua istilah ini. Dicetuskan oleh Foucault, seorang filsuf Perancis paling legendaris di abad ini, epistéme berarti "keseluruhan yang kompleks daripada premis-premis internal yang dengan kuat mengontrol sebuah produksi pemikiran dalam sebuah fase tertentu tanpa harus tampak jelas di permukaan". Diasaskan oleh Foucault, ahli falsafah Perancis yang paling legenda abad ini, epistem bermaksud "keseluruhan kompleks daripada premis dalaman yang sangat mengawal pengeluaran pemikiran dalam fasa tertentu tanpa harus kelihatan jelas di permukaan". (lihat pengantar Hâsyim Shâlih terhadap edisi bahasa Arab buku Arkoûn, 1995: 7). (lihat pengenalan Hsayim Sahih pada edisi bahasa Arab buku Arko, 1995: 7). Sedangkan metode (manhaj) lebih banyak bersifat teknis, prosedural dan operasional. Manakala kaedah (manhaj) lebih teknikal, prosedur dan operasi. ('Abdul Qâdir, 1999: 239-243) ('Abdul Qâdir, 1999: 239-243)
  • Mengenai indikasi-indikasi schizoprenia ini, silahkan merujuk kepada buku Dr. Mengenai tanda-tanda skizofrenia, sila rujuk kepada Dr. 'Abdul Mun'im al- Hifny, Mawsu'ah Al-Thibb Al-Nafsî, Vol. 'Abdul Mun'im al-Hifny, Mawsu'ah Al-Thibb Al-Nafsî, Vol. II, Maktabah Madboûli, Kairo, 1992, hal. II, Maktabah Madboûli, Kaherah, 1992, ms. 1100-1102. 1100-1102.
Diskusi Lisan dan Teks Tulisan AlQuran Perbincangan Oral dan Teks Al-Quran

Fenomena historis yang kita dapatkan menyatakan bahwa Al-Qur'an telah melewati dua fase kodifikasi, yaitu Fenomena sejarah yang kita dapat menyatakan bahwa Al-Quran telah melalui dua fase kodifikasi, iaitu
  • fase diskursus lisan dan kemudian fasa lisan dan lisan kemudian
  • fase teks tulisan. menulis fasa teks.

Ilmu linguistik modern dan antropologi bahasa banyak membantu kita dalam menjelaskan perbedaan yang menjadi akibat signifikan dari sifat-sifat kedua fase tersebut. Linguistik moden dan antropologi bahasa membantu kita banyak dalam menjelaskan perbezaan yang merupakan hasil signifikan ciri-ciri kedua-dua fasa.

Dengan bantuan kedua ilmu baru itu sebagai perangkat analisis, akan terlihat bahwa praktek operasional rasioning (pola berpemikiran) dan memorizing (pola penyimpanan data) dalam fase yang pertama berbeda sama sekali dengan yang berlangsung pada masyarakat yang sudah mengenal tulisan dan selalu mengaitkan (menyesuaikan) semua aktivitasnya dengan sebuah teks tertulis. Dengan bantuan dua sains baru sebagai alat analisis, dapat dilihat bahawa amalan operasional rasional (corak pemikiran) dan menghafal (corak penyimpanan data) dalam fasa pertama adalah sama sekali berbeza daripada yang berlaku pada orang yang sudah tahu menulis dan selalu mengaitkan (menyesuaikan) semua aktiviti dengan teks bertulis.

Pada fase yang pertama, fenomena historis menunjukkan bahwa Kitab Suci (Al-Qur'an dalam pengertian awal yang dimaksud oleh berbagai ayat Al-Qur'an [2]) adalah sebuah pedoman umum yang masih bersifat alami, terbuka dan inklusif (secara egaliter menjadi milik semua komunitas sahabat yang hidup bersama Nabi saw.). Pada fasa pertama, fenomena sejarah menunjukkan bahawa Kitab Suci (Al-Quran dalam pengertian awal yang disebut oleh berbagai ayat al-Qur'an) adalah garis panduan umum yang masih asli, terbuka dan inklusif (egalitarian dimiliki oleh semua komuniti rakan-rakan yang tinggal bersama Nabi.)
Tetapi sejak didekritkannya "kata akhir" kodifikasi resmi Al-Qur'an yang mengawali fase kedua, pola beragama, berpemikiran dan berperadaban berangsur-angsur berubah. Tetapi sejak pengisytiharan "kata terakhir" kodifikasi rasmi Al-Qur'an yang memulakan fasa kedua, corak agama, pemikiran dan tamadun beransur-ansur berubah.
Ada dua fenomena sejarah yang menarik untuk dicermati: yang Terdapat dua fenomena sejarah yang menarik untuk diperhatikan:

  • pertama, adalah banyaknya para sahabat besar "pembawa" Al-Qur'an yang meninggal dunia ataupun mati syahid di medan penegakan agama Islam, dan yang pertama, terdapat banyak sahabat "pembawa" al-Qur'an yang mati atau syahid dalam bidang menegakkan agama Islam, dan siapa
  • kedua dimusnahkannya naskah-naskah tertulis lain dan ditutupnya kemungkinan perubahan selanjutnya, demi mencegah terjadinya perpecahan dan perbedaan pendapat tentang legitimasi dan validitas ayat-ayat dan surat-surat yang tercantum dalam "Mushaf". pemusnahan kedua teks bertulis lain dan penutupan kemungkinan perubahan selanjutnya, untuk mengelakkan berlakunya perpecahan dan perbezaan pendapat mengenai legitimasi dan kesahihan ayat-ayat dan huruf-huruf yang disenaraikan dalam "Manuskrip".

Pada saat itulah Al-Qur'an menjadi sebuah "Teks Tertulis yang Tertutup". Itulah ketika Al-Qur'an menjadi "Teks Tertulis Tertutup".

Faktor-faktor sosio-politis yang terjadi kemudian membuat perbedaan tersebut terasa makin membesar dan bertambah signifikan, apalagi kalau mengingat jauhnya jarak waktu yang memisahkan keduanya, yaitu masa kerasulan dan masa pemerintahan Khalifah III, 'Utsmân ibn 'Affân. Faktor-faktor sosio-politik yang berlaku kemudian membuat perbezaan itu menjadi lebih besar dan lebih penting, terutama ketika mempertimbangkan jarak waktu yang memisahkan keduanya, yaitu masa apostolik dan pemerintahan Khalifah III, 'Utsmân ibn' Affân.

Proses sejarah selanjutnya menunjukkan kristalisasi akibat langsung atau tidak langsung daripada kodifikasi tertulis di atas yang sampai saat ini harus kita tanggung, mau ataupun tidak mau. Proses sejarah kemudiannya memperlihatkan penghabluran hasil langsung atau tidak langsung dari kodifikasi yang ditulis di atas yang mana kita harus bertahan, sama ada kita mahu atau tidak. Al-Qur'an kemudian dipolitisir oleh kekuasaan (dengan representasinya: "kekhalifahan" Bani Umayyah dan 'Abbâsîyah), dengan memonopoli penafsiran yang "benar" dan mengabsolutkannya (sakralisasi) [3]. Al-Quran kemudiannya dipolitikkan oleh kuasa (dengan perwakilannya: "Khalifah" Umayyad dan 'Abbâsîyah), dengan memonopoli tafsiran "betul" dan mengutipkannya (sacralization) [3].

