Thursday, April 11, 2019

FILSAFAT ESSENSIALISME DAN KETUHANAN

0 Comments

FILSAFAT ESSENSIALISME DAN KETUHANAN

 
 Image result for FILSAFAT KETUHANAN

Sejarah Perkembangan dan Tokoh-tokoh Essensialisme

 
Para ahli filsafat menganggap essensialieme sebagai Conservative Road to Culture”, yaitu suatu aliran yang ingin kembali kepada kebudayaan lama, warisan sejarah, yang telah terbukti memberikan kebaikan-kebaikan bagi kehidupan umat manusia. Menurut Essensialisme kebudayaan saat ini telah menyimpang dari jauh dari ketentuan-ketentuan warisan budaya lama.
Aliran Essensialisme mengkritik aliran Progresivisme yang berpandangan bahwa segala hal mempunyai pandangan yang bersifat berubah, fleksible dengan nilai-nilai yang selalu berubah dan berkembang. Essensialisme menganggap dasar pijakan ini kurang tapat, karena dalam pendidikan, fleksibilitas dalam segala bentuk, dapat menjadi sumber timbulnya pandangan yang berubah-ubah, pelaksanaan yang kurang stabil dan tidak menentu. Pendidikan yang bersendikan atas nilai-nilai yang demikian ini menjadikan pendidikan itu sendiri kehilangan arah.
Menurut essensialime pendidikan haruslah bersendikan atas nilai-nilai yang stabil. Untuk tercapainya nilai-nilai tersebut, perlu dipilih pijakan yang mempunyai tatanan yang jelas dan telah teruji oleh waktu. Dalam hal ini, yang dimaksud adalah karakteristik nilai yang diperoleh dari budaya dan filsafat yang bernilai tinggi yang korelatif selama empat abad terakhir, yang diawali pada zaman Renaissance, pertengahan abad ke sembilan belas. Pada zaman Renaissance inilah pangkal sejarah munculnya konsep-konsep Essensialisme.
Munculnya pandangan-pandangan Essensialisme juga sebagai reaksi dari pandangan abad kuno dan pertengahan yang bersifat absolut dan dogmatis. Sehingga, disusunlah suatu konsep yang sistematis dan menyeluruh tentang manusia dan alam semesta yang memenuhi tuntutan zaman modern.
Sehubungan  dengan  hal  itu  Brameld  juga  menulis  tentang  Essensialisme sebagai berikut :
 
Essentialism is above all a modern theory a product of the Renaissance century. In place of an ancient and medieval of absolutism symbolized by the unchallengeable, dogmatic authority of the Church, modern essentialist philosophy aims to provide a systematized, unified conception of man and the universe that will be as appropriate as possible to modern needs and institutions (Brameld; 1995:206)
 
Yang utama dari Essensialisme adalah sebuah teori modern sebuah produk pada abad Renaissance. Sebagai pengganti sistem pemerintahan absolut abad kuno dan pertengahan yang ditandai dengan sesuatu yang tidak dapat ditentang, autoritas gereja yang dogmatis, filosofi Essensialisme modern bertujuan untuk mengembangkan sebuah sistematika yang mempersatukan konsep manusia dan alam semesta yang tepat untuk kebutuhan-kebutuhan zaman dan lembaga-lembaga modern.
 
Essensialisme merupakan perpaduan ide-ide filsafat Idealisme dan Realisme. Kedua aliran ini memberikan sumbangan yang bersifat eklektik, dimana kedua aliran bertemu sebagai pendukung Essensialisme, tanpa melepas sifat utama masing-masing. Hal ini menjadikan aliran Essensialisme menjadi lebih kaya. Realisme modern, yang menjadi salah satu eksponen Essensialisme, titik berat tinjauannya adalah mengenai alam dan dunia fisik, sedangkan Idealisme modern sebagai eksponen dengan pandangan- pandangannya bersifat spiritual.
 

Tokoh-Tokoh Pendukung Aliran Essensialisme

 
Periode terbesar dalam sejarah Idealisme modern berpusat di Jerman pada abad tujuh belas dan delapan belas. Tokoh-tokoh besar yang cukup berperan dalam meletakan sendi-sendi pemahaman Idealisme ini adalah :
1.      G. W. Leibnitz, sorang ahli matematika yang menyusun teori tentang alam semesta dalam semua peristiwa dan fakta yang dihubungkan dalam sebuah system yang sempurna “pre-established harmony”.
2.      Immanuel Kant, berusaha memelihara keyakinan/pemahaman yang mulia tentang “Tuhan, kebebasan, dan ketidaksopanan” dengan argumentasi bahwa meskipun keyakinan yang mulia tersebut tidak dapat dibentuk oleh norma-norma dari “alasan murni” mereka merasa perlu mengasumsikan kehidupan moral sebagai “alasan praktek”


3.      G. W. F. Hegel, mencoba memadukan antara science dan spiritual dalam satu kehidupan.
4.      Arthur Schopenhauer, menyatakan bahwa hidup ini adalah suatu kemurungan. Intisari dari kehidupan manusia adalah tidak pernah puas dengan keinginannya yang tidak pernah tercapai melalui percobaan- percobaan. Keinginan ini dapat diatasi dengan menghapus ketiadaan yang bersifat mutlak dan abadi.
 
