Thursday, April 11, 2019

Yang Gaib Dan Yang Nyata

0 Comments















Yang Gaib Dan Yang Nyata

Surah Al-Hadiid - سورة الحديد

[57:3] - Ini adalah sebahagian dari keseluruhan surah. [Papar keseluruhan surah]


57:3
57_3 Dia lah Yang Awal dan Yang Akhir; dan Yang Zahir serta Yang Batin; dan Dia lah Yang Maha Mengetahui akan tiap-tiap sesuatu.
(Al-Hadiid 57:3) | <Embed> | English Translation | Tambah Nota | Bookmark | Muka Surat 537 - ٥٣٧
Walaupun Allah mengaruniakan qolbu yang merupakan wadah energetis dari ruh, akal, dan nafsu sebagai alat bantu manusia untuk mengelola dirinya, manusia lainnya, dan alam semesta, pemahaman akal manusia sebenarnya cuma sebatas kontinuum kesadaran diri-ruang-waktu dimana dia saat itu berada saja. Jadi sifatnya sangat terbatas dan relatif.

Untuk mengatasi keterbatasan akal inilah maka manusia kemudian memerlukan asumsi-asumsi dan metoda-metoda kalau ingin mengamati makhluk- makhluk fisik misalnya di laboratorium atau di alam semesta. Disinilah kita mesti menyadari bahwa akal saja tidak akan memadai bila kita ingin mengetahui sesuatu yang berada di luar kontinuum kesadaran diri- ruang-waktu misalnya Ruh (QS 17:85) dan Zat Allah yang Maha Gaib (QS 57:3).

Surah Al-Israa' - سورة الإسراء

[17:85] - Ini adalah sebahagian dari keseluruhan surah. [Papar keseluruhan surah]


17:85
17_85 Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakan: "Roh itu dari perkara urusan Tuhanku; dan kamu tidak diberikan ilmu pengetahuan melainkan sedikit sahaja".
(Al-Israa' 17:85) | <Embed> | English Translation | Tambah Nota | Bookmark | Muka Surat 290 - ٢٩٠

Surah Al-Hadiid - سورة الحديد

[57:3] - Ini adalah sebahagian dari keseluruhan surah. [Papar keseluruhan surah]


57:3
57_3 Dia lah Yang Awal dan Yang Akhir; dan Yang Zahir serta Yang Batin; dan Dia lah Yang Maha Mengetahui akan tiap-tiap sesuatu.
(Al-Hadiid 57:3) | <Embed> | English Translation | Tambah Nota | Bookmark | Muka Surat 537 - ٥٣٧

Pikirkanlah Ciptaan-Nya Bukan Dzat-Nya


Batas akal adalah kontinuum dimana makhluk tersebut    berada.    Hal    ini    sebenarnya    sudah


diingatkan oleh Nabi Muhammad SAW didalam sabdanya:

“Pikirkanlah nikmat-nikmat Allah, tetapi janganlah memikirkan Zat-Nya.”

Demikian juga Ali bin Abu Thalib kwj mengingatkan:

“Barang siapa memikirkan Zat Allah , maka ia kufur. Dan barang siapa memikirkan sifat-sifat-Nya, maka ia akan memperoleh petunjuk.”

Jadi, kalau ada makhluk Allah yang mengaku bisa mengimajinasikan wujud Dzat Allah secara akal, kemudian melukiskannya kedalam kanvas atau membuat patung berdasarkan imajinasinya, atau mengatakan bahwa menurut ilusinya itu adalah Dzat Allah maka itu tentunya bukan wujud Dzat Allah tetapi produk dari kekufuran manusia. Didalam Al Qur’an sendiri Allah berfirman dalam surat Al Syura ayat 11 (QS 42:11) :

Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya, dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat .

Begitu pula pada beberapa ayat yang lainnya, Al Qur’an tidak menjelaskan pengenalan tentang Dzat Allah secara lebih luas kecuali dalam pengkudusan


dan penyucian semata, seperti dalam firman- firman-Nya berikut ini [81]:

…Tiada Tuhan selain Dia…(QS 2:255); Mahasuci Tuhanmu yang memiliki keperkasaan dari apa yang  mereka sifatkan… (QS 37:180); Pencipta langit dan bumi…(QS 2:117); Maka bertasbihlah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Maha Besar…(QS 56:74 & QS 56:96)

Oleh karena itu, sebenarnya sangat mengherankan jika masih ada orang-orang yang mengaku bisa melihat wujud Dzat Allah. Suatu hal yang muskil dan pendapat yang bisa dikatakan jahil oleh karena memahami dan melihat bagaimana wujud makhluk Allah yang metagaib saja seperti malaikat dan jin kita umumnya tidak mampu, apalagi melihat Dzat Allah yang gaib mutlak (QS 6:103). Jadi esensi Dzat Allah SWT sejatinya tidak dapat dilihat oleh mata lahir makhluk-makhluk-Nya. Maksudnya, ketika bersemayam di atas Arasy dan meliputi segala sesuatu, Allah SWT tidak dapat dilihat oleh inderawi fisikal manusia karena Dia terhijab oleh entitas-entitas wujud yang meliputi-Nya, Dia hanya dapat dilihat dengan bashirah atau matahati manusia yang merupakan sistem sensoris ruhaniah yang tidak dibatasi oleh pengertian-pengertian dimensionalitas ruang maupun waktu. Bashirah itu tidak lain adalah termurnikannya esensi manusia menjadi  ruh  yang  muncul  sebelum  ditiupkan  ke


dalam jasad biologisnya, itulah  ruh pra-eksistensi yang tercantum dalam QS 7:172 yang memberikan kesaksian tentang Allah sebagai Tuhan Yang Esa. Dalam Al Qur’an seringkali kita menemui ayat yang menyebutkan akan melihat Allah SWT di akhirat dimaksudkan sebagai melihat melalui penglihatan bashirah ini. Sebab kalaupun misalkan makhluk bisa melihat Dzat Allah secara langsung maka bisa dikatakan bahwa semua kemakhlukannya akan musnah dan sirna. Oleh karena makhluk tetaplah hanya makhluk dan Allah hanyalah Allah semata dan tidak ada yang serupa dengan-Nya (QS 42:11, QS 112:4).

4.2  Yang Nyata, Yang Meta Gaib, dan Yang Gaib Mutlak


Perkembangan zaman menemukan jalannya sendiri sesuai dengan aturan dan ketentuan yang berlaku sebagai suatu sunnatullah.  Perkembangan pemikiran manusia terus terjadi, mengalami diskursus dan berubah sesuai dengan berbagai pemahaman baru yang kemudian terbukti kebenarannya adalah suatu kebenaran yang relatif. Revolusi pengetahuan dengan ditemukannya mikroskop, formulasi hukum-hukum alam menjadi hukum-hukum Newton, Teori Relativitas, Teori Kuantum, dan pengetahuan lainnya semakin mengubah cara pandang dan ikhtiar manusia. Apa yang semula dikira sesuatu yang gaib, sedikit demi


sedikit mulai terkuak; Apa yang semula tidak diketahui secara pasti seperti amuba, virus, atom, dan partikel-partikel elementer kemudian semakin menyadarkan manusia bahwa dunia tidak seperti yang dilihatnya selama ini. Mereka  yang berpijak pada filsafat materialisme-ateisme pada akhirnya kebingungan bahwa alam semesta tidak sekedar materi semata.