Dalam dataran akar rumput, terjadi juga pergeseran yang paralel. Di akar umbi, peralihan selari berlaku. Kalau pada Jika dihidupkan
  • fase awal, Al-Qur'an dibaca, dihafalkan, dipahami dan diinterpretasi secara bebas dan terbuka oleh seluruh anggota komunitas sahabat, maka pada fasa awal, Al-Qur'an dibaca, diingat, difahami dan ditafsirkan secara bebas dan terbuka oleh semua anggota komuniti rakan-rakan, jadi dalam
  • fase kedua, semua anggota komunitas mendapatkan kesempatan/ akses untuk membacanya kapanpun dan dimanapun, tetapi dalam posisi intelektual yang sudah berubah: mayoritas yang teramat dominan di antara mereka hanya melakukannya sebatas sebagai sebuah manifestasi ibadah ritual. fasa kedua, semua anggota masyarakat mendapat peluang / peluang untuk membacanya pada bila-bila masa dan di mana sahaja, tetapi dalam kedudukan intelektual yang telah berubah: majoriti dominan yang sangat besar di kalangan mereka hanya melakukannya sebagai manifestasi penyembahan ritual.

Pada fase kedua ini, sadar ataupun tidak sadar, dan dalam proses yang berlangsung berangsur-angsur, hak (lebih tepatnya: kemampuan dan legitimasi) untuk memahami dan menginterpretasi dengan "benar" menjadi terbatas pada sekelompok orang terdidik (ash-hâb al-tsaqâfah al-'âlimah al-kâtibah) yang terdiri dari para pegawai negara dan agamawan yang mendapat sokongan dari negara ataupun, paling tidak, diberi hak hidup dan berpendapat oleh kekerasan kekuasaan, begitu juga orthodoksi keagamaan yang terdiri dari para fuqaha' dan ahli ilmu Kalam yang mendapat legitimasi dari negara. Dalam fasa kedua ini secara sedar atau tidak sedar, dan dalam proses yang beransur-ansur, hak (lebih tepatnya: keupayaan dan keabsahan) untuk memahami dan mentafsirkan "betul" adalah terhad kepada sekumpulan orang yang berpendidikan (ash-hâb al-tsaqâfah al -'âlimah al-kâtibah) yang terdiri daripada pegawai negeri dan ahli agama yang mendapat sokongan dari negeri atau sekurang-kurangnya diberikan hak untuk hidup dan berdebat dengan keganasan kekuasaan, serta ortodoksi keagamaan yang terdiri daripada ahli-ahli hukum dan pakar Kalam yang mendapat legitimasi negara.

Tentu saja legitimasi ini tidak dengan gratis diberikan begitu saja, karena alat bargaining yang dilakukan adalah kerjasama mutualistik untuk melenyapkan aspirasi sempalan yang membahayakan kelangsungan kekuasaan dan pendapat yang berbeda dengan ideologi keagamaan yang hegemonik. Sudah tentu legitimasi ini tidak diberikan secara percuma, kerana alat tawar-menawar yang dilakukan adalah kerjasama mutualis untuk menghilangkan aspirasi serpihan yang membahayakan kesinambungan kuasa dan pendapat yang berbeda dengan ideologi keagamaan hegemoni.

Sayang sekali, kenyataan ini (berikut dengan akibat langsung dan tidak langsungnya) tidak mendapatkan porsi yang mencukupi dalam kesadaran berpemikiran kita, dan sayang sekali lobang-lobang historis yang ada di sana-sini dianggap telah tertambalkan oleh beberapa dogma ideologis-teologis yang diberikan sebagai "kata akhir" oleh orthodoksi keagamaan dan cenderung dipolitisir untuk kepentingan kekuasaan [4]. Malangnya, fakta ini (bersama-sama dengan akibat langsung dan tidak langsung) tidak mendapat bahagian yang mencukupi dalam kesedaran pemikiran kita, dan malangnya lubang-lubang sejarah di sini dan dianggap telah ditoreh oleh beberapa dogma ideologi-teologi yang diberikan sebagai " kata akhir "oleh ortodoki agama dan cenderung dipolitikkan demi kuasa [4].

Tidak heran kalau pada akhirnya Arkoûn menyuarakan kesedihannya bahwa ummat Islam lebih suka berlindung di balik penyelesaian akhir yang tidak hakiki (quasi problem solving) dalam menyikapi persoalan-persoalan teologisnya karena tidak mempunyai keberanian untuk merambah dataran hakikat yang terlihat menakutkan dan bisa membakar siapapun yang berani menjamahnya. Tidak hairanlah bahawa pada akhirnya Arkoûn menyuarakan kesedihannya bahawa ummah Islam lebih suka berlindung di belakang penyelesaian akhir yang tidak penting (penyelesaian masalah kuasi) dalam menangani masalah teologi kerana mereka tidak mempunyai keberanian untuk menembusi kawasan tanah yang kelihatan menakutkan dan boleh membakar sesiapa yang berani menyentuhnya . (Arkoûn, 1992: passim) (Arkoûn, 1992: passim)

Sampai di sini kita melihat urgensi dilakukannya penelusuran arkeologis dalam upaya interpretasi kita terhadap Teks Transendental ini, dengan mengedepankan upaya perujukan kembali kepada semangat intelektual yang pernah dieliminir dahulu dan masih terasa dampaknya sampai sekarang: keterbukaan, pluralitas, inklusifitas, populitas dan toleransi. Hingga kini, kita melihat segera penyiasatan arkeologi dalam konteks tafsiran kita tentang Teks Transcendental, dengan mengutamakan usaha perdamaian kepada semangat intelektual yang pernah dihapuskan dan kesannya masih dirasakan hari ini: keterbukaan, pluralitas, keterangkuman, populiti dan toleransi.

Karena itulah yang sesuai dengan makna transendentalitas Al-Qur'an yang merupakan Kalam Allah dan bukan merupakan makhluq (baca: "Umm Al-Kitâb" sesuai dengan pengertian yang terkandung dalam firman Allah: "Dan sesungguhnya Al-Qur'an itu ada dalam 'Umm Al-Kitâb' di sisi Kami dan sungguh [Al-Qur'an itu] sangat tinggi kedudukannya [transendental] dan amat banyak mengandung hikmah) [5]. (QS. Al-Zukhruf: 4) Kerana itu sesuai dengan makna transcendentitas Al-Qur'an yang merupakan Kalam Allah dan bukanlah suatu objek (baca: "Umm Al-Kitâb" sesuai dengan pemahaman yang terkandung dalam firman Allah: "Dan sesungguhnya al-Qur'an ada di dalam ' Umm Al-Kitâb 'di sisi Kami dan sesungguhnya [Al-Qur'an] sangat transenden dan mengandungi banyak kebijaksanaan. "[QS Al-Zukhruf: 4]

Surah Az-Zukhruf - سورة الزخرف Surah Az-Zukhruf - سورة الزخرف

[ 43:4 ] - Ini adalah sebahagian dari keseluruhan surah. [ 43: 4 ] - Ini adalah sebahagian dari seluruh surah. [Papar keseluruhan surah] [Tunjukkan seluruh surah]