Sedangkan tokoh-tokoh besar dalam Realisme modern adalah :
1.      Thomas Hobes, sumbangsinya berupa filsafat politik. Ia berusaha membenarkan monarki absolut dengan membuktikan bahwa sifat materialiatik dan egois dibutuhkan untuk melindungi wewenang kekuasaan dari orang-orang yang kejam dan ganas.
2.      John Locke, berusaha membuktikan bahwa ide-ide timbul dari persepsi dan refleksi yang dulakukan oleh manusia itu sendiri. Oleh karenanya, tidak wajar apabila manusia berada dibawah kekuasaan politik atau kekuasaan lain kecuali dirinya sendiri.
3.      George Barkeley, menunjukkan bahwa ide-ide Locke memerlukan dasar spiritual Tuhan sebagai penyebab dasar dari persepsi pemahaman yang ditekankan oleh Locke.
4.      David Hume, mengemukakan analisa mengenai pengetahuan dan substansi. Pengetahuan adalah sejumlah pengalaman yang timbul silih berganti. Substansi adalah sesuatu yang tidak ada, karena sebenarnya merupakan perulangan dari pengalaman-pengalaman. Dengan perulangan-perulangan orang akan mempunyai ide mengenaii sesuatu yang dihayati dan dipelajari.
 

Pandangan Ontologis Essensialisme

 
Sifat yang menonjol dari ontology Essensialisme tentang realita adalah sebuah kosep yang menyatakan bahwa dunia ini dikuasai oleh sesuatu yang sempurna dan perintah yang ditetapkan sebelumnya. Manusia hidup menurut suatu aturan tertentu yang tidak bisa diganggu gugat. Apapun yang dilakukan manusia harus sesuai dengan ketentuan dunia tersebut. Berikut adalah penjabaran menurut Realisme dan Idealisme.


1.      Idealisme

Idealisme objektif dikenal dengan pandangan kosmik yang berarti pandangan yang bersifat menyeluruh (semesta) meliputi segala sesuatu. Dengan landasan pikiran bahwa totalitas dalam alam semesta ini pada hakekatnya adalah jiwa atau spirit, Idealisme menetapkan suatu pendirian bahwa segala sesuatu yang ada ini nyata.
Teori filsafat Hegel memadukan ilmu pengetahuan dengan agama dalam suatu kosmologi, menjadi suatu pemahaman yang mempergunakan landasan spiritual. Contoh penerapan teori perpaduan ini adalah pada teori sejarah. Menurut Hegel, sejarah adalah manifestasi dari berfikir Tuhan. Tuhan berfikir dan berekspresi mengenai pengaturan yang dinamis tentang dunia yang semuanya nyata dalam arti spiritual.
Filsafat lain yang mendukung Idealisme obyektif ini adalah makrokosmos dan mikrokosmos. Makrokosmos ialah keseluruhan semesta raya dalam suatu disain dan kesatuan yaitu kosmologi (semesta). Sedangkan mikrokosmos adalah sesuatu yang tunggal pada level manusia. Manusia atau institusi, masing-masing dalam disain dan kesatuan yang mirip dengan semesta, hanya saja pada level kecil.
Sebagai contoh, sistem tatanan tata surya (makrokosmos) dengan system atom (mikrokosmos). Inti atom menyerupai matahari, yang diedari oleh elektron-elektron yang menyerupai planet.
Realita demikian dipakai Idealisme untuk menjelaskan hubungan antara Tuhan dan Manusia. Eksistensi Tuhan tidaklah terlepas dari eksistensi semesta raya termasuk manusia. Tuhan Mengatur semesta ini “dari atas”. Hukum universal yang mengatur keseluruhan makrokosmos ialah universal mind yang meliputi aturan benda-benda, tenaga/energi, waktu dan ruang, bahkan juga pikiran manusia. Semua hukum ilmu pengetahuan adalah perwujudan dari keharmonisan dan validitas pekerjaan Tuhan.
Jika manusia tidak mampu memahami hukum universal dari makrokosmos, maka manusia dapat memahaminya melalui mikrokosmos, yaitu realita dirinya sendiri. Sebab dalam diri manusia tercermin suatu harmoni alam, khususnya human mind. Kemampuan berfikir logis dalam mengambil keputusan yang benar adalah suatu perwujudan proses yang sistematis  yang  juga  kita  temukan  dalam  proses  makrokosmos,  yakni memusatkan perhatian pada “self” dan “person”. Inilah filsafat religius moderen yang dikenal sebagai Personalisme.
Tujuan ajaran filsafat ini adalah membuka rahasia keunikan spiritual kepribadian yang lebih dari pada sebagai fenomena alam, melainkan sebagai subyek yang mampu mengadakan analisa ilmiah. Realita demikian menjadi bagian dari keseluruhan alam dan community of selves. Ini adalah realita spiritual yang menjadi bagian dari universal self. Realita kosmos adalah realita antara Tuhan dengan manusia. Manusia berfikir sebagai manifestasi pikiran Tuhan. Kesadaran manusia tentang segala sesuatu bersumber dari kesadaran dan kontak dengan Tuhan secara rohaniah. Manusia mengerti Tuhan dan alam semesta, sebab Tuhan adalah sumber realita, sumber kesadaran manusia, bahkan sebagai universal self dan universal mind.
 