Meskipun sesuatu yang gaib sedikit demi sedikit terpahami secara ilmiah dan sudah lama menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, namun kesombongan telah melekat dan menutupi akalnya, sehingga ilusi dan delusi kebendaan pun semakin menebal menutupi fakta-fakta yang terhampar di dunia kuantum yang melenyap di kegaiban mutlak. Ketika materi semakin tiada, dalam arti dapat berubah menjadi esensi yang lebih halus, manusia memahami bahwa materi identik dengan energi. Bahkan Albert Einstein yang menggagas bahwa materi setara dengan energi pada tingkat kecepatan yang sangat tinggi yaitu kuadrat kecepatan cahaya, dengan tegas mengatakan bahwa jagat raya tidak tersusun atas materi, partikel utamanya adalah energi. Maka, semua obyek fisik menjadi ruang yang berisi energi. Inilah kemudian yang melandasi kekekalan energi, merambat ke kekekalan alam semesta yang juga pernah diasumsikan oleh Einstein. Dengan alasan kekekalan demikianlah, para ilmuwan yang terjebak   dalam   pemikiran   materialisme-ateisme


kemudian melakukan manipulasi pikiran lebih jauh dengan mengatakan bahwa alam semesta tidak diciptakan, tetapi ada karena suatu kebetulan, dengan kata lain tidak ada tempat untuk menyedikan suatu makna yang lebih Agung dan Indah yaitu Sang Pencipta.

Di sisi lain, ada pemahaman yang bertolak belakang dengan materialisme-ateisme yaitu keberadaan Sang Pencipta. Alam semesta diciptakan, sangat teratur dan terkendali, mengikuti suatu hukum-hukum fisik yang bisa diamati secara inderawi maupun secara mikroskopis dengan bantuan peralatan canggih yang direkayasa sesuai dengan dan untuk melihat kebenaran relatif dari berlakunya hukum-hukum yangs esuai dengan kaidah logis manusia.

Pikiran dan perasaan kita telah menyusun suatu kaidah dasar logis bahwa dunia fisis adalah sesuatu yang deterministik dan juga indeterministik. Pada saat manusia bisa mengkaji partikel terkecil yang dikenalnya yaitu atom, semuanya jadi berubah karena pada ukuran paling kecil dari gugus atom terdapat partikel-partikel yang lebih renik lagi yaitu elektron, proton, netron, quark, dan partikel- partikel sub-atom lainnya. Fenomena yang teramati pun dalam setiap pranata sistem pengamatan berbeda dan menjadi penuh  ketidakpastian. Perilaku partikel sub-atomis elementer seperti quark ternyata  sukar  sekali  diramalkan  bahkan  dengan


formulasi-formulasi matematis yang rumit sekalipun. Demikian juga, perilaku partikel elementer yang bisa dengan tak terduga berubah menjadi partikel materi atau gelombang menjadi suatu misteri ilmu pengetahuan modern.

Tantangan baru sains pun muncul dan mengarah pada suatu fakta yang sudah lama ditepiskan dari dunia ilmu pengetahuan modern yaitu keberadaan sesuatu yang memiliki Kemahakuasaan tidak terbatas yaitu adanya Yang Maha Mengatur, maha Memelihara, dan maha Mendidik - Tuhan itu ada. Dan Dia Rabbul Aalamin (QS 1:2).

Banyak ilmuwan yang terkejut ketika wilayah kuantum dirambah semakin jauh ke tingkat yang tidak terpahami. Sampai akhirnya, para fisikawan pun menemui suatu fakta yang menarik bahwa di wilayah paling elementer, di  dalam  inti  atom terdapat suatu pertikel yang hanya bisa dikenali dengan citarasa, bukan dengan sekdar nilai dan makna-makna yang fisik.

Ketika wilayah quark, sebagai partikel elementer yang terpahami secara nalar terungkap, ilmuwan membuat aturan sendiri yang mereka sebut citarasa quark sebagai keatas, kebawah, menyenangkan, dan ungkapan-ungkapan lainnya, yang hanya bisa ditemui pada dunia mistik. Maka ilmuwan pun kemudian menyadari bahwa fisika telah merambah


metafisika, “fisika dan metafisika” sebenarnya menjelaskan hal yang sama, menuju ke sesuatu yang lebih absolut sebagai penyebab segala sesuatu.

Meskipun pemahaman tentang sesuatu yang tidak dipahami di zaman dulu berkembang menjadi sesuatu yang gaib, pemahaman perilaku mikroskopis partikel secara fisik mekanistik membuka cakrawala baru untuk meredefinisi ulang apa yang dimaksud dengan kegaiban itu. Saat ini, dengan kapabilitas pemahaman dunia kuantum kita mungkin bisa memilah bahwa yang dimaksud dengan gaib kemungkinan dua hal: gaib mutlak dan gaib karena tidak bisa terindera oleh manusia seperti partikel sub-atomis atau katakanlah gaib mikroskospis.

Dengan merujuk kepada Al Qur’an gaib mutlak adalah esensi yang berkaitan dengan Dzat Allah SWT yaitu segala sesuatu yang Allah tutupi untuk dirimu, bukan bagi-Nya (dari sisi Allah tidak ada Yang Gaib) [25]. Hal ini sudah ditegaskan oleh Sabda Nabi:

Jangan berfikir tentang Dzat Allah, tetapi pikirkanlah ciptaan-ciptaan Allah

Demikian juga ayat yang menyebutkan tentang Ruh yang       termasuk       gaib       meskipun       Allah


menginformasikan bahwa pengetahuan tentang ruh diberikan namun sedikit sekali :

“Mereka bertanya kepadamu (Ya Muhammad) tentang ruh. Katakanlah, “Ruh itu termasuk urusan Tuhanmu, dan tidaklah kamu diberikan pengetahuan (tentangnya) melainkan sedikit” (QS 17:85).

Di dalam hadis Nabi dan firman Tuhan di atas, kita sebenarnya diberi batas yang tegas tentang  yang gaib dan yang masih bisa kita amati atau pahami. Dalam pandangan tasawuf-falsafi, Allah SWT memiliki banyak alam, dan alam yang  dapat diindera manusia adalah alam syahadah atau al-mulk, sedangkan alam yang tidak dapat diindera manusia kemudian disebut sebagai alam gaib. Alam gaib bagi manusia terdiri dari alam gaib detail (termasuk jasad renik dan  zarah  kuantum) dan alam  gaib global. Yang pertama disebut alam Gaib Wujudy (gaib wujud), seperti alam malakut (dunia kuantum), dan yang kedua disebut Gaib Adamy (gaib yang tak wujud) yaitu alam gaib yang secara esensial hanya diketahui oleh Allah SWT semata seperti alam ruh atau al- Jabarut.

Dalam pandangan tasawuf Ibnu Arabi, alam as- Syahadah dimaknai sebagai alam kesaksian (inderawi) agar manusia dapat melihat dan memikirkan alam-alam tersebut, misalnya seperti penciptaan langit dan bumi, sehingga pada akhirnya


manusia dapat memberikan kesaksian atas ke-Esa- an Allah SWT baik dengan akal (makrifat aqli) maupun perasaan (makrifat dzauqi). Semua makhluk di alam ini selalu bertasbih memuji-Nya. Dengan melakukan pengamatan terhadap alam semesta ini, akan sampailah kepada kesimpulan bahwa segala sesuatu mempunyai Hakikat yaitu pengenalan terakhir di ujung pemahaman nalarnya atau di batas-batas kefanaan ruang-waktu, dan Hakikat dari Hakikat adalah Dia (Huwa), Dzat Allah SWT. Oleh karena itu dikatakan oleh Ibnu Arabi bahwa alam as-Syahadah sebenarnya Gaib al-Gaib (gaibnya gaib). Ibnu Arabi merujuk kesimpulannya berdasarkan firman :

“Yang mengetahui semua yang Gaib dan yang tampak, Yang Maha Besar Lagi Maha Tinggi” (QS 13:9)

Dari ayat diatas, Ibnu Arabi menyimpulkan adanya alam as-Syahadah dan alam yang gaib, dan diantara kedua alam ini, yang satu menggaibkan yang lain.