43:4 43: 4

43_4 Dan sesungguhnya Al-Quran itu dalam Ibu Suratan di sisi Kami - sangat tinggi (kemuliaannya), lagi amat banyak mengandungi hikmat-hikmat dan kebenaran yang tetap kukuh. Dan sesungguhnya Al-Quran di Ibu Suratan di sisi Kami - sangat tinggi (kemuliaan), sekali lagi mengandungi banyak kebijaksanaan dan kebenaran yang tetap teguh.
( Az-Zukhruf 43:4 ) | ( Az-Zukhruf 43: 4 ) | <Embed> <Embed> | | English Translation Terjemahan Bahasa Inggeris | | Tambah Nota Tambah Nota | | Bookmark Bookmark | | Muka Surat 489 - ٤٨٩ Surat Muka 489 - 489


Dengan semangat inklusiftas ini kita memulai penelusuran kita selanjutnya untuk sampai kepada jawaban dari pertanyaan mendasar: bagaimana Al-Qur'an berinteraksi dengan perubahan realita?[6] Dengan semangat inklusif ini, kita memulakan pencarian seterusnya untuk sampai kepada jawapan kepada soalan asas: bagaimana Qur'an berinteraksi dengan perubahan dalam realiti? [6]
Al-Qur'an dan Realita Al-Quran dan Realiti

Ayat-ayat Al-Quran Yang Diturunkan Allah Merupakan Sebuah Kumpulan Wahyu Yang Utuh Untuk Memenuhi ataupun Menolak Realita Ayat-ayat Al-Quran yang diturunkan oleh Allah adalah koleksi seluruh wahyu untuk memenuhi atau menolak realiti


Sungguhpun Al-Qur'an diturunkan secara berangsur-angsur selama 23 tahun masa kenabian, (tentang masa penurunan wahyu ini, bisa dilihat secara mendetail dalam Al-Zarqânî, 1988: 53 et seqq). Walaupun Al-Qur'an secara beransur-ansur diturunkan selama 23 tahun kenabian, (mengenai masa penurunan dalam wahyu ini, dapat dilihat secara terperinci dalam Al-Zarqânî, 1988: 53 et seqq). Tidak dengan sendirinya kenyataan ini memperkuat tesa sementara pemikir seperti Nashr Hâmid Abû Zayd yang menyatakan bahwa Al-Qur'an diturunkan sesuai dan lebih dari itu berdasarkan realita. Fakta ini tidak dengan sendirinya menguatkan tesis temporal pemikir seperti Nashid Imam Zayd yang menyatakan bahawa Al-Qur'an telah diturunkan mengikut dan lebih daripada itu berdasarkan realiti. Abû Zayd menulis: Abû Zayd menulis:

"Sesungguhnya ilmu Asbâb Al-Nuzûl membekali kita dengan fakta-fakta yang memperlihatkan kepada kita bahwa Teks ini (diturunkan) untuk memenuhi atau menolak tuntutan realita, dan menegaskan adanya relasi 'dialog' dan 'dialektika' antara Teks itu dan realita. Sesungguhnya data-data empiris faktual menegaskan bahwa Teks tersebut diturunkan secara berangsur-angsur selama 20 tahun lebih, sebagaimana menegaskan bahwa setiap ayat, atau sekelompok ayat mempunyai suatu latar belakang tersendiri yang membuatnya diturunkan, kemudian bahwasanya ayat-ayat yang turun dengan sendirinya tanpa mempunyai sebab dan latar belakang adalah sangat sedikit sekali". "Sesungguhnya pengetahuan Asbab Al-Nuzûl memberi kita fakta-fakta yang menunjukkan kepada kita bahawa Teks ini (diturunkan) untuk memenuhi atau menolak tuntutan realiti, dan menegaskan kewujudan" dialog "dan" dialektik "hubungan antara Teks dan realiti. data empirikal fakta mengesahkan bahawa teks itu secara beransur-ansur diluluskan lebih dari 20 tahun, kerana ia menegaskan bahawa setiap ayat, atau kumpulan ayat mempunyai latar belakang yang berasingan yang menjadikannya turun, maka ayat-ayat yang jatuh dengan sendirinya tanpa sebab dan latar belakang sangat sedikit ". (Abû Zayd, 1994: 97) (Abû Zayd, 1994: 97)

Ternyata, tesa ini tidak sesuai dengan fenomena yang ada di hadapan kita. Ternyata, tesis ini tidak sesuai dengan fenomena yang ada di hadapan kita.

Di antara jumlah total ayat Al-Qur'an yang mencapai 6236 ayat, hanya ada 472 ayat yang mempunyai sebab dan latarbelakang [7]. Di antara jumlah ayat-ayat Al-Qur'an yang mencapai 6236 ayat, terdapat hanya 472 ayat yang mempunyai sebab dan latar belakang [7].

Kalaupun boleh dielaborasikan kepada riwayat-riwayat yang lemah, jumlah maksimal yang bisa diperoleh hanya 888 ayat saja. Walaupun ia dapat dihuraikan pada sejarah yang lemah, jumlah maksimum yang boleh diperoleh hanyalah 888 ayat. (Muhammad, 1996: 93) (Muhammad, 1996: 93)

         
Karena itu, tesa ini tidak mencukupi untuk dijadikan premis minor daripada teori "dialog Teks Al-Qur'an dengan realita". Oleh itu, tesis ini tidak mencukupi untuk dijadikan premis kecil dan bukannya teori "Teks dialog Al-Quran dengan realiti".

Hingga kita sampai kepada efek aksiomatis yang seharusnya diambil: Sehingga kita sampai kepada kesan axiomatik yang sepatutnya diambil:
  • pertama, bahwasanya Al-Qur'an dari awal kejadiannya merupakan sebuah kumpulan yang utuh, meskipun tidak diturunkan langsung sekaligus, (inilah yang kita sebut sebagai wujud metafisik Al-Qur'an sesuai dengan pengertian yang disampaikan oleh Kant dan - sayang sekali - bukan menjadi pembahasan kita dalam kesempatan yang sempit ini) dan yang pertama, bahawa Al-Quran dari penubuhannya adalah pengumpulan utuh, walaupun ia tidak langsung terungkap sekaligus, (inilah yang kita sebut bentuk metafisis Al-Qur'an sesuai dengan pemahaman yang disampaikan oleh Kant dan - sayangnya - tidak perbincangan kita mengenai peristiwa sempit ini) dan siapa
  • kedua bahwasanya argumentasi alternatif - yang kuat dan tidak mengandung akibat destruktif secara teologis[8] - haruslah dikedepankan, untuk membuktikan relevansi Teks Al-Qur'an dengan perubahan konteks personal, ruang dan waktu. yang kedua ialah hujah-hujah alternatif - yang kuat dan tidak mengandungi akibat-akibat yang merosakkan teologi [8] - harus dikemukakan, untuk membuktikan keterkaitan Teks Alquran dengan perubahan dalam konteks peribadi, ruang dan waktu.