2.  Realisme

Realisme yang mendukung Essensialisme disebut Realisme obyektif karena mempunyai pandangan yang sistematis mengenai fisik, dunia alam dan manusia didalamnya. Golongan ilmu yang mendominasi Realisme objektif adalah :
Fisika, termasuk ilmu astronomi dan kimia, yang dipelopori oleh Isaac Newton
Biologi, terutama teori evolusi yang diungkapkan oleh Charles Darwin Dari fisika dan ilmu-ilmu lain yang sejenis, dapat dipelajari bahwa
tiap aspek dari alam fisik ini dapat dipahami berdasarkan adanya susunan yang jelas. Sehingga suatu kejadian yang paling sederhana pun dapat dijelaskan menurut hukum alam, misalnya daya tarik bumi. Dari ilmu fisika ini muncul suatu teori mekanisme yang mengatakan bahwa dunia ini terbangun atas dasar sebab akibat, tarikan dan tekanan, dari mesin yang sangat besar. Semua gerak dalam hubungan alam ini dapat dijabarkan secara kuantitatif dalam penjabaran matematika berupa rumus-rumus dan persamaan-persamaan yang abstrak. Dengan adanya penjabaran kuantitatif dan kegiatan-kegiatan eksperimen, adalah wajar bila rahasia alam semakin dapat diketahui oleh manusia.
Ilmu biologi, dengan teorinya yang cukup terkenal yaitu teori evolusi (Charles Darwin), menjelaskan bahwa setiap mahluk hidup mulai dari tanaman yang sederhana hingga hewan yang paling kompleks, asal kehidupanya dapat dijelaskan secara alami. Dari munculnya teori evolusi ini, anyak ahli biologi percaya bahwa suatu kehidupan dapat diciptakan dalam percobaan di labolatorium jika diketahui hubungan antar susunan kimianya. Selain itu, ilmu genetic sekarang mampu mengubah tanaman dan hewan menjadi spesies baru dan mendemonstasikan hukum keturunan dalam labolatorium. Pada akhirnya, teori evolusi ini juga diaplikasikan bidang ilmu lain seperti astronomi, geologi dan sosiologi.
 
 

Pandangan Epistomologis Esssensialisme

 
Teori kepribadian manusia sebagai refleksi Tuhan adalah jalan untuk mengerti epistomologi Essensialisme. Sebab, jika manusia mampu menyadari realita dirinya sebagai mikrikosmos dalam makrokosmos, maka manusia pasti mengetahui dalam tingkat/kualitas apa rasionya mampu memikirkan kesemestaan itu. Berdasarkan kualitas itulah manusia memproduksi secara tepat pengetahuannya dalam bidang-bidang ilmu alam, biologi, sosial, estetika, dan agama. Secara keseluruhan, generalisasi ini adalah pelaksanaan dari pandangan Idealisme dan Realisme.
 

1.      Kontroversi Jasmani dan Pikiran

Idealisme berpendapat bahwa spiritual adalah kunci realita. Kita mengetahui sesuatu melalui pikiran, tubuh/jasmani dirangkul oleh pikiran. Sedangkan Realisme berpendapat bahwa materi/benda adalah kunci realita. Kita mengetahui sesuatu melalui tubuh (panca indra). Pikiran adalah sesuatu yang fisik dan patuh pada ketentuan-ketentuan yang disusun oleh objek fisik.
Berbagai diskusi yang bertujuan menyangkal pendapat Idealisme telah dilakukan. Salah satu pemikir terkenalnya adalah Perry yang meyakinkan bahwa pandangan Idealisme adalah pemikiran yang keliru, karena idealis berfikir bahwa manusia mengenal objek melalui ide-ide, sehingga ide dan pikiran bertanggung jawab terhadap objek. Berbeda lagi pendapat yang dikemukakan oleh Frenchman Rene Descartes yang menyatakan pikiran dan tubuh bukanlah suatu kesatuan, dan karenanya muncul dualisme paham.


Kontoversi pikiran dan tubuh merasuki psikologi modern sangat dalam, sehingga hal tersebut menggambarkan bagaimana filsafat mendasari semua pekerjaan ilmiah. Perselisihan psikologi memunculkan keunggulan pikiran atau tubuh, atau persamaan pikiran dan tubuh sering kali bermanfaat dalam ilmu science. Hal ini memunculkan banyak teknik- teknik percobaan yang hasilnya memperkaya pemahaman kita tentang perilaku manusia. Intinya, pendekatan “tubuh” atau “pikiran”, jika ditelusuri lebih jauh, mendukung Essensialisme modern dalam pemahamannya tentang pengetahuan.
 

2.      Pendekatan Idealisme Terhadap Ilmu Pengetahuan

Kita mengerti rohani kita sendiri. Pengertian ini memberikan kesadaran untuk mengerti realita yang lain. Karena kesadaran kita (rasio manusia) adalah bagian dari rasio Tuhan yang maha sempurna. Seorang penganut Idealisme Inggris bernama T.H. Green mengatakan bahwa manusia melakukan pendekatan spiritualnya dengan instrospeksi. Jadi, dapat disimpulkan bahwa bentuk unik dari pikiran adalah kesadaran yang tidak mungkin sama dengan sensani/pengamatan , untuk setiap pengalaman mental melibatkan hubungan antar sensasi. Pikiran itu sendiri adalah substansi dan memiliki otonomi spiritual serta unik.
Sebagian besar penganut Idealisme, terutama pada masa Hegelian berpendapat bahwa spiritual adalah ekspresi-ekspresi substansi kejiwaan dari hukum logika yang sekaligus menggambarkan hukum-hukum alam semesta. Berdasarkan dialektika, ditemukan proses berfikir tahap demi tahap dalam sebuah rangkaian yang tetap. Contohnya sama dengan proses budaya yang mengembangkan tahap demi tahap sesuai dengan sejarah hukum Tuhan. Dalam bahasa filsafat agama modern, ada teori yang mengatakan bahwa manusia sebagai mahluk yang terbatas, mengetahui kebenaran alam, dengan realisasi bahwa pikiran kita menyesuaikan diri pada pikiran Tuhan yang tidak terbatas, berada dalam kondisi sempurna dan sejalan dengan Tuhan. Jika manusia melakukan kekeliruan, dikarenakan beradad dalam kondisi tidak sempurna dan tidak sejalan dengan Tuhan. Ini terjadi ketika komunikasi antara kita dengan semesta Tuhan terganggu akibat dari keraguan manusia atas eksistensi Tuhan.
 