Maksud Syekh Ibnu Arabi adalah dilihat dari alam nyata (as-Syahadah) maka alam al-malakut dan al- jabarut tidak terlihat atau gaib , dan dilihat dari alam al-malakut dan al-jabarut maka yang nyata tak mungkin bisa ada tanpa adanya alam malakut dan alam jabarut.


Ini adalah hirarki kenyataan alamiah bahwa alam lahir ditopang oleh alam batin dan tatanannya. Lebih lanjut, dalam kitab al Futuhat al makkiyyah Juz III hal 303 Ibnu Arabi menegaskan :

 Pada saat Allah SWT menjadikan alam ini, Dia menjadikannya dalam bentuk alam lahir dan alam batin, dan saat itu juga terbentuklah “alam gaib” dan “alam as- syahadah”. Sehingga dikatakan bahwa setiap yang gaib bagi alam disebut “gaib” sedangkan setiap yang nampak bagi alam disebut sebagai “yang nampak”. Baik alam gaib maupun alam syahadah keduanya merupakan saksi Dzat Allah SWT. Allah SWT menjadikan hati sebagai alam gaib dan wajah sebagai alam nyata”

Dari pemikiran demikian, Ibnu Arabi kemudian menguatkan pendapatnya bahwa sesuatu yang gaib itu sebenarnya nyata, sekalipun substansi dari yang gaib itu tidak dapat dianalisa secara mendetail sampai pada bagian-bagiannya. Tentunya hal ini berpangkal pada kelemahan akal pikiran dan perasaan manusia dan instrumen pengungkapannya yaitu dasar bilangan, geometri, simbol, huruf, maupun model sebagai sarana belajar kita.

Setidaknya, pendapat ini disimpulkan Ibnu Arabi jauh sebelum manusia merumuskan adanya dunia kuantum yang kemudian diformalkan  menjadi Teori Kuantum. Tetapi kesadaran manusia tentang dunia  kuantum  sebenarnya  sudah  dikenal  sejak


dahulu sekali. Hanya kelemahan pemahaman fenomenal dan kurangnya piranti analitis-sintesis saja manusia  zaman dulu tidak memaparkannya secara lebih terperinci menjadi hukum fisika- matenmatika maupun rumusan abstrak yang lebih riil semisal Quarks.

Menurut pandangan Ibnu Arabi, hati atau qolbu manusia menurut tidak identik dengan gaib, namun sifat hati yang bolak balik tidak menentu itulah yang gaib. Jadi, Ibnu Arabi menyimpulkan bahwa yang disebut gaib adalah yang dikenal oleh perasaan , disamping sebagai sesuatu yang tidak mungkin tampil ke alam nyata dan teraba secara fisikal.

Oleh karena itu, dikatakannya bahwa perasaan lebih utama dibandingkan dengan akal ketika bersinggungan dengan pemahaman hal-hal gaib. Sehingga, ketika penalaran terhenti di titik singularitas sebagai akhir atau batas dari substansi inderawi, dan manusia berkeinginan untuk melampaui batas ini hanya dengan penalaran akalnya saja, maka yang akan muncul adalah spekulasi dan mungkin manipulasi teoritis seperti yang dilakukan Stephen Hawking, memanipulasi pikiran untuk memaksakan ego akalnya. Sejatinya, ketika akal tak mampu menyingkap maka manusia mesti menggunakan instrumen perasaannya yaitu qolbunya untuk menembus batas-batas akalnya ini sehingga hakikat sebenarnya bisa tersingkap sebagai


suatu lompatan kuantum dimana yang banyak berperan adalah Dia Yang Maha Gaib  kehendak- Nya semata.

Kalau kita sejajarkan pengertian yang diuraikan oleh Ibnu Arabi dengan sains modern, maka menjadi jelas bahwa teori kuantum (sains modern) yang menelusuri maujud obyek mulai dari alam inderawi tingkat atom atau alam nyata, sampai kepada adanya partikel elementer quark yang cuma dimengerti oleh para fisikawan dengan deskripsi hasil perasaan sebagai suatu citarasa keatas, kebawah, senang dan deskripsi metafisikal lainnya, sebenarnya sudah membuktikan bahwa aspek-aspek fundamental dari alam semesta ditopang oleh kegaiban (dunia kuantum). Dan hal ini ternyata cuma bisa dipahami dengan citarasa yang terpandu akal dan logika mekanistik supaya dapat dibangun model perangkat keras maupun lunaknya oleh manusia  dengan asumsi dan batasannya yang baku dan diakui kebenaran relatifnya.

Dalam tatanan yang paling jauh, manusia saat ini baru memahaminya dengan pendekatan eksperimen sampai ke tingkat quark sebagai partikel elementer yang membangun inti atom semua unsur di alam semesta. Sedangkan dalam tataran hipotesa para ilmuwan baru mengusulkan kemungkinan adanya buih dan gelembung kuantum, partikel hipotetik yang  lebih  elementer  sebagai  suatu  materi  gelap


masif interaktif (dapat berinteraksi) berupa partikel titik atau tali yang berukuran 10-33 cm, dan partikel hipotetik gaib tachyons yang bersifat sebagai konektor atau penghubung semua partikel elementer di tatanan paling atas (yang lebih fisikal).

Gaib wujud seperti alam mikrokospis merujuk kepada makhluk-makhluk berjasad yang sangat kecil sekali, yang tidak dapat ditangkap oleh indera secara fisis. Di zaman dahulu, manusia tidak mengenal kaca pembesar, mikroskop, mikroskop elektron, apalagi teropong bintang yang di tempatkan di angkasa luar. Pada era tersebut berbagai hal yang tidak dipahami manusia atau sesuatu yang informasinya tidak lengkap disebut gaib. Saat ini dengan kemajuan di berbagai bidang, partikel-partikel mikroskopis yang teramati adalah partikel atom  dan sub-atomis. Pada ukuran sub- atomis partikel-partikel elementer seperti elektron berkelakuan tidak menentu, penuh ketidakpastian. Hukum-hukum fisika deterministik yang besandar kepada formulasi Isaac Newton menjadi mati kutu; tidak berlaku. Dan batas-batas kegaiban itu dalam fisika modern terwujud sebagai suatu konstanta atau ketetapan Max Planck yang bernilai 6,626176x10-34 Joule.detik dan kecepatan cahaya sebesar 300.000 km per detik. Kedua konstanta alam tersebut dengan nyata membatasi kemampuan inderawi kita dan alat ukur yang dapat kita buat saat ini, sebagai batas minimum dan maksimum, dalam


memahami semua fenomena yang terjadi di alam semesta. Keduanya adalah suatu kadar yang sudah ditetapkan sejak azali oleh Pencipta. Ada apa di luar nilai-nilai tersebut, dalam ukuran waktu terkecil, ada apa di t=10-43 detik dan ada apa diluar kecepatan cahaya adalah suatu kegaiban yang hanya Allah SWT yang tahu esensi sebenarnya.