Maka tidak ada pilihan lain untuk mendapatkan argumentasi alternatif tersebut selain menoleh "ke dalam" Al-Qur'an itu sendiri untuk yang pertama dan selanjutnya (yang kedua) kepada faktor ekternal berupa mesin pembacanya (man behind the gun-nya) dengan cara merumuskan epistéme dan metode pendekatan yang lebih mencerahkan [9]. Maka tidak ada pilihan lain untuk mendapatkan hujah alternatif daripada mengubah "ke" Al-Qur'an itu sendiri untuk yang pertama dan seterusnya (kedua) kepada faktor luaran dalam bentuk mesin bacaan (lelaki di belakang pistol) dengan merumuskan epistem dan pendekatan yang lebih mencerahkan [9].

Logika Presentasi Al-Qur'an Logik Penyampaian Al-Quran


Bagaimana Al-Qur'an menampilkan dirinya? Bagaimanakah Al-Quran hadir sendiri?

Sebagaiamana dikatakan di atas, Al-Qur'an menggunakan sebuah sistem/ paradigma semiotik dan filsafatis yang integral. Seperti yang dinyatakan di atas, Al-Qur'an menggunakan sistem / paradigma semiotik dan falsafah yang penting.

Inilah yang dibahas secara khusus dan dengan amat berhasil oleh Sayyid Quthb dalam Al-Tashwîr Al-Fannî. Ini dibincangkan secara khusus dan sangat berjaya oleh Sayyid Qutb di Al-Tashwîr Al-Fannî. Beliau menyatakan: "Al-Qur'an mempresentasikan dirinya dengan sebuah cara integral yang digunakannya untuk semua keperluan/tujuan, termasuk dalam pembuktian intelektual dan perdebatan. Itulah (yang kita sebut sebagai) penggambaran sastra dengan menggunakan imajinasi dan personifikasi". Beliau menyatakan: "Al-Qur'an memperlihatkan dirinya dengan cara yang tidak terpisahkan yang digunakan untuk semua tujuan / tujuan, termasuk dalam bukti intelektual dan perdebatan. Itulah (yang kita sebut sebagai) penggambaran sastera dengan menggunakan imaginasi dan perwujudan". (Quthb, 1993a: 239) (Qutb, 1993a: 239)
 
Struktur Al-Qur'an Struktur Al-Quran

Keunikan Struktur Al-Qur'an Keistimewaan struktur al-Qur'an


Teks tertulis Al-Qur'an yang ada di hadapan kita sekarang terdiri 6236 ayat, 114 surat dan 30 juz. Teks tulisan Al-Quran yang ada di hadapan kita sekarang terdiri daripada 6236 ayat, 114 surat dan 30 juz. Mengenai strukturnya, Arkoûn menulis: Mengenai struktur, Arkoûn menulis:

...Sesungguhnya termasuk sulit untuk mendeskripsikan secara definitif kontentum ataupun isi daripada Al-Qur'an. ... Sesungguhnya, sukar untuk menggambarkan kandungan atau kandungan Al-Qur'an secara pasti. Kesulitan ini timbul karena kita terancam akan terjatuh secara langsung ke dalam cara penafsiran lama dan bayangan imajiner (bawahsadar) keagamaan tradisional. Kesukaran ini timbul kerana kita diancam jatuh secara langsung ke arah tafsiran lama dan bayangan khayalan (di bawah kesedaran) agama tradisional.

Ditambah lagi, kita sendiri mengetahui bahwasanya sistematika penyusunan surat dan ayat dalam 'Mushaf' (Teks tertulis Al-Qur'an) tidak mengikuti urutan kronologis yang sebenarnya, tidak juga mengikuti norma rasio ataupun logika tertentu. Di samping itu, kita sendiri tahu bahawa penyediaan surat dan ayat-ayat dalam sistematik 'Manuskrip' (teks tulisan Al-Quran) tidak mengikuti susunan kronologi yang sebenarnya, dan tidak mengikuti norma-norma nisbah atau logik tertentu. Karena itu, bagi cara berpikir modern kita yang terbiasa dengan metode penulisan karangan yang sudah baku berdasarkan tuntutan logika, maka teks Mushaf tersebut berikut dengan sistematika penyusunannya akan membuat kita terheran-heran karena 'kekacauannya'. Oleh itu, untuk pemikiran moden kita yang biasa dengan kaedah penulisan piawai berdasarkan tuntutan logik, teks Manuskrip dan penyediaannya yang sistematik akan mengagumkan kita kerana 'kekacauan'nya.

Tetapi saya telah menjelaskan, dalam beberapa kajian yang lalu, bahwa di dalam "kekacauan" itu tersembunyi sebuah sistem semantik dan semiotika yang sangat dalam. Tetapi saya telah menjelaskan, dalam beberapa kajian sebelumnya, bahawa dalam "kekacauan" tersembunyi sistem semantik dan semiotik yang sangat dalam. Karena itu, seharusnyalah kita menyingkap tipologi diskursus yang digunakan dalam Al-Qur'an. Oleh itu, kita perlu mendedahkan tipologi wacana yang digunakan dalam Al-Qur'an. Inilah yang saya lakukan dengan mengklasifikasikan dalam lima tipe, yaitu: diskursus kenabian, diskursus hukum, diskursus deskripsi cerita, diskursus kata-kata hikmah dan peribahasa, serta diskursus do'a-do'a dan puji-pujian." (Arkoûn, 1992: 90-91) Inilah yang saya lakukan dengan mengklasifikasikan dalam lima jenis, iaitu: wacana kenabian, wacana hukum, wacana penjelasan kisah, wacana kebijaksanaan dan kata-kata pepatah, dan wacana doa dan pujian. " (Arkoûn, 1992: 90-91)

Meskipun klasifikasi tipologis di atas dirasa sudah mencukupi, adalah lebih baik kalau kita memodifikasi, merevisi nama/istilahnya dan menambahkan beberapa tipologi yang lain seperti: diskursus teologi dan kenabian, diskursus hukum syari'at, diskursus cerita dan deskripsi sejarah, diskursus petunjuk-petunjuk etis, diskursus puja-pujian, diskursus doa'a-doa, dan seterusnya. Walaupun klasifikasi tipologi di atas dianggap mencukupi, lebih baik jika kita mengubah suai, mengubah nama / istilah dan menambah beberapa tipologi lain seperti: wacana teologi dan nubuatan, wacana undang-undang Syariah, wacana cerita dan penerangan sejarah, wacana tentang petunjuk etika , memuji wacana, wacana doa-doa, dan sebagainya.

Terlepas dari keabsahan klasifikasi tipologis di atas, dalam prakteknya, kesatuan unit-unit di dalam Al-Qur'an membuat kita harus tunduk kepada kekuatan relativitas yang tidak tertahan. Selain daripada kesahihan klasifikasi tipologi di atas, dalam praktiknya, kesatuan unit-unit dalam Al-Qur'an menjadikan kita harus tunduk kepada kuasa relativiti yang tidak terkawal. Dalam artian, ada keunikan tersendiri dalam relasi antara unit-unit parsial dalam Al-Qur'an dan aspek integralitasnya, hingga tidak mungkin memastikan item-item yang termasuk dalam satu tipikal cabang klasifikasi, karena setiap ayat selalu dapat dimasukkan ke dalam beberapa tipikal diskursus yang saling berkelindan. Dalam erti kata itu, terdapat keunikan tersendiri dalam hubungan antara unit-unit separa dalam Al-Qur'an dan aspek integritinya, sehingga mustahil untuk memastikan item yang termasuk dalam klasifikasi ciptaan yang tipikal, karena setiap ayat dapat selalu dimasukkan dalam beberapa wacana yang khas bersambung.