3.      Pendekatan Realisme terhadap Ilmu Pengetahuan



Realisme Psikologi dan epistemology, lebih besar  dipengaruhi oleh ilmu-ilmu fisika Newton. Satu dari tujuan utama Realisme adalah meneliti kehidupan manusia sebagai objek material dan menjelaskan pikiran dan cara kerjanya seperti cara kerja mesin. Dalam perjalannya epistemology Realisme dipengaruhi oleh tiga aliran yaitu Asosialisme, Behaviorisme, dan koneksionisme.

a)        Asosianisme

Aliran realime pertama yang berasal dari Locke ini menyatakan bahwa gagasan atau isi jiwa manusia terbentuk dari asosiasi atau kumpulan atom-atom yang berupa kesan-kesan dan persepsi dari sebuah pengamatan. Teori ini menggunakan metode introspeksi metode yang digunakan oleh ideliame hanya saja tanpa memperhatikan jiwa atau substansi spiritual yang terkait.

b)       Behaviorisme

Aliran kedua ini beranggapan bahwa kehidupan mental tercermin tercermin dalam tingkah laku (behavior), karena keseluruhan organisme manusia yang terdiri dari neurology (sususan saraf), psikologi dan pengalaman-pengalaman biologi adalah bagian dari ilmu-ilmu psikologi. Aliran ini mengganti metode introspeksi dengan metode obsevasi dan pengukuran, terutama dalam proses kejiwaan manusia yang mengkondisikan organisme untuk merespon dan menstimulus yang membentuk habit (kebiasaan).

c)        Koneksionisme

Aliran ketiga ini banyak dipengaruhi oleh aliran behaviorisme yang berpendapat bahaw semua hewan, termasuk masnusia, membangun pola respon dengan menghubungkan antara stimulus dengan respon tersebut. Dalam proses ini ditentukan oleh dua hokum yaitu, “the law of exercise”  yang berarti frekuansi dan recency akan menguatkan koneksi, dan hokum “the law of effect” yang berarti kecenderungan setiap individu untuk mempertahankan respon yang menyenagkan.
 

Pandangan Aksiologi Essensialisme

 
Keyakinan Essensialisme tentang realita dan pengetahuan sangat kuat. Keyakinan ini ditampakkkan pada aksiologinya berupa dasar-dasar nilai kebenaran yang diperoleh dari sumber objek. Karakteristik dan nilai-nilai ini


tergantung pada cara pandang Idealisme dan reallisme. Sulit untuk mencari persamaan antara Idealisme dan Realisme dalam filsafat pendidikan, terutama dalam nilai-nilai budaya. Namun demikian, kedua aliran ini memiliki pengaruh yang kuat terhadap Essensialisme yang dapat dilihat dari prinsip- prinsip dan praktek-praktek moral, seni, dan tingkah laku sosial. Prinsip dan praktek mewarnai sikap Essensialisme di semua aspek budaya termasuk pendidikan.
 
 

1.      Teori Nilai Menurut Idealisme

Penganut Idealisme berpegang bahwa hukum-hukum etika adalah hukum kosmos, karena itu seseorang dikatakan baik hanya jika ia secara aktif berada di dalam dan melaksanakan hukum-hukum itu. Dalam bahasa filsafat, misalnya agama mengajarkan ajaran yang sama : Firman Tuhan dapat memecehkan semua masalah tingkah laku moral baik kepada siapa saja yang siap menerima dan mempraktekkannya.
Meskipun Idealisme menjunjung asa otoriter atas nilai-nilai, namun Idealisme juga mengakui bahwa pribadi seseorang secara aktif bersifat menentukan nilai-nilai itu atas dirinya sendiri (memilih dan melaksanakan)
 

a.      Teori Nilai Idealis Modern

Dengan perwujudan watak Idealisme yang modern ini tersimpul pula perbedaan antara filsafat modern dengan filsafat abad pertengahan. Watak dunia modern mengutamakan dunia sekarang yang menjadi kecendrungan Idealisme dan Realisme. Bahkan Idealisme obyektif, pengikut-pengikut Hegel, sudah tidak mengingkari realita adanya kejahatan disamping kebaikan. Mereka telah mengakui bahwa kejahatan adalah pengalaman yang nyata dalam hidup manusia. Tetapi karena Idealisme obyektif ini mengakui sifat warisan kosmos (alam semesta) itu adalah baik, maka mereka membuktikan bahwa kejahatan hanyalah subordinat daripada kebaikan. Dan kewajiban manusia adalah menentang dan meniadakan kejahatan itu dalam pribadinya.
Tokoh Idealisme modern, Immanuel kant, meletakkan  teori nilai yang baru sebagai pengganti atas kepercayaan tradisional,


Kant mencari asas dasar tindakan moral. Hukum moral yang dimaksud menyatakan bahwa setiap manusia harus melakukan suati kewajiban dimanapun dan kapanpun. Misalnya kewajiban untuk tetap jujur dan tulus hati, sebab hal itu adalah kebaikan universal.
Pengaruh Idealisme modern yang penting lainnya adalah menjunjung tinggi kemerdekaan individu. Asas moral yang supranatural berasal dari Tuhan dengan jaminan bahwa siapapun yang berbuat kebajikan akan mendapat pahala. Segala tindakan yang dilakukan semuanya tergantung dari tiap individu, dan individu tersebut bertanggung jawab terhadap tindakan yang dilakukannya.
Orang yang melakukan sesuatu karena paksaan, tanpa kebebasan, tidak mungking bertanggung jawab atas tindakannya. Orang yang dipaksa melakukan kebajikan, tanpa kesadaran dan kemauan sendiri, walaupun hasilnya baik, belum dikatakan berbuat suatu kebajukan, karena berdasarkan paksaan. Karena itu asas kemerdekaan individu menjadi asas tindakan moral.
 