Gaib yang tak wujud adalah wilayah yang misterius bagi makhluk, dalam QS 17:85 yang membicarakan tentang ruh, Allah hanya menyebutkannya bahwa manusia hanya sedikit mengetahui hal ini. Oleh karena itu, dalam pandangan manusia alam gaib tersebut sama artinya dengan tidak ada yang disebut sebagai alam  Gaib  Maknun.  Gaib Maknun,  adalah alam gaib yang terjaga dari perubahan tetapi tidak kekal, sedangkan Gaib Masnun adalah  yang tersembunyi dari akal dan indera manusia baik yang alamiah atau dengan bantuan sistem penginderaan buatan, atau masih dalam taraf hipotesa dan dugaan-dugaan. Misalnya, sampai saat ini adalah buih kuantum, gelembung kuantum, partikel hipotetik (materi-gelap), dan tachyons. Sedangkan pengertian Alam Gaib Mutlak dan Gaib al-Huwwiyah adalah Dzat Allah SWT yang tidak memiliki batas dan tidak terdefinisikan oleh akal makhluk, yang dikonfirmasikan dalam surah al-Hadiid [57] :3, dan hanya dapat diyakini dengan keimanan mutlak dengan   mentauhidkan-Nya,   meng-Esa-kan-Nya.


Penguraian tentang yang gaib di atas, kalau kita ringkas menjadi :

·        Gaib   al-Gaib   (Alam      Nyata,      Syahadah)       : maujud benda-benda sampai atom
·        Gaib Wujud : sub-atomis sampai quark
·        Gaib  Masnun   buih  kuantum,  gelembung kuantum, partikel hipotetik, tachyons
·        Gaib Maknun : Ruh, Cahaya Diatas Cahaya
·        Gaib Mutlak atau Gaib al-Huwiyyah : Dzat Allah SWT

Kalau kita sandingkan dengan pengertian kealaman yang sudah kita ulas sebelumnya, maka gaib-al-gaib adalah alam syahadah atau al-mulk, gaib wujud dan gaib masnun adalah alam malakut, gaib maknun adalah alam arwah (ruh-ruh) atau alam jabarut, dan gaib mutlak adalah wilayah esensi Dzat Allah.

4.3  Waktu Imajiner : Perspektif Fisika Modern Dan Pemahaman Alam Gaib


Salah satu pertanyaan klasik ketika para saintis mengkaji alam semesta adalah bagaimana membuktikan suatu kemunculan dari ketiadaan? Dalam arti, bagaimana terjadi lompatan kuantum yang memunculkan sesuatu dari kegaiban?


Secara matematis, ketika kita memodelkan alam semesta berasal dari suatu titik, akan muncul masalah yaitu bagaimana memunculkan sesuatu dari titik nol. Oleh karena ketika perhitungan mendekati titik nol maka semua perhitungan matematis yang dibagi nol akan menjadi besar tidak berhingga. Demikian juga ketika sebuah bilangan dibagi suatu angka yang sangat besar ia menjadi kecil tidak berhingga. Kenyataan ini membawa suatu masalah matematis yang kompleks yang menyebabkan munculnya

berbagai konsep Theory Of Everything seperti teori utas benang (string) dan superstring yang berdimensi 10,11,12, bahkan 26 yang menutup kedirinya sendiri. Dengan pendekatan menutup kepada dirinya sendiri atau asumsi tanpa tapal batas maka ketidakberhinggaan dapat dihindari. Namun, untuk memunculkan sesuatu dari ketiadaan berdasarkan metode matematika integral setapak yang diusulkan Hawking-Hartle diperlukan perangkat bantu matematis lainnya. Piranti matematis yang digunakan adalah konsep abstrak matematika yang disebut waktu imajiner.

Bagi sebagian besar masyarakat Indonesia, konsep matematika waktu imajiner barangkali merupakan sesuatu yang baru. Istilah ini memang berasal dari dunia sains khususnya bagi mereka yang mendalami matematika lanjut,  fisika kuantum, dan astrofisika.


Dalam kenyataannya, konsep waktu imajiner sebenarnya sudah sangat dikenal oleh kita yaitu “dunia lain” atau “alam gaib”. Gagasan sistem koordinat waktu imajiner diduga pertama kali diperkenalkan oleh sarjana muslim al-Khawarizmi pada abad ke-9 Masehi [131]. Konsep waktu imajiner kemudian digunakan untuk membantu bagaimana sesuatu muncul dari ketiadaan atau dari kegaiban.

Konsep waktu imajiner sebenarnya merupakan konsep waktu yang fundamental. Dalam bukunya The Theory Of Everything : The Origin and Fate of the Universe Stephen Hawking berpendapat bahwa :

“Apa yang kita namakan waktu nyata adalah sesuatu yang  kita  ciptakan  hanya  dalam  pikiran-pikiran  kita. Dalam waktu nyata, alam semesta memiliki permulaan dan   pengakhiran   pada   singularitas   yang   membentuk batasan bagi      ruang-waktu dan dimana hukum-hukum alam akan hancur. Namun, dalam waktu imajiner (alam gaib)  tidak  akan  terdapat  singularitas  dan  batasan. Sehingga mungkin apa yang kita maksud dengan waktu imajiner  adalah  lebih  mendasar,  dan  apa  yang  kita namakan sebagai waktu nyata hanyalah sebuah gagasan yang  kita  reka  untuk  membantu  kita  mendeskripsikan seperti apa yang kita pikirkan. Sebuah teorema ilmiah hanyalah model matematis yang kita buat untuk mendeskripsikan  pengamatan-pengamatan  kita.  Waktu nyata hanya berlaku dalam pikiran kita. Sehingga tidak ada artinya kita bertanya :



manakah yang nyata, waktu nyata atau waktu imajiner? Ini benar-benar sebuah persoalan di mana ada sebuah deskripsi yang lebih berguna.”

Dengan kalimat seperti diatas, meskipun ia memahaminya dalam konteks matematis, Stephen Hawking sebenarnya sedang menjelaskan suatu realitas yang terpahaminya sebagai seorang fisikawan bahwa segala sesuatu yang maujud di alam nyata sejatinya suatu ilusi mental. Oleh karena itu ia mengatakan secara terus terang bahwa ada sesuatu yang tidak terpahami oleh konsepsi ilmu pengetahuan manusia saat ini yang terbatas hanya dalam pemahaman waktu nyata, atau kontinuum ruang-waktu yang saat ini kita sepakai sebagai suatu ruang-waktu. Hawking mengatakan bahwa konsepsi waktu imajiner atau alam gaib ternyata menurutnya lebih mendasar dibanding apa yang selama ini dianggap sebagai suatu kenyataan. Dengan kata lain, boleh jadi kegaiban menjadi suatu fondasi alam semesta sesungguhnya. Tanpa sadar, Hawking sudah melibatkan faktor psikologis manusia sebagai suatu kesadaran di dalam konsep-konsep fisikanya. Apakah Hawking akan menyadari hakikat tentang realitas alam semesta sehingga ia mampu mendobrak batas-batas psikologisnya sebagai makhluk? Atau malah semakin terseret arus ateisme yang sempat diusungnya, dan terjebak dalam abstraksi matematis? Kita tidak tahu persis karena


sejatinya yang diperlukan memang suatu kerendah hatian untuk mengakui bahwa ada yang tidak dapat dicerna oleh akal dan pikiran manusia kendati untaian matematis nampaknya dapat memuaskan hedonisme akalnya.