Sebagaimana kita tidak bisa memberikan sebuah perlakuan khusus kepada satu tipikal tertentu yang membedakannya dengan tipikal-tipikal yang lain. Kerana kita tidak dapat memberikan rawatan khas kepada jenis tertentu yang membezakannya dari orang lain yang biasa. Inilah semangat Al-Qur'an yang selalu dipraktekkan secara hidup oleh ummatnya dalam kehidupan mereka sehari-hari. Inilah semangat Al-Qur'an yang sentiasa diamalkan oleh ummah dalam kehidupan seharian mereka.

Memang, beberapa fuqaha telah mengumpulkan ayat-ayat yang berkenaan dengan hukum Islam dan membedakannya dengan ayat-ayat yang lain. Malah, beberapa ahli hukum telah mengumpul ayat-ayat yang berkaitan dengan undang-undang Islam dan membezakannya dari ayat-ayat lain. Tetapi, tidak pernah terdetik sekalipun dalam pikiran mereka bahwa Al-Qur'an adalah sebuah kitab suci yang terbagi-bagi secara terpisah ataupun terpecahbelah berserakan berdasarkan spesialisasi keilmuan dan bidang pembahasan. Walau bagaimanapun, ia tidak pernah dirakamkan walaupun dalam fikiran mereka bahawa Al-Qur'an adalah kitab suci yang dibahagikan berasingan atau berpecah berdasarkan pengkhususan saintifik dan bidang perbincangan. (Arkoûn, 1996: 218-219) (Arkoûn, 1996: 218-219)

Terlepas dari integralitas metafisik Al-Qur'an yang dengan sengaja tidak kita bahas lebih jauh sebagai sebuah aspirasi metodologis, integralitas tersebut bisa dirasakan juga dengan meninjaunya dari sudut pandang ilmu Semiotika. Selain daripada integriti metafizik Al-Qur'an yang kita sengaja tidak membincangkan lebih lanjut sebagai aspirasi metodologi, integriti ini juga dapat dirasakan dengan mengkaji semula dari perspektif Semiotik.

Semua bagian Al-Qur'an memfungsikan dirinya dalam peranan sebagai wahyu. Semua bahagian fungsi Alquran dalam peranan sebagai wahyu.

Ini terlihat karena semuanya tunduk kepada struktur grammatika yang sama dalam bentuk figur-figur dan kata-kata gantinya. Ini dilihat kerana semuanya tertakluk kepada struktur tatabahasa yang sama dalam bentuk angka dan kata-kata.

Yang pertama, terdapat Dzat Ketuhanan yang mengekspresikan dirinya dengan kata ganti pembicara tunggal dan terkadang pula dengan menggunakan kata ganti pembicara kolektif: Ana/Nahnu. Yang pertama, terdapat Essence of Godhead yang mengekspresikan diri dengan kata ganti pembicara tunggal dan kadang-kadang juga dengan menggunakan kata ganti akrilik kolektif: Ana / Nahnu.

Kata ganti ini kemudian mengarahkan pembicaraannya dengan menggunakan kata perintah (qul) kepada figur kedua (Muhammad) untuk disampaikan dan dikomunikasikan kepada kata ganti orang ketiga kolektif: hum (ummat manusia). Kata ganti ini kemudian mengarahkan perbualannya dengan menggunakan kata arahan (qul) kepada angka kedua (Muhammad) untuk disampaikan dan disampaikan kepada kata ganti orang kolektif ketiga: hum (manusia ummah).

Kelompok yang terakhir ini bisa dibagi menjadi dua pihak, yang umumnya menggunakan kata ganti orang kedua kolektif (antum) untuk orang-orang yang beriman dan kata ganti orang ketiga kolektif (hum) untuk orang-orang kafir. Kumpulan yang terakhir ini boleh dibahagikan kepada dua pihak, yang biasanya menggunakan kata ganti kolektif kedua (antum) bagi orang yang beriman dan kata ganti orang ketiga (hum) bagi orang yang tidak percaya.

Inilah ruangan komunikasi penyampaian wahyu (fadlâ' al-tawasshul wa al-tawshîl) sebagaimana yang bisa kita tilik secara grammatikal dalam diskursus Al-Qur'an. Ini adalah ruang komunikasi untuk penyampaian wahyu (fadlâ 'al-tawasshul wa al-tawshîl) kerana kita dapat melihat secara gramatikal dalam wacana al-Qur'an.

Sampai dalam ayat-ayat yang bersifat keduniaan pun, seperti tatacara pewarisan dan zakat, juga tetap dihubungkan dengan Dzat Ketuhanan dalam bentuk kata ganti orang pertama tunggul/kolektif. Malah dalam ayat-ayat duniawi, seperti peraturan warisan dan zakat, ia juga berkaitan dengan Ilahi Ilahi dalam bentuk tunggul / kolektif orang pertama.

Kata ganti orang pertama ini merepresentasikan pembicara yang menurunkan risalah dan menerima risalah dalam waktu yang sama. Kata ganti orang pertama ini mewakili penceramah yang menghantar minit dan menerima minit pada masa yang sama. (Arkoûn,1992: 91) (Arkoûn, 1992: 91)

Kesadaran kita tentang keunikan struktur Al-Qur'an sebagaimana dipaparkan di atas akan membantu kita untuk merambah tataran epistemologis interpretasi Al-Qur'an dengan "mata yang terbuka". Kesedaran kita mengenai keunikan struktur Al-Qur'an seperti yang diterangkan di atas akan membantu kita meneroka tahap tafsiran al-Quran epistemologi dengan "mata terbuka".
 
Episteme dan Metodologi Interpretasi AlQuran Episteme dan Metodologi Interpretasi Al-Quran

Epistéme Penafsiran Al-Qur'an Epistéme Tafsiran Al-Qur'an


Ada beberapa terminologi prinsipil yang seharusnya diperhatikan dan membayangi alam bawahsadar seorang interpreter Al-Qur'an, antara lain: Ada beberapa istilah utama yang perlu dipertimbangkan dan membayangi kesedaran jurubahasa Al-Qur'an, termasuk:

  • Anakronisme Anachronisme
  • Intertekstualitas Intertextuality
  • Historisitas Bersejarah
  • Interpretasi Tafsiran

Episteme dan Metodologi Interpretasi Al-Quran


Anakronisme (al-mughâlathah al-târîkhîyah atau al-isqâth) Anachronisme (al-mughâlathah al-târîkhîyah atau al-isqâth)


Dalam idiom tradisional, terminologi ini mempunyai kemiripan dengan postulat "tahmîl Al-Qur'an bimâ lâ yatahammaluhû". Dalam idiom tradisional, istilah ini menonjolkan persamaan dengan "al-Quran ummilim bimâ lâ yatahammaluhû".