b.      Teori Sosial Idealisme

Pendekatan Idealisme terhadap teori etika parallel dengan pendekatannya pada ide dan cita-cita tentang sosial politik. Sesuai dengan pendapat yang diungkapkan Hegel bahwa negara adalah manifestasi dari Tuhan, karena itu wajib bagi warga negara untuk setia dan menjunjung negara.
Tokoh lain seperti Kant yang menjunjung tinggi nilai individu menyatakan bahwa kemerdekaan individu manusia akan memberikan dasar bagi kehidupan yang adil dan sejahtera. Dengan kemerdekaan individu, hidup bersama, sosial, menjadi bermakna, bahkan lebih mesra.
 

c.       Teori Estetika Idealisme

Idealisme mengakui bahwa keindahan suatu  obyek  jelmaan dari keadaan yang tidak indah, dari kegiatan pengalam sehari-hari sebagai jodoh dari pola-pola harmonis alamiah.Contohnya seperti buah  yang  matang  (enak-indah)  berasal  dari  buah  yang  tidak


matang (tidak enak-jelek). Jadi eksisitensi indah ada karena eksisitensi jelek. Dan keindahan hanya dimengerti oleh imajinasi spiritual yang mampu membuka semangat universal dan kesempurnaan dalam tiap realita.
 

2.      Teori Nilai Menurut Realisme

Prinsip sederhana Realiame tentang etika ialah melalui asas ontology bahwa semua pengalam manusia terletak pada keteraturan lungkungan hidupnya. Karena itu pendekatan yang tepat pada nilai-nilai adalah sesuai dengan pendekatan pada pengetahuan, yaitu dengan pemahaman obyektif atas fakta dan peristiwa dalam kehidupan yang akhirnya menimbulkan ekspresi keinginan, rasa kagum, tidak suka dan penolakan.
 

a.      Etika Determinisme

Teori Realisme yang paling berpengaruh adalah teori determinisme. Essensialisme mengakui bahwa suatu warisan berasal dari lingkungan baik factor internal dan factor external. Ini berarti mengakui tingkah laku manusia adalah produk potensi- potensi rohani-jasmani, dan berpendapat bahwa tingkah laku manusia tersebut terbentuk karena lingkungan dan pengalaman. Implikasi etika determinasi ini mengakibatkan munculnya tafsiran prinsip etika yang berbeda diantara tokoh-tokoh Essensialisme.
 

b.      Teori Sosial Realisme

Menurut Realisme teori etika individu berhubungan dengan teori etika sosial, terutama dalam realita kehidupan ekonomi, polotik dan masyarakat (negara). Teori sosial realime ini melakukan pendekatan nilai-nilai ekonomi dan politik serta praktek-prakteknya dengan cara ilmiah yaitu dengan pendekatan manusia sebagai individu yang merdeka.
Pelaksanaan pandangan itu ialah bahwa ekonomi memerlukan hukum-hukum bagii proses pemasaran perdagangan, sosial memerlukan struktur oeganisasi lembaga-lembaga sosial, dan politik memerlukan ilmu politik, pengetahuan pengetahuan tentang kelompok-kelompok sosial dan kekuatan-kekuatan massa partai. Tetapi teori ini tidak memberikan asas moral, asas normative bagi


cita-cita dan tingkah laku ideall dalam bidang sosial, ekonomi, dan politik. Teori ini hanya melakukan analisa berdasarkan realita yang ada secara ilmiah.
 

c.       Teori Estetika Realisme

Teori Realisme tentang estetika terpusat pada mengekspresikan kehidupan sebagaiman adanya (expressing life as it is) dalam realita suka dan duka, proses harmoni dan disharmoni.
Dalam perwujudannya yang belum matang teori ini percaya bahwa seni adalah imitasi dari alam (that arat is imitation of naturea). Beberapa pengikut realis menafsirkan imitasi itu sebagai bentuk reaproduksi, seperti bayangan cermin. Sebagian lagi menafsirkan sebagai ekspresi melalui media tertentu.
Realisme tidak mengutamakan seni atas keindahan seperti asas estetika Idealisme, tetapi Realisme mengakui seni meliputi dua jenis realita, yaitu keindahan dan kejelekan. Pada prinsipnya tujuan seni adalah membuka tabir kehidupan untuk lebih dimengerti, dihayati baik dari segi positif maupun negatif.
 
 

Pola Dasar Pendidikan Essensialisme

 
Teori pendidikan Essensialisme muncul dari keyakinan filsafat Essensialisme. Walaupun secara umum prinsip-prinsip uatama filsafatnya konsisiten dengan teori pendidikannya, namun Essensialisme percaya bahwa dalam pelaksanaan pendidikan diperlukan modifikasi, pelengkap, bahkan menyimpang dari ajaran-ajaran filosofis-filosofis terkenal seperti Berkeley, Kant, atau Santayana. Tidak semua aliran Idealisme atau Realisme mementingkan sistematika pendidikan Essensialisme, tetapi hampir semua pendidikan Essensialisme adalah Realisme, Idealisme, atau gabungan keduanya.
Asas-asas filosofis Essensialisme yang lengkap, tidak selalu harus diikuti dengan pola-pola asasi atau pola dasar pendidikan yang terperinci. Untuk pendapatkan pola dasar yang terperinci harus mengenal dari sumber dan literature tentang pendidikan Essensialisme, bukan dari filsafat pendidikan Essensialisme.


Pola dasar pendidikan Essensialisme hanyalah berhubungan dengan teori dasar pendidikan. Sebab, soal-soal pendidikannya adalah masalah praktis yang disesuaikan dengan kondisi yang insidential.
 