Secara tidak langsung apa yang diuraikan oleh Stephen Hawking sebenarnya bersinggungan dengan konsep-konsep keimanan agama Islam, khususnya yang berkaitan dengan alam gaib dan sifat-sifat Gaib Mutlak dan kekekalan Allah SWT. Entah tahu atau tidak, Stephen Hawking mengulas dengan tepat dari sudut pandang ilmu pengetahuan modern, khususnya hakikat waktu imajiner (alam gaib),  yang tercantum dalam surat Al Hadiid [57] : 3 Yang Awal dan Yang Akhir, Yang Zhahir dan Yang Bathin, dan Dia mengetahui segala sesuatu”. Yang secara fisika kita dapat maknai bahwa semua yang lahiriah ditopang dengan yang batiniah atau gaib. Atau dalam pengertian kausalitas kuantum apa yang disebut Yang Awal dan Akhir, Yang Zhahir dan Yang Bathin hakikatnya adalah sesuatu yang sama itulah Dia  Tuhan Yang Esa yang mengetahui segala sesuatu.

Supaya lebih mudah, barangkali perlu dijelaskan makna dari penggunaan waktu imajiner secara matematis. Waktu imajiner dapat  dianalogikan dengan cerita sufi  Berbagi Unta  berikut ini yang


dikutip dari Buku Hikmah Dari Timur karya Idries Shah [92].

Seorang guru sufi yang sudah merasa pasti bahwa ajalnya telah tiba mewariskan 17 (tujuh belas ekor unta) kepada murid-muridnya. Begini wasiatnya :

“Kepada 3 (tiga) orang diantara kamu sekalian akan kuwariskan unta-unta ini dengan pembagian sebagai berikut : Yang tertua diantara kamu sekalian akan mendapatkan setengah (1/2), yang usianya tepat dipertengahan antara yang tertua dan yang termuda akan mendapatkan sepertiga (1/3) sedangkan yang termuda usianya akan mendapatkan sepersembilan (1/9) dari jumlah-jumlah unta-unta ini”.

Begitu sang guru sufi meninggal wasiatnya dibacakan. Mula-mula para murid itu terheran-heran karena cara membagi warisan guru mereka itu sangat tidak efisien. Sebagian diantara mereka berkata :”Baiklah kita terus memiliki unta-unta ini bersamaan saja, kan susah membaginya”,
sebagian meminta nasihat kepada pihak lain kemudian berkata: “kita telah dinasihati untuk membagi unta-unta ini setepat mungkin”, dan yang sebagian lagi dinasihati oleh seorang hakim untuk menjual unta-unta itu dan membagi uang perolehan mereka; namun sebagian yang lainnya beranggapan bahwa warisan itu tidak sah karena pembagiannya tidak bisa dilaksanakan (tidak realistis).


Akhirnya terpikirlah oleh mereka bahwa di dalam wasiat sang guru mungkin tersimpan kebijaksaan, oleh karena itu mereka pun mulai mencari orang yang dapat memecahkan masalah-masalah yang tak terpecahkan.



Namun, setiap orang yang mereka coba gagal untuk memecahkan persoalan mereka, sehingga akhirnya mereka sampai ke rumah menantu Nabi Muhammad SAW yaitu Sayyidina Ali kwj. Kepada mereka Sayyidina Ali kwj berkata:

“Begini lho pemecahan masalah kalian itu. Akan kupinjamkan seekor unta kepada unta-unta kalian yang berjumlah tujuh belas ekor itu. Dari delapan belas ekor unta ini setengahnya  sembilan ekor  diberikan kepada murid yang tertua. Murid yang usianya dipertengahan antara yang tertua dan termuda akan menerima sepertiga dari jumlah itu - yaitu
enam ekor unta. Dan murid yang termuda akan menerima sepersembilannya - yaitu dua ekor unta. Semuanya berjumlah tujuh belas ekor. Seekor yang tersisa  untaku sendiri  jadi akan kuambil kembali”.

Begitulah pada akhirnya para murid dapat menerima wasiat guru sufi dengan adil dan sekaligus menemukan guru baru mereka.


Cerita sufistik diatas dapat kita tafsirkan bermacam- macam (penafsiran sejatinya mungkin berkaitan dengan
17 rakaat shalat bagi setiap manusia yang dikiaskan dalam periode muda, dewasa, dan menua. Sejatinya 17 rakaat adalah suatu anugerah  bagi  manusia untuk mencapai Allah Yang Esa yang dikiaskan dalam cerita diatas sebagai satu tambahan unta untuk menyatakan bahwa penambahan itu sekedar hidayah Allah semata. Jadi sejatinya manusia dapat beribadah 17 rakaat, dapat melakukan mi’raj mencapai Allah SWT adalah karena pertolongan Allah semata (kalimah haulakah)). Namun yang ingin saya tekankan adalah kecerdikan Sayyidina Ali k.w.j dengan meminjamkan untanya untuk memecahkan persoalan yang pelik dan nyaris buntu yaitu pembagian warisan yang adil. Meskipun jumlah unta menjadi bertambah, namun secara esensial pembagian warisan itu terlaksana dengan adil dan tepat tanpa mengubah wasiat si guru sufi. Ini ibarat memunculkan sesuatu dari yang tidak ada (yang tidak dimiliki oleh para murid yaitu pengetahuan). Demikian juga dengan peranan waktu  imajiner  dalam  pembuktian  kun3   secara

3 Di dalam matematika bilangan imajiner, disimbolkan dengan tanda minus i (-i), sering digunakan juga koordinat imajiner dan persamaan imajiner. Sebagai contoh, para desainer aerodinamis sayap pesawat biasanya menggunakan suatu persamaan imajiner untuk mewakili bentuk profil sayap pesawat yang dapat memberikan gaya angkat maksimum. Juga perlu diketahui, konsep bilangan imajiner (i=akar -1), notasi bilangan nol, dan tanda negatif (-
) diusulkan oleh al-Khawarizmi seorang   Sarjana Muslim


matematis. Tujuannya adalah untuk membantu memberikan solusi praktis tanpa mengganggu esensi dari persoalan yang sesungguhnya. Dalam kasus 17 unta warisan diatas adalah pembagian yang adil sedangkan dalam kasus penciptaan adalah pengetahuan abstraksi mengenai waktu imajiner untuk membantu membuktikan suatu kejadian nyata yang secara logika sains disebut tanpa sebab yaitu penciptaan alam semesta yang muncul dari ketiadaan atau kehendak mutlak Allah SWT.