Anakronisme biasa disebabkan oleh bias-bias ideologis, teologis dan antropologis. Anachronisme biasa disebabkan oleh bias ideologi, teologi dan antropologi. Sebagaimana tindakan yang anakronistik bisa terjadi di saat seorang penafsir tidak menggunakan metode ilmiyah yang valid ataupun terjerumus dalam malapraktek penerapan sebuah merode ilmiyah yang benar sekalipun, baik sadar ataupun tidak sadar. Sebagai tindakan anakronistik boleh berlaku apabila jurubahasa tidak menggunakan kaedah saintifik yang sah atau jatuh ke dalam penyelewengan penerapan metodologi pengetahuan yang benar, baik sadar dan tidak sedarkan diri.

Intertekstualitas (al-tanâsh) Intertextuality (al-tanâsh)


Dalam idiom tradisional, terminologi ini mempunyai kemiripan dengan postulat yang berbunyi: "al-âyât al-Qur'ânîyah tufassir ba'dluhû ba'dlâ". Dalam idiom tradisional, istilah ini mempunyai persamaan dengan postulat yang berbunyi: "al-tâtt al-Qur'ânîyah tufassir ba'dluhû ba'dlâ".

Dalam masa-masa yang akan datang, penafsiran intertekstual seharusnya tidak dibatasi kepada teks-teks suci ortodoks saja, seperti buku-buku hadîts dan Asbâb Al-Nuzûl. Pada masa akan datang, tafsiran intertekstual tidak boleh dihadkan kepada teks-teks suci ortodoks, seperti buku-buku hadits dan Asbâb Al-Nuzûl. Tiba saatnya untuk mengelaborasikannya kepada teks-teks profan lain, baik sebagai referensi inti maupun penunjang. Sudah tiba masanya untuk menghuraikan teks-teks kasar lain, baik sebagai teras dan rujukan rujukan.

Historisitas, dekontruksi dan arkeologi pemikiran Sejarah, dekonstruksi dan pemikiran arkeologi


Ada kesalahpahaman yang mencekam terhadap istilah historisitas (al-târîkhîyah) apabila digunakan sebagai media bantu analisis terhadap sebuah teks kitab suci yang dalam hal ini adalah Al-Qur'an. Terdapat kesalahpahaman tegang tentang istilah bersejarah (al-târîkhîyah) apabila ia digunakan sebagai medium untuk membantu menganalisis teks suci dalam kes ini Al-Qur'an.

Meskipun bisa jadi benar untuk kasus sementara pemikir, penggunaan istilah ini dengan serta merta mengundang tuduhan bahwa yang bersangkutan mempunyai asumsi riskan bahwa Al-Qur'an adalah produk sejarah dan dengan sendirinya bukan merupakan wahyu sakral yang diturunkan oleh Allah SWT dengan perantaraan malaikat Jibril. Walaupun memang benar untuk pemikir sementara, penggunaan istilah ini segera memanggil tuduhan bahawa orang itu mempunyai anggapan yang berisiko bahawa Al-Qur'an adalah hasil sejarah dan bukannya wahyu suci yang diturunkan oleh Allah SWT melalui malaikat Jibril.

Sejatinya, historisitas berarti menampakkan unsur-unsur faktual dalam sejarah sebuah kitab suci sebagaimana yang benar-benar terjadi, apa adanya. Sebenarnya, bersejarah bermakna mendedahkan unsur-unsur faktual dalam sejarah kitab suci kerana ia benar-benar dilakukan, kerana ia adalah. Yakni, sejarah dalam pengertian non-skolastik; Iaitu, sejarah dalam akal bukan skolastik; sejarah dalam pengertian keadaan, situasi dan kondisi yang ada dan terjadi pada suatu fase kehidupan tertentu ataupun yang berlangsung terhadap "sesuatu" yang tertentu pula dalam beberapa fase sejarah. sejarah dari segi keadaan, keadaan dan keadaan yang wujud dan berlaku dalam fasa tertentu atau yang berlaku terhadap "perkara" tertentu juga dalam beberapa fasa sejarah.

Karena itu, penggunaan aspek historisitas sebagai media bantu analisis tidak bisa dilepaskan dari dua terminologi konseptual lain, yaitu dekonstruksi dan arkeologi. Oleh itu, penggunaan aspek bersejarah sebagai media untuk analisis tidak boleh dipisahkan dari dua terminologi konseptual lain, iaitu dekonstruksi dan arkeologi.

Dekonstruksi (al-tafkîk) tidaklah bisa disamakan dengan destruksi (al-hadm). Deconstruction (al-tafkîk) tidak boleh disamakan dengan kemusnahan (al-hadm). Istilah ini dirumuskan oleh Jacques Derrida untuk menemukan inti penggerak yang tersembunyi dalam sebuah bangunan pemikiran. Istilah ini dirumuskan oleh Jacques Derrida untuk mencari teras pemanduan tersembunyi di dalam bangunan pemikiran. (Mengenai yang bersangkutan, bisa dilihat dalam kamus filsuf yang disusun oleh George Tharabaysyi, Dâr Al-Thalî'ah, Beirut, cet. II, 1997) (Bagi mereka yang berkenaan, boleh dilihat dalam kamus ahli falsafah yang disusun oleh George Tharabaysyi, Dar Al-Thalî'ah, Beirut, cet. II, 1997)

Terminologi ini semakin bertambah penting setelah Michél Foucault dengan sangat jenius berhasil menemukan sebuah terminologi konseptual yang lain yaitu "arkeologi pemikiran". Istilah ini semakin penting selepas Michél Foucault sangat genius berjaya mencari terminologi konsep lain iaitu "arkeologi pemikiran". Intinya: karena timbunan sejarah yang semakin meninggi, maka sebuah materi pemikiran (baik berupa fakta sejarah, piranti pemikiran yang melahirkan berbagai teori, konfigurasi-konfigurasi ideologis, struktur imajiner, sistem keimanan dan epistéme, dll) baru bisa dicapai setelah melalui penggalian yang dilakukan terhadap lapisan-lapisan "bumi" sejarah. Intinya: kerana peningkatan tumpuan sejarah, pemikiran material (baik dalam bentuk fakta sejarah, alat pemikiran yang melahirkan pelbagai teori, konfigurasi ideologi, struktur khayalan, sistem iman dan epistem, dll.) Hanya dapat dicapai setelah penggalian lapisan "bumi" bersejarah.

Interpretasi sinkronik dan diakronik Tafsiran sejajar dan diakronik


Ilmu linguistik modern telah merumuskan adanya interpretasi/pola pandang sinkronik (synchronique, al-tazâmunîyah) dan interpretasi/pola pandang diakronik (diachronique, al-tathawwurîyah al-târîkhîyah). Linguistik moden telah merumuskan kewujudan pandangan / corak segerak (synchronique, al-tazâmunîyah) dan tafsiran / corak diakronik (diachronique, al-tathawwurîyah al-târîkhîyah).