1.      Teori Belajar Essensialisme

 

a.    Teori Korespondensi

Meskipun belajar dianggap bidang psikologis, tapi oleh Essensialisme belajar juga dianggap sebagai masalah ontologi (realita yang dipelajari), epistemologi (reliabilitas pengetahuan yang dipelajari), dan aksiologi (nilai dan realita dari pengetahuan itu).
Pada prindipnya, proses belajar menurut Essensialisme adalah :
1.       Melatih daya jiwa potensial yang sudah ada.
2. Proses belajar sebagai proses absorption (menyerap) apa yang berasal dari luar. Yaitu warisan-warisan sosial yang disusun di dalam kurikulum tradisional dimana guru berfungsi sebagai perantara.
Penganut Idealisme dan Realisme memang berbeda dalam mengintepretasikan pemahaman mereka tentang kodrat (hakekat) suatu obyek. Idealisme percaya bahwa watak suatu obyek adalah spiritual, non material atau ideal. Sebaliknya Realisme percaya bahwa kodrat suatu obyek adalah fisik, materaial, mekanis.
Namun, untuk mengetahui dan menguji realita obyek keduanya menggunakan teori korespondensi (hubungan dengan suatu obyek). Belajar diukur dari tingkat kecakapan, ketelitian, dan ketepatan efek dari proses korespondensi itu.
Dalam teori korespondensi, murid menduduki posisi sebagai penerima isi semesta ini. Tentang apakah hakekat isi semesta, materi- fisik (Realisme), atau spiritual-ideal (Idealisme) sudah terjawab oleh aliran-aliran tersebut. Idealisme dan Realisme mengakui proses bagaimana subyek mengerti realita obyek melalaui teori korespondensi, artinya teori korespondensi menentukan  konstruksi dan aplikasi apa yang subyek fahami tentang suatu obyek.
 

b.      Teori Belajar Menurut Idealisme



Teori belajar Idealisme, yang dimilai dengan pribadi sebagai sumyek yang kreatif, adalah untuk mengerti Tuhan. Idealisme percaya bahwa individu selalu mengerti dirinya lebih dahulu (mikrokosmos)untuk dapat mengerti antar hubungannya dengan individu lain dan sesuatu dalam makrokosmos (alam semesta).
 

c.       Teori Belajar menurut Realisme

Realisme menolak teori belajar Idealisme dan menerima teori- teori modern dari ilmu jiwa pendidikan. Prinsip-prinsip belajar Realisme antar lain seperti diajarkan oleh :
Bagley : bahwa proses belajar meliputi proses pengenalan kepada warisan-warisan manusia lampau sebagai dasar interpretasi bagi realita yang ada sekarang; pengertian dengan dasar tentang nilai- nilai moral dan otoritas kenyataan-kenyataan yang obyektif.
Finney : bahwa sesungguhnya manusia itu adalah “the social nature of mental life” dari kepribadiannya yang menentukan hubungannya dengan sosio-kulturalnya. Ini berarti manusia melalui pendidikan akan menerima warisan kebudayaan itu.
 

2.      Kurikulum Essensialisme

 
Belajar adalah proses aktif pribadi untuk mengerti dan menguasai sesuatu. Materi atau isi yang dipelajari itu ialah yang tersimpul dalam istilah kurikulum. Oleh karena itu sesuatu itu tak terbatas dalam kehidupan manusia, demikian pula potensi penguasaan manusia. Maka, perlu ada pedoman untuk melaksanakan pendidikan supaya tujuan pendidikan tercapai.
Isi pendidikan perlu ditetapkan guna efektifitas pembinaan kepribadian. Artinya perlu ada materi pokok yang mengarahkan pengetahuan sebagai isi yang harus dikuasai dalam kehidupannya. Kurikulum Essensialisme dianggap sebagai miniatur dunia yang dipandang oleh guru dan administrator pnedidikan sebagai kenyataan yang benar, dab bernilai/berguna. Essensialisme menggunakan berbagai pola kurikulum dalam sejarah perkembangan pendidikannya.
Essensialisme mendasarkan kurikulum pada prinsip :


A rich, sequential, and systematic curriculum based on an irreducible body of knowledge, skills, and attitudes common to a democratic culture (brameld:1995:247)
 
Kurikulum yang kaya, berurutan, dan sistematik didasarkan pada target tertentu yang tidak dapat dikurangi, sebagai satu kesatuan pengetahuan, kecakapan-kecakapan, dan sikap yang berlaku di dalam kebudayaan yang demokratis.
Sesuatu yang tak dapat dikurangi tersebut didasarkan pada keyakinan Essensialisme, yaitu dalam realita semesta ini segala sesuatu itu ada dalam hubungan dengan hukum-hukum obyektif yang mutlak, sebagai pre- existance, sebagai eksistensi dan sebagai fakta-fakta. Dan tiap individu harus mengerti hukum-hukum itu demi adaptasi terhadap realita dan tuntutan semesta, khususnya pada kebudayaan dimana ia hidup.
 
 

Penilaian Kebudayaan Essensialisme

 
Karena prinsip utama dan watak dari Essensialisme adalah semangat ingin kembali kepada warisan kebudayaan masa silam yang agung dan ideal, maka pendidikan baginya adalah sebagai pemeliharaan kebudayaan yang ada (education as culture conservation). Ide ini lahir sebagai reaksi atas kenyataan bahwa kebudayaan modern gagal mencapai prospek ideal. Oleh sebab itu misi utama Essensialisme adalah mengabdikan diri guna mengembalikan kebudayaan modern kepada kewibawaan seperti yang dimiliki warisan kebudayaan masa lampau. Ini tidak berati bahwa Essensialisme mengabaikan adanya perubahan sosial. Namun semua tokoh Essensialisme melihat adanya krisis kebudayaan, kegagalan untuk membina kesejahteraan dan harmoni di dalam kehidupan manusia. Mereka yakin, secara teoritis dan dengan praktek pendidikan mereka akan mampu menciptakan kebudayaan ideal dengan berpegang teguh kepada nilai-nilai budaya yang telah teruji oleh sejarah.
Semua tokoh Essensialisme bercita-cita membina kebudayaan manusia sekarang dengan asas-asas demokrasi. Hanya dengan asas demokrasi itu kesejahteraan yang harmonis, yang berdasarkan penghormatan kepada martabat manusia akan terwujud. Sebab, krisis kebudayaan modern sekarang tidak  hanya  disebabkan  oleh  kerusakan  yang  diakibatkan  oleh  revolusi


teknologi, politik, dan ekonomi, melainkan lebih karena perkosaan atas hak asasi dan kurangnya rasa hormat atas martabat manusia, kurangnya sikap respek atas nilai-nilai yang berlaku.
 