Dengan menggunakan waktu imajiner dalam proposal kondisi tanpa tapal batas, berbagai persoalan paradoks kosmologis di kondisi awal mula penciptaan, khususnya suatu peristiwa terjadi tanpa sebab, bisa dibuktikan secara ilmiah. Gagasan matematis kondisi tanpa tapal batas dan waktu imajiner bersama-sama dengan persamaan integral setapak akhirnya digunakan sebagai alat bantu untuk menggambarkan kondisi awal mula dimana “kun fa yakuun” dicetuskan seperti yang diusulkan oleh Hawking-Hartle dan terbukti bahwa sesuatu

semasa pemerintahan Harun Al-Rasyid (786-809 M)  dan pemerintahan Al Makmun (813-833 M) dimana saat itu berbagai ilmu pengetahuan kealaman dieksplorasi oleh para Sarjana Muslim yang selanjutnya melahirkan tokoh-tokoh filosof ilmuwan seperti Ibnu Sina, al-Khawarizmi, al-Bairuni, Ibnu Haytam, Ibnu Rusyd, dll. Setelah Perang Salib, berbagai khazanah keilmuan Islam di bawa ke Eropa yang membawa Eropa keluar dari Abad Kegelapan dan melahirkan Abad Renaissance.


bisa muncul dari suatu vakum gaib (ruang tanpa dimensi) atau alam gaib. Dan dari sudut pandang Allah SWT, memang tidak ada maknanya apakah waktu itu nyata atau tidak, oleh karena bagi-Nya cetusan kun fa yakuun tidak sekedar cetusan untuk mencipta (mengawali) namun juga cetusan untuk mengakhiri ciptaan-Nya sekaligus, jadi secara langsung menyatakan pengertian kondisi tanpa tapal batas kalau hal ini dipahami dari sisi makhluk seperti yang  diusulkan oleh proposal Stephen Hawking.



Bab 5. Perspektif Ruang- Waktu Menurut Al Qur’an


Gambaran alam semesta di dalam al-Qur’an dengan Al-Aalamin memang memberikan makna yang majemuk atau adanya alam jamak seperti tersirat dalam beberapa ayat yang diulas diatas. Namun, pada prinsipnya terdapat suatu pengaturan yang terintegrasi dalam memaknai alam semesta dalam konteks suatu kontinuum kesadaran-ruang-waktu. Pengaturan tersebut ternyata hanya menyangkut tiga jenis kealaman seperti disebutkan Ibnu Arabi yaitu alam yang gaib mutlak, meta-gaib, dan nyata. Alam gaib mutlak adalah yang berkaitan dengan Dzat Allah, alam meta-gaib disebut alam jabarut; alam jabarut cenderung berhubungan dengan penampakkan pertama di alam inderawi. Sedangkan alam malakut mempunyai orde yang lebih materialistik sehingga seringkali alam malakut sebenarnya sisi gaib dari alam nyata yang dapat diindera. Oleh  karena itu, surga dan  neraka  bisa dikatakan sebagai alam nyata, walaupun seringkali kita menyebutnya sebagai alam gaib.

Alam gaib mutlak tidak berhubungan dengan pengertian    kontinuum    kesadaran-ruang-waktu,


sedangkan alam jabarut, alam malakut dan alam nyata berhubungan dengan kontinuum kesadaran- ruang-waktu. Sebenarnya di dalam al-Qur’an berbagai aspek yang berhubungan dengan ruang- waktu disebutkan dalam beberapa ayat misalnya dalam QS 19:64,

Kepunyaan Allah apa-apa yang dihadapan kita, apa-apa yang ada dibelakang kita dan apa-apa yang ada diantara keduanya, dan tidaklah Tuhanmu lupa.

Ayat diatas menunjukkan pengertian dulu, kini dan nanti yang merupakan ruang-waktu relatif. Selain ayat diatas, beebrapa konsep sistem ruang-waktu kealaman disebutkan dalam ayat-ayat yang berhubungan dengan alam semesta. Pengertian dua masa, enam masa, dan perjalanan sehari disisi Tuhan = Seribu tahun dalam QS al-Hajj atau yang lainnya menunjukkan pengertian-pengertian yang berhubungan dengan ruang-waktu. Bahkan secaar lebih spesisifik QS Wal asr menunjukkan bagaimana pentingnya waktu sebagai sesuatu yang sangat berharga karena secara langsung berhubungan dengan suatu kehendak untuk mengadaklan suatu eksistensi. Sehingga yang mengabaikan waktu dikatakan merugi, bukan berartyi merugi sekedar kerugian yang sifatnya materialistik seperti kehilangan peluang bisnis atau yang lainnya, tetapi lebih absolut lagi adalah kehilangan peluang untuk mengingat Allah. Maka,


kerugian yang dimaksudkan dalam wal asri adalah kerugian yang absolut yang sifatnya tak mungkin digantuikan. Kerugian materi mungkin bisa kita cari lagi selama kita mau berusaha dengan benar. Namun, kerugian waktu yang sifatnya berhubungan dengan mengngat Allah maka kerugian seeprti itu tak mungkin terganatikan.

5.1  Konsepsi Ruang-Waktu Menurut Al Qur’an


Selain membicarakan ruang-waktu sebagai sesuatu yang relatif, al-Qur’an memang membicarakan ruang-waktu yang lebih absolut seeprti difirmankan dalam ayat-ayat yang menunjukkan relativitas waktu, adanya alam barzakh dan akhirat.

Ruang-waktu, baik absolut maupun relatif nampaknya memang berkaitan erat dengan jagat raya itu sendiri,baik yang nyata maupun yang gaib. Secara umum, konsep ruang-waktu gaib dan nyata juga dijelaskan dalam al-Qur’an dalam beberapa ayat. Namun secara umum ruang-waktu atau sistem referensial yang berhubungan dengan alam semesta gaib dan nyata dapat dibagi dalam beberapa pengertian. Yang menatrik pengertian atau konsepti ruang-waktu dan jagat raya di dalam al-Qur’an erat kaitannya dengan manusia itu sendiri. Dalam kajian tasawuf, alam semesta dikatakan makrokosmos dan manusia dikatakan mikrokosmos.


Kedua kesimpulan tasawuf itu satu sama lain menunjukkan adanya relasi atau transformasi langsung antara jagat raya maupun manusia. Bahkan secara psikologis, apa yang dimaksudkan dengan jagat raya itu sendiri merupakan suatu olahan psikologis manusia dalam memahami dirinya sendiri, alam semesta dan Tuhannya. Namun, dalam penerapan praktisnya hubungan- hubungan yang terjadi antara manusia dan alam semesta saat ini dipahami dengan cara yang kurang sempurna yaitu pengertian yang dilandaskan pada filsafat materialiasme. Sehingga, dalam dunia ilmu pengetahuan manusia konsepsi alam semesta hanya dipahami dalam perpsktfi matriliastik yaitu alam semesta sebagai kontinuum ruang-waktu atau kebendaan semata.

Al Qur’an dengan berbagai informasi yang satu sama lain saling terkait ternyata memahami alam semesta dan manusia dengan perspektif yang utuh, terintegrasi dan dalam berbagai modus oprandi terganung bagaimana kita melihat titik pandang semua itu. Namun, semua konsepsi yang muncul sebenarnya diarahkan kepada suatu titik pusat yang lebih absolut yaitu kebaradan Allah SWT sebagai pusat pergerakan semua  eksistensi makhluk. Jadi bukan terbatas sekedar manusia, namun makhluk lainnya yang kita lihat ataupun tidak adalah suatu alam semesta yang dgerakkan oleh-Nya seagai Pencipta, Pemelihara dan Pendidik yaitu Raab Al-


aalamin.

Konsepsi ruang-waktu dalam Al-Qur’an dapat ditinjau dari :
·        perspektif       kesejarahan       alam     semesta (makrokosmos),
·        perspektif        kehidupan      dan       manusia (mikrokosmos),
·        perspektif peribadahan yaitu Isra & Mi’raj,
·        dan perspektif akal rasional.

Dari keempat perspektif tersebut ternyata masing- masing melibatkan 4 macam alam yaitu :
·        Alam Gaib Mutlak,
·        Alam Jabarut,
·        Alam Malakut, dan
·        Alam   Syahadah    (alam    kebendaan    atau obyek).