Interpretasi sinkronik berarti "bacaan" yang identik sama dengan yang dilakukan pada pada masa lahirnya sebuah teks. Tafsiran ringkas bermaksud "membaca" yang sama dengan apa yang telah dilakukan pada masa kelahiran teks. Yakni sebuah pola bacaan yang berusaha untuk kembali ke garis belakang, ke masa munculnya sebuah teks, untuk bisa membaca kosa kata dan struktur kalimatnya sesuai dengan pengertian makna yang menghegemonik pada saat itu, dan bukan dengan pengertian yang dikenal saat ini. Itulah corak pembacaan yang cuba kembali ke barisan belakang, pada masa munculnya teks, dapat membaca struktur kosa kata dan kalimat sesuai dengan makna makna yang hegemonik pada masa itu, dan bukan dengan pemahaman yang diketahui hari ini. Pola interpretasi ini adalah antonim dari interpretasi anakronik yang dengan sadar atau tidak sadar menjerumuskan pembacanya ke dalam kesalahan historis, dengan memaksakan pengertian-pengertian yang berasal dari zaman dan waktu yang lain kepada sebuah teks. Corak tafsiran ini adalah antonim penafsiran anachronistik yang secara sadar atau tidak sedar menjatuhkan pembaca ke dalam kesilapan sejarah, dengan mengenakan makna dari masa dan masa lain ke teks. Hal ini bisa terjadi karena pengertian kosakata sebuah bahasa akan selalu mengalami perkembangan dan mendapat pengayaan dari satu masa ke masa yang lain. Ini boleh berlaku kerana pemahaman tentang perbendaharaan kata bahasa akan sentiasa mengalami perkembangan dan mendapatkan pengayaan dari satu tempoh ke masa yang lain.

Sedangkan interpretasi diakronik adalah pengkajian yang dilakukan terhadap perkembangan sebuah kosa kata dan struktur kalimat dalam sebuah bahasa dalam beberapa fase sejarah yang saling berurutan. Walaupun tafsiran diachronic adalah kajian yang dijalankan ke atas pembangunan struktur perbendaharaan kata dan kalimat dalam bahasa dalam beberapa fasa sejarah berturut-turut.

Metode Interpretasi Sastra - Tematis Kaedah Interpretasi Sastera - Tema


Pada pertengahan abad ke dua puluh, muncullah seorang metodologis interpretasi Al-Qur'an yang secara signifikan sangat berpengaruh terhadap manifestasi dan orientasi penafsiran Al-Qur'an kontemporer. Pada pertengahan abad ke-20, tafsiran metodologi Al-Quran muncul yang secara signifikan menjejaskan manifestasi dan orientasi interpretasi Al-Quran kontemporari. Orang itu adalah Al-Syaikh Amîen Al-Khûlî dan karya monumentalnya "Manâhij Tajdîd". Orang itu adalah Al-Syaikh Amîen Al-Khûlî dan karya monumentalnya "Manâhij Tajdîd". (Mengenai riwayat hidup dan kiprah beliau, bisa di lihat—antara lain—dalam buku Dr. Kâmil Sa'fân, Amîn al-Khûlî, al-Hay'ah al-Mishriyah al-'Ammah li'l-Kitâb, Kairo, 1982). (Berhubung dengan curriculum vitae dan kerja, boleh dilihat - antara lain - dalam buku Dr. Kâmil Sa'fân, Amîn al-Khûlî, al-Hay'ah al-Mishriyah al-'Ammah li'l-Kitâb, Cairo, 1982 )

Dengan sangat berhasil, beliau telah merumuskan metode interpretasi sastra-tematik; Dengan kejayaan yang besar, beliau telah merumuskan kaedah penafsiran tematik-tematik; sebuah inovasi baru yang belum banyak dikembangkan pada masanya. inovasi baru yang tidak banyak berkembang pada waktunya. Akses beliau terhadap ide-ide baru yang berkembang di belahan barat bumi ini, memungkinkan beliau menggunakan beberapa spesialisasi humaniora modern dan penemuan keilmuan baru sebagai alat bantu analisis, seperti sosiologi, antropologi, semantik, dan beberapa ilmu-ilmu inovatif yang belakangan dikenal sebagai hermeneutika dan psikolinguistik. Aksesnya kepada idea-idea baru yang berkembang di hemisfera barat membolehkan dia menggunakan kepakaran kemanusiaan moden dan penemuan ilmiah baru sebagai alat analitis, seperti sosiologi, antropologi, semantik, dan beberapa sains inovatif yang kemudiannya dikenali sebagai hermeneutik dan psikolinguistik.

(Keterbatasan ruang yang tersedia memaksa penulis mengalihkan keinginan pembaca untuk merujuk lebih lanjut di buku beliau Manâhij Tajdîd dan buku-buku karya murid-muridnya seperti 'Aysyah 'Abd Al-Rahmân sang Putri Pesisir [Al-Tafsîr Al-Bayânî li Al-Qur'ân Al-Karîm, vol. I] dan Muhammad Ahmad Khalf A'lLâh [Al-Fann Al-Qashashi fî'l Qur'ân, tahkik Khalìl 'Abd Al-Karîm, terbitan Sinâ Publisher, Kairo]). (Ruang terhad yang ada memaksa penulis untuk mengalihkan keinginan pembaca untuk merujuk lebih lanjut dalam bukunya Manâhij Tajdîd dan buku-buku oleh para pelajarnya seperti 'Aysyah' Abd Al-Rahmân, Pesisir Pantai [Al-Tafsîr Al-Bayânî li Al-Qur ' â € œAl-Karîm, jilid I] dan Muhammad Ahmad Khalf A'lLhh [Al-Fann Al-Qashashi f'l Qur'ân, tahkik Khall 'Abd Al-Karim, Penerbit Sinâ, Kaherah]).

Sebagai sebuah metode interpretasi yang memfokuskan dan memprioritaskan dengan sangat dominan pengkajiannya kepada bagian-bagian yang paling melekat (organik) dalam ayat-ayat Al-Qur'an, metode ini bisa dijadikan titik tolak dan modal dasar kita dalam proses interpretasi Al-Qur'an kontemporer (atau meminjam bahasa Musthafâ Mahmûd: "muhâwalah li fahm 'ashrî!"). Sebagai kaedah penafsiran yang menumpukan perhatian dan mengutamakan kajian yang paling mendominasi pada bahagian-bahagian yang paling terlampir (organik) dalam ayat-ayat al-Qur'an, kaedah ini boleh digunakan sebagai titik permulaan dan modal asas kita dalam proses menafsirkan al-Qur'an kontemporari (atau meminjam bahasa Musthaf Mahmûd: "muhâwalah li fahm 'ashrî!").

Ilmu-ilmu Humaniora Modern dan Interpretasi Teks Al-Qur'an Ilmu Kemanusiaan Moden dan Tafsiran Teks Al-Quran


Bisa dikatakan bahwa konsep-konsep humaniora modern mempunyai kecenderungan kuat untuk terbebas dari "nilai". Boleh dikatakan bahawa konsep-konsep kemanusiaan moden mempunyai kecenderungan yang kuat untuk bebas daripada "nilai". Memang benar bahwa proses kristalisasi sebuah diskursus dan perumusan sebuah konsep yang dilakukan oleh seorang pemikir pastilah terkena bias-bias ideologis pribadi. Memang benar bahawa proses crystallizing wacana dan perumusan konsep yang dijalankan oleh seorang pemikir mestilah tertakluk kepada bias ideologi peribadi. Tetapi dalam proses selanjutnya, dan ketika bermetaformosa menjadi pisau analisis untuk digunakan kepada obyek yang lain, ataupun digunakan oleh orang lain, bias-bias ideologis tersebut menjadi ternetralisir, paling tidak di permukaannya, meskipun tidak mesti hilang sama sekali dalam hakikatnya. Tetapi dalam proses berikutnya, dan ketika metafora menjadi pisau analisis untuk digunakan untuk objek lain, atau digunakan oleh orang lain, bias ideologi ini menjadi dinentralisasi, sekurang-kurangnya di permukaan, walaupun mereka tidak perlu hilang sepenuhnya dalam intinya.