 
1.      Kedudukan Idealisme modern dan Realisme modern sebagai sokoguru kebudayaan modern.
 
Kedua ajaran filsafat tersebut adalah dasar bagi tegaknya kebudayaan modern yang ideal. Krisis kebudayaan modern justru harena menyimpang dari prinsip-prinsip yang telah dibina oleh kedua ajaran filsahat tersebut. Ide-ide filsafat telah mengubah cara pandang manusia terhadap nilai-nilai, dan praktek-praktek dalam bidang sosial, politik, ekonomi, pendidikan dan kebudayaan.
Hukum-hukum obyektif dan mutlak seperti dogma agama, dalam zaman modern ditafsirkan kembali berdasarkan hukum ilmu pengetahuan. Dan jiwa religius Idealisme dan konsep ilmiah Realisme tersimpul dalam cita-cita keharmonisan anatara kepercayaan religius dengan pemikiran ilmiah.
Dalam rangka membina kebudayaan yang demokratis, Essensialisme memusatkan perhatian pada usaha membina kebebasana individu dalam ekspresi dan organisasinya, misalnya dalam bidang sosial-politik, keagamaan, dan science.
 
2.      Peranana Essensialisme sebagai pemelihara kebudayaan
 
Essensialisme sebagai teori pendidikan dan kebudayaan melihat kenyataan bahwa lembaga-lembaga dan praktek-praktek kebudayaan modern telah gagal dalam banyak hal dalam memenuhi harapan zaman modern. Maka untuk menyelamatkan manusia dan kebudayaannya, harus diusahakan melalui pendidikan.
Fungsi pemeliharaan atas kebudayaan oleh Essensialisme meliputi dua segi :


1.      Membina sikap jiwa untuk menjunjung dan menyesuaikan diri terhadap hukum-hukum dan kebenaran yang ditemukan manusia dalam alam kosmos. Setiap orang harus memahami hukum dan kebenaran itu dengan belajar dan menerima apa yang diberikan alam.
2.      Karena tiap hukum, prinsip, dan aksioma bersifat abstrak, maka harus difahami dalam konteks kebudayaan melalui praktek-praktek lembaga kebudayaan.
 
 

Nilai Negatif Aliran Essensialisme

 
1.      Essensialisme sebagai cultural-lag
Dengan usaha dan prinsip kembali ke masa silam, sebenarnya Essensialisme tidak berusaha meneruskan proses sejarah kebudayaan yang bersifat dinamis-progessif. Ini berarti Essensialisme merupakan suatu cultural-lag, keterlambatan dan keterbelakangan cultural, dan tentu saja bertentangan dengan proses perkembangan budaya yang dinamis.
Observasi para ahli atas gejala konservatif itu disebabkan adanya tiga hal dalam Essensialisme, yaitu :
a.        Sikap pemujaan atas  social –heritage (memuja warisan  budaya lama)
b.        Teori korespondensi dengan akibat-akibatnya terhadap proses belajar (tanpa kritis)
c.        Pusat kepercayaan kepada hukum-hukum alam yang dipraktekan begitu saja ke dalam hukum-hukum kehidupan dan kebudayaan
 
2.      Penafsiran yang tidak tepat atas “Social Heritage”
Sikap memuja kepada kebudayaan warisan atau social heritage termasuk dukungan Essensialisme atas cultural-tradition (tradisi- kebudayaan). Sebab antara kedua istilah tidak dipakai secara tepat dengan kritis. Beberapa penafsiran tentang Essensialisme juga berusaha menafsirkan istilah “essensial” dari social-heritage dengan “tradisi” dari adat kebiasaan.


Essensial adalah sesuatu yang kekal, permanen dari suatu social-heritage yang berusaha dipelihara. Akan tetapi sering sukar menafsirkan secara definitive antara essensial dengan tradisi.
Pengertian yang dimaksud dengan istilah essensial meliputi kebajikan, kejujuran, sikap hormat, mengerti kewajiban, pengabdian, dan sebagainya, yang ingin tetap dibina melalui pendidikan. Padahal semua istilah tersebut amat abstark. Dan dalam pelaksanaannya memerlukan penafsiran dalam suatu konteks dengan isi kebudayaan tertentu disuatu tempat dan zaman. Pengertian itu tidak selamanya universal karena terikat pada pengalaman dan penafsiran kebudayaan tertentu. Ini berarti asas universal bersifat teoritis, dan dalam prakteknya memerlukan sumstansi kebudayaan khusus, kebudayaan nasional misalnya.
 
 

Filsafat Ketuhanan

 
Pemikiran tentang Tuhan, sebagaimana konsekwensi logis ajaran tauhid, merupakan salah satu dari banyak tema yang paling sentral dalam tradisi filsafat Islam. Baik itu yang Aristotelian, Neoplatonisme, Paripatetisme, maupun Illuminasionisme. Berikut ini adalah pemikiran tiga filsuf Islam dari tiga masa dan tradisi yang berbeda, yaitu al-Kindi, Ibnu Sina, dan Suhrawardi tentang wujud, keesaan, dan pengaruh Tuhan dalam penciptaan alam semesta ini.
 