Dengan demikian untuk masing-masing perspektif sebenarnya terlibat terlibat ke-empat alam tersebut.

5.2  Perspektif Makrokosmos


Ruang-waktu dan jagat raya dalam perspektif makrokosmos difirmankan Allah SWT melalui QS 29:41, QS 69:1 dan suatu hadis yang menyatakan adanya 70.000 tabir antara makhluk dan Allah SWT.



QS 29 adalah surah al-Ankabut yang merupakan surat penengah dari 29 surat fawatih yang mengandung huruf-huruf fawatih seperti alif, lam, miim, shaad, dan lain-lainnya.

Perumpamaan orang-orang yang mengambil pelindung-pelindung selain Allah adalah seperti laba-laba yang membuat rumah. Dan sesungguhnya rumah yang paling lemah ialah rumah laba-laba kalau mereka mengetahui. (QS 29:41)

Kalau dijumlahkan nomor surat dan nomor ayat akan berjumlah 29+41=70 . Dari segi isi dan makna, laba-laba sebagai sarang yang lemah adalah kiasan untuk manusia sebagai alam mikro yang menyandarkan apa alam fisik semata atau kekuatannya semata, dan alam semesta makro yang tersusun dalam suatu bentuk dasar yang saling berkaitan atau menunjang seperti sarang laba-laba. Baik dengan perpsektif mikro maupun makro keduanya dikatakan Allah sebagai “rumah yang paling lemah” yang menunjukkan ketergantungan alam mikro dan makro pada kekuatan dan kekuasan Allah SWT. Dengan demikian, QS 29:41 sebenarnya dapat digunakan sebagai rujukan yang menyatakan konstruksi alam mikro maupun makro, baik alam semesta global maupun manusia, baik yang   sifatnya   gaib   maupun   nyata   yaitu   yang


tersusun atas lama gaib mutlak, alam jabarut, alam malakut dan alam akal rasional.

QS 69 adalah surah al-Haqqah (Hari Kiamat ), ayat pertama surat ini adalah penyebutan suatu kalimat yaitu Hari Kiamat”. Jumlahan nomor surat dan ayat 69+1=70. Pengertian kiamat juga dapat dipahami dengan 2 perpsektif yaitu sebagai awal dan akhir sekaligus, yang bearti sebagai kelahiran ataupun kehidupan, keduanya dapat dipahami sebagai awal mula semua eksistensi makhluk dan akhir dari eksistensinya setelah tersembunyi di alam gaib atau sebelum diciptakan.

Rasulullah bersabda bahwa,

“Sesungguhnya Allah mempunyai tujuh puluh hijab (tirai penghalang) cahaya dan kegelapan. Seandainya Dia membuka hijab itu , niscaya cahaya wajah-Nya akan membakar siapa saja yang melihat-Nya”

Hadis diatas dikutip oleh Al Ghazali dalam kitab Mysikat Al-Anwar ketika mengulas hijab antara Allah dan makhluk-Nya. Pada beberapa riwayat dikatakan bahwa tujuh ratus hijab dan riwayat yang lain dinyatakan tujuh puluh ribu hijab. Jumlah hijab yang disebutkan diatas bukan dilihat dari sisi Allah, namun dari sisi makhluk. Jadi, bagi Allah tidak ada hijab antara Dia dengan makhluk-Nya , namun bagi


makhluk maka terdapat hijab dengan lapisan 70, 700 atau 70.000. Mungkin kita bingung, sebenarnya mana yang benar antara angka-angka diatas?

Untuk itu kita harus melihat pengertian hijab itu sendiri yang pada beberapa kitab tasawuf seringkali dikatakan sebagai tabir, penghalang, atau suatu benda yang menghalangi dirinya dari melihat Allah SWT. Dalam bahasa psikologis, maka hijab itu sendiri sebenarnya dapat dimaknai sebagai akal pikiran kita sendiri yang tidak mau menerima suatu realitas diluar realitas yang dapat ditangkap inderawinya yaitu mata, telinga, kulit dan inderawi lahiriah lainnya. Sehingga pandangannya hanya terbentuk pada aspek kebendaan semata. Itulah hijab yang pertama. Namun, pengertian hijab atau tabir sebenarnya mempunyai makna yang  fisikal dan nyata sebagai suatu tabir energi yang berlapis- lapis yang memaujudkan benda-benda.

Fisika modern menyimpulkan bahwa cahaya adalah suatu bongkahan kuanta energi elektromagnetik yang ukurannya sudah tertentu atau frekuensinya tertentu. Dengan demikian, cahaya bukanlah suatu energi yang mulus atau menjalar dengan lurus seperti kita duga. Cahay tidak menjalar dengan garis lurus, namun cahaya merambah dengan cara diskrit atau terputus-putus sesuai dengan tingkat energi yang dibawa oleh partikel pembawanya yaitu foton. Gambarannya secara fisikal adalah - - - - - - suatu


garis putus-putus. masing-masing garis mewakili satu tingkatan energi atau satu tabir atau hijab. Dengan pengertian demikian, maka cahaya adalah suatu bongkahan energi yang bershaf-shaf (QS 37) alias bergelombang yang secara terus-menerus menjalar dalam suatu medium sampai akhirnya cahaya mencapai suatu kondisi keseimbangan dan muncul materi sebagai suatu eksistensi yang muncul mandiri karena tercapainya kondisi seimbang tersebut. Dengan demikian pengertian tabir atau hijab adalah kuanta energi yang besarnya atau kadarnya sudah ditentukan dari sumbernya yang absolut yaitu yang memunculkan Cahaya Diatas Cahaya yang tidak bisa kita tangkap secara inderawi.

Ketika cahaya atau energi gelombang elektromagnetik menjadi materi sempurna, maka kecepatannya nyaris nol atau mendekati secara teoritis apa yang disebut sebagai temperatur nol mutlak”. Pada kenyataannya suhu nol mutlak tidak pernah tercapai, dalam perhitungan laboratorium suhu terkecil hanya dicapai 1/109 derajat celcius. Jadi pengertian nol mutlak adalah pengertian teoritis semata. Akan tetapi, dalam perjalanannya antara satu satu tingkatan energi dengan energi yang lain, cahaya sebenarnya selalu berada dalam kondisi keseimbangan.

Isyarat cahaya sebagai suatu energi yang terkuantifikasikan dalam berbagai kuantifikasi atau


besaran dan selalu dalam keseimbangan, sebenarnya difirmankan dalam al-Qur’an dengan jelas yaitu,

Dia mengatur urusan dari langit ke bumi, kemudian (urusan) itu naik kepada-Nya dalam satu hari yang kadarnya (lamanya) adalah seribu tahun menurut perhitunganmu. (QS 32:5)

Sehari=1000 tahun adalah informasi yang disampaikan Allah SWT di dalam al-Qur’an yang menyatakan suatu kuantifikasi dan keadaan seimbang setiap kali “urusan” naik kepada-Nya. Seribu tahun adalah suatu perhitungan yang menunjukkan besaran waktu, namun dalam perspektif kesebandingan antara satu tabir energi dengan tabir energi lainnya maka pengertian sehari adalah satu tabir dan seribu tahun adalah tebal dari masing-masing tabir yang dapat muncul dari sisi makhluk dengan Allah SWT. Kalau kita masukkan kesebandingan ini dalam formulasi teoritis Relativitas Enstein yaitu :

2       1/2

t/to=1/(1-V /c )


Diperoleh suatu fakta menarik bahwa angka 1000 itu mendekati angka kecepatan cahaya, demikian juga ketika kita masukkan orde besaran 2000, 3000, atau 50.000 (QS 70:4) nilai kecepatan suatu entitas cahaya , katakanlah suatu malaikat, selalu akan mendekati  kecepatan  cahaya.  Dengan  demikian


nilai 1000 tersebut merupakan batas minimal tabir yang sudah terkuantifikasikan.