Dalam kapasitasnya sebagai produk pemikiran manusia yang bersifat relatif dan "tidak pasti", urgenitas dan signifikansi sebuah konsep humaniora akan meningkat kalau bisa diterapkan dalam skala ruang dan kebudayaan yang berbeda dengan tempat/masa kelahirannya. Dalam keupayaannya sebagai produk pemikiran manusia yang relatif dan "tidak menentu", keutamaan dan kepentingan konsep kemanusiaan akan meningkat jika ia boleh digunakan dalam skala ruang dan budaya yang berlainan daripada tempat kelahiran. Konsep kemanusiaan yang tidak lagi digunakan dapat dikatakan mandul, dan selanjutnya: jika konsep kemanusiaan hanya dapat digunakan dalam lingkaran yang terbatas, maka urgensi dan kepentingan akan terbatas.

Masalah yang sekarang muncul di hadapan kita ialah: bagaimana dengan penerapan konsep kemanusiaan yang relatif kepada kitab suci mutlak? Terlebih lagi: bagaimana dengan aplikasi sebagai pisau analisis dalam usaha menafsirkan Al-Qur'an?

The underworld kesedaran Muslim mesti sangat dan sangat tidak menyenangkan jika kitab-kitab itu dirawat - seperti itu - sebagai teks biasa. Kesucian Al-Qur'an, menjadikan mereka - sejak zaman awal Islam - sangat berhati-hati jika tidak boleh dikatakan untuk menghindari mencapai bidang penafsiran Al-Qur'an. Apa yang dilakukan bukanlah satu keperluan yang mendesak, kerana takut bahawa ia akan melanggar garis larangan. (Qutb, 1993a: 26)

Tetapi tuntutan peradaban menjadikan umat Islam sekarang tidak lagi dapat menyediakan diri dengan apa yang diperoleh dari masa lalu. Pintu ke keterbukaan tidak boleh ditutup lagi dengan ketat. Jika tidak, skizofrenia psikiatri akan menjadi wabak sosial yang menimpa penduduk "Al-Islām". [10]

Di sinilah lebih banyak kewaspadaan dan kecerdasan diperlukan untuk mengubahsuai dan mengkaji semula konsep-konsep ini mengikut keperluan dan tahap penerimaan yang mungkin. Oleh karena itu, banyak cabang baru dari kemanusiaan baru-baru ini mempelajari agama seperti sosiologi agama, linguistik agama, psikologi agama, dll. Dan anak lelaki dan perempuan Islam tentunya lebih diperlukan untuk bergulat dan merumuskan konsep analitik mereka sendiri yang diperlukan dalam usaha penafsiran al-Quran kontemporari. Sehingga hari ini, kita dapat berharap ilmu-ilmu psikolinguistik Islam, kritik sosial dan kritikan psikologi Islam, ekonomi politik Islam, falsafah sains Islam, dan sebagainya, yang boleh digunakan sebagai sokongan tanpa perhatian. Walaupun tidak menyakitkan untuk mengambil "pelajaran yang hilang" dari "orang lain", selagi ia telah melalui proses penapisan yang ketat dan pengubahsuaian yang mungkin.
 
Akauntabiliti Al-Qur'an

Aspek Axiologi Falsafah Al-Qur'an


Meskipun agak dikesampingkan - atas nama obyektivitas - dalam awal proses penerapannya, Falsafah Al-Qur'an - sebagai sebuah ilmu dan bukan hanya sebagai sebuah prinsip-prinsip etis yang bersifat umum - pastilah ditujukan untuk membuktikan validitas Al-Qur'an secara ilmiah dan menghidupkan potensi internal Al-Qur'an itu sendiri (tidak dalam konteks metafisiknya) menghadapi perkembangan realitas. Walaupun agak dikecualikan - atas nama objektivitas - pada permulaan proses penerapannya, Falsafah Al-Qur'an - sebagai sains dan bukan hanya sebagai prinsip etika umum - harus ditujukan secara ilmiah mengesahkan Al-Qur'an dan menghidupkan semula Al-Qur'an potensi dalaman Qur'an sendiri (tidak dalam konteks metafizik) menghadapi perkembangan realiti.


Dalam sebuah diskusi tentang aspek-aspek keajaiban dalam Al-Qur'an yang dibawakan oleh Arkoûn, seorang islamolog kontemporer bernama Maxim Robinson menegaskan: "Bagaimanapun juga, Al-Qur'an tidak pernah sekalipun mengajak kepada bentuk keimanan yang buta, keimanan yang berlawanan dengan segala sesuatu yang diketahui sebagai kebenaran aksiomatis dan melawan segala bentuk refleksi rasionalis. (Arkoûn, 1996:216-217) Dalam perbincangan mengenai aspek-aspek mukjizat dalam Al-Quran yang dibawa oleh Arkoûn, seorang ahli Islam Islam kontemporari yang bernama Maxim Robinson menegaskan: "Walau bagaimanapun, Al-Quran tidak pernah mengajak bentuk buta iman, yang bertentangan dengan iman semuanya dikenali sebagai kebenaran aksiomatik dan terhadap semua bentuk refleksi rasional (Arkoûn, 1996: 216-217)

Pembuktian kebenaran Al-Qur'an (syari'at) dilakukan - terutama - dengan meletakkan "dirinya sendiri" di atas meja penelitian yang terbuka untuk semua orang (publik, jumhûr). Bukti kebenaran Al-Qur'an (Shari'at) dilakukan - terutamanya - dengan meletakkan "dirinya" pada meja penyelidikan yang terbuka kepada semua orang (awam, jumhûr). Bukan (hanya) dengan konteks metafisik dan keajaiban mukjizat material yang mencengangkan. Tidak (hanya) dengan konteks metafizik dan keajaiban keajaiban material yang mengagumkan.

Mungkin tidak semua orang bisa meniliknya dari segi keindahan logika presentasi dan bahasanya. Mungkin bukan semua orang boleh melihatnya dari segi keindahan logik persembahan dan bahasa. Apalagi kalau dia tidak lahir dalam tradisi bahasa Arab. Terutama jika dia tidak dilahirkan dalam tradisi Arab. Banyak juga yang hanya mampu meniliknya dengan memverifikasi validitas kontentumnya, baik yang termasuk di dalam tipikal hukum, maupun fakta sejarah dan isyarat-isyarat sainsnya. Ramai juga boleh melihatnya dengan mengesahkan kesahihan kandungan, kedua-duanya termasuk dalam undang-undang tipikal, serta fakta sejarah dan isyarat saintifik.
 
back to top