1. Al-Kindi (801-866 M)

Al-Kindi lahir di desa Kindah, belajar di Bashrah, kemudian melanjutkan ke Bagdad, pusat ilmu ketika itu. la mendirikan madrasah yang -untuk pertama kalinya- memadukan ilmu dengan filsafat. la lalu ditarik ke istana oleh Khalifah Ma'mun dan Khalifah Mu'tasim, untuk mendidik putra-putranya. Kesempatan ini digunakan untuk mengembangkan ilmu dan filsafatnya dengan memanfaatkan fasilitas yang ada. Menjelang akhir hayatnya, ia mendapat cobaan berat pada masa kekhalifahan Mutawakil dan meninggal dalam keadaan menyedihkan.


Karya-karyanya meliputi wilayah metafisika, logika, ilmu alam, ilmu pasti, dan dimensi ilmu. Bukunya diterjemahkan dalam bahasa latin, De Intelecttt, dan sangat mempengaruhi filsuf sesudahnya. (Nasr: 1986). Dia juga pelopor penerjemahan buku-buku asing ke dalam bahasa Arab. Karyanya yang terkenal adalah Fi al- Falsafat al-Ula (On Metaphysics), dan ia juga meluruskan anggapan bahwa buku metafisika Aristoteles ternyata adalah ringkasan Enneads karya Plotinus.
Dia dianggap tidak sistematis dan pandangan filosofisnya lebih merupakan teori-teori yang terpencar dan berhubungan dengan berbagai macam topik yang tidak ada korelasinya.
 

2. Ibnu Sina (980-1037 M)

Ibnu Sina lahir di Bukhara, di kenal dalam dunia barat dengan Avicenna dan diberi gelar Amir al-Athibba (pangeran para dokter), Syaikh al-Rais (kyai para pemikir), dan Hujjah al-Haqq. Pada usia belasan tahun sudah menguasai berbagai ilmu dengan sempurna. Karyanya antara lain al-hyarat wa al-Tanbihat, al-Syifa (Sufficientia), dan al-Qanunfi al-thibb.
Wajib al-Wujud ini distilahkan Ibnu Sina dengan al-Mabda al-Awwal, atau al-Awwal saja. Tuhan juga diistilahkan dengan Aql (akal) dalam konteks proses emanasi, di mana dia berpikir dan menumpahkan akal pertama (al-Aql al-Awwal), demikian seterusnya.
Wujud alam tidak lebih kedudukannya dari jaiz. Mumkin al- Wujud memerlukan wajib al wujud untuk mengubahnya dari yang potensial menjadi aktual, menjadi maujud. Jadi mumkin al-wujud menjadi wajib al-wujud li dzatihiitu menjadi wajib al-wujud li ghairihi.
Kemudian, dengan asas Emanasi Neoplatonisme, wujud wajib itu memikirkan dirinya sendiri dan menghasilkan akal pertama, akal pertama ini juga berpikir dan menghasilkan akal kedua, jiwa bidang pertama. Begitu seterusnya hingga akal kesepuluh dan bidang kesembilan yang  adalah  bulan  menurut  aturan  astromni  Ptolemius yang sudah dimodivikasi. Bertentangan dengan al-Farabi, ketika akal pertama ber-ta 'aqul mengeluarkan akal kedua, dia juga mengeluarkan dua wukub yaitu jirm al-Faala al-Aqsha (langit dan planet-planet), dan  nafs  al-Falak  al-Aqhsa  (jiwa  dari  langit  dan  planet-planet tersebut).
 

3. Suhrawardi

Suhrawardi memandang bahwa realitas itu, yaitu satu yaitu cahaya. Perbedaan adalah dalam hal intensitas cahaya. Cahaya yang satu itu adalah nur al-Anwar (cahaya maha cahaya), yang tidak lain adalah Zat Allah.
"Bahwa zat cahaya mutlak yang pertama adalah Allah yang meluapkan emanasi (isyraqi) selamanya, yang dengannya jelas-jelas mewujudkan segala sesuatu seluruhnya, dan dengan perantaraan sinar-sinarnya (dapat) memanjangkan kehidupan. Bahwa setiap sesuatu di dunia ini adalah tumbuh dari cahaya itu sendiri. Setiap keindahan dan kesempurnaan adalah pemberian ihsan-Nya. Dan terjadinya emanasi ini adalah keselamatan" ( Nasr: 1986).
Maka, wujud segala makhluk bergantung pada sepanjang berdekatannya dari cahaya tertinggi. Derajat cahayalah yang menjadi ukuran. Semakin jauh dari cahaya, semakin gelap atau rendahlah kedudukannya, Intensitas terhadap cahaya menjadikan makhluk tersebut bertingkat-tingkat sesuai dengan derajatnya; mereka membentuk hirarki cahaya-cahaya, baik vertikal, longitudinal, ataupun latitudinal. Cahaya-cahaya ini dinamainya para malaikat (Nasr: 1986), yang menjadi instrumen Huminasi bagi manusia yang berada di "Barat", di dunia, untuk kembali ke asalnya, yaitu "Timur". Manusia yang turun dari "cahaya-cahaya signirial" di dunia ini merasa rindu terhadap nostalgia rumahnya yang sebenarnya, dan dengan bantuan pe-ngetahuan iluminatif dan disatukan kembali dengan sifat kemalaikatannya, di mana manusia menemui bagiannya yang murni sekali lagi.
Allah, Sang Maha Cahaya, diistilahkan Suhrawardi dengan al- Ghani ("yang kaya", Independensi) -yang bisa disejajarkan dengan wajib al-Wujud-nyd Ibnu Sina- sedangkan selain Tuhan adalah al- Faqir ("yang membutuhkan", ketergantungan) -bisa disejajarkan de- ngan arli mumkin al-wujud. Al-Faqir membutuhkan al-Ghani untuk bisa maujud (Kertanegara: 1998).

No comments:

Post a Comment

 
back to top