Dengan menggunakan QS 32:5 dan uraian fisika modern diatas maka saya simpulkan bahwa apa yang dimaksud dengan 70 tabir oleh Al-Ghazali dan angka 70 yang muncul dari QS 29:41 dan QS 69:1 sebenarnya 70x1000 atau 70.000 tabir energi.

Gambar 1. Perspektif Makrokosmos


Dalam perspektif teori kuantum, maka setiap tabir dengan ketebalan 1000 itu merupakan suatu kelipatan dari orbital-orbital yang memenuhi hubungan   keseimbangan   antara   masing-masing


tingkatan energi. Jadi, hadis yang disampaikan oleh Rasulullah tentang 70 hijab sejatinya menyatakan banyaknya orbital. Sedangkan 70.000 hijab menyatakan kuantitasnya secara total yaitu 1 orbital=1000 tahun yang tidak lain merujuk kepada QS 32:5. Oleh karena itu pengertian Kiamat dalam Qs 69:1 menunjukkan tampilnya wajah Allah di alam nyata, yang tentunya akan menghancurkan semua eksistensi karena kekuatannya yang dahsyat sebagai Cahaya Diatas Cahaya. Oleh karena itu tabir yang diciptakan Allah SWT adalah untuk kepentingan makhluk juga karena Dia adalah Rabb Al Aalamin Pencipta, Pemelihara dan Pendidik.

Akan tetapi eksistensi Allah SWT sebagai Yang Gaib dapat dicitarasakan makhluk bila dia mau melakukan penyingkapan-penyingkapan tabir yang melingkupi dirinya tanpa kemusnahan secara fisikal karena adanya naungan Nur Muhammad sebagai Rahmaatan Lil Aalamin. Antara Rabb Al-Aalamin inilah yang saling berhadapan dengan Rahmaatan Lil Aalamin melalui tabir Basmalah. Tanpa tabir ini maka makhluk tak akan terciptakan. Dan dengan demikian, semua eksistensi makhluk merujuk pada eksistensi awal mula sebagai kadar atau ketentuan awal mula sebagai Nur Muhammad dan Rahmaatan Lil Aalamin yang menjadi citra kesempurnaan Rabb Al Aalamin. That it’s! Inilah kondisi keseimbangan awal mula dalam orde Cahaya Diatas Cahaya sebagai Rabb Al Aalamin dengan Nur Muhammad


sebagai Rahmaatan Lil Aalamin dengan suatu tabir yang melindungi sebagai rahmat dan kasih sayang Allah sebagai Rabb Al Aalamin yaitu Basmalah. Simbolisme matematisnya adalah :

Raa=Ba x[NM + Rla/12]


Dimana Raa adalah Rabb Al-Aalamin, Ba adalah Basmalah, NM Nur Muhammad, dan Rla adalah Rahmaatan Lil Aalamin. Jumlahan antara NM dan Rla sebenarnya menegaskan bahwa penciptaan adalah pelimpahan  dengan  kekuasaan, yaitu  hasil kali dari Ba dengan jumlahan antara Rla dan NM. Ini dia Theory Of Everything yang terwujud secara fisikal dalam maujudnya Nabi Muhammad SAW sebagai Adimanusia. Kalau kita cermati relasi simbolis matemati diatas, Ba sebagai Basmalah tak lain dari tauhid “Laa Ilaaha Ilaa Allah” yaitu angka 12, Namun ia muncul dari adanya Ism Agung Allah sebagai yang memberikan al-Hayyu, al-Qayyum, al- Iradah, dan al-Qudrah atau Allah sebagai Yang Maha Berilmu Pengetahuan, maka Allah sebagai Ism Agung adalah Allah sebagai Diri-Nya Sendiri sebagai angka 10, maka Ba adalah angka 12/10 sebagai tetapan universal awal mula. Dengan demikian :

Raa=12/10x[NM + Rla/12]


NM dan Rla sebenarnya merupakan suatu unifikasi


awal mula dari Hakikat Nur Muhammad. Pada perkembangan selanjutnya Rla dan NM akan menjadi Ruh Muhammad yang menjadi cikal bakal Ruh manusia. NM sebagai Nur Muhammad menjadi cahaya yang akan memunculkan sifat-sifat materialistik ruh. Ketika kedua aspek hakikat Muhammad itu setiap saat selalu bersama-sama dalam keadaan keseimbangan. Esensi Rla dan NM yang pertama adalah materi awal mula sebagai Ruh Muhammad. Ketika materui pertama kali muncul maka Ruh Muhammad disebut juga Partikel Hipotetik Atmo (PHA) sebagai bentuk nyata dari Rahmaatan Lil Aalamin dan Nur Muhammad. Ketika pertama kali muncul maka Rahmaatan Lil Aalamin dan Nur Muhammad meluaskan semesta membangun fondasi dasar dari Rahmaatan Lil Aalamin dan Nur Muhammad yang menjadi pelindung semua makhluk.

Berapa luasnya, saat itu tak terkirakan karena esensi waktu belum nyata benar. Yang muncul adalah lautan Ilmu Pengetahuan Tuhan yang eksis sebagai Hakikat Muhammadiyyah, Qalam dan kemudian menjadi Lauh Mahfuzh untuk menentukan segala sesuatu dengan kepastian dan ukuran. Lauh mahfuzh merupakan realitas dari semua ketentuan yang telah ditetapkan ketika tajalli Allah masih Gaib Mutlak yaitu esensi dari ar-Rahmaan dan ar-Rahiim. Itulah yang kemudian menjadi angka 12 sebagai tetapan   universal   dan   angka   10   sebagai   yang


memaujudkan keinginan-Nya.

NM dan Rla adalah tajalli dari penampakkan Rabb Al-Aalamin sebagai makhluk, ia adalah cermin dari kesempurnaan-Nya. Oleh karena itu, suku sebelah kanan menyatakan tajalli Allah namun bukan Allah karena ada tetapan yang membatasi sebagai suatu tabir antara Tuhan  dan Makhluk yaitu Basmalah (Ba=12/10). Dengan demikian, representasi Raa sebagai suatu simbolisme matematis adalah bukan menyatakan bahwa itulah esensi Dzat, namun lebih tepat sebagai Asma dan Sifat Allah seperti kita mengenalnya sebagai Asma dan Sifat Allah sebagai Allah, ar-Rahmaan, ar-Rahiim dan Asma serta sifat lainnya. Tidak ada jalan untuk mengenal Allah bagi makhluk kecuali dengan Asma dan Sifat-Nya yang dapat dikenali oleh karena keterbatasan kita sendiri sebagai makhluk. Dengan demikian, formulasi diatas jangan disalahpahami dengan bodoh seolah- olah Allah menjadi rumus matematis, walaupun sejatinya semua yang dituliskan oleh makhluk adalah Ilmu Allah. Pahami saja masalah ini sebagai penguraian Ilmu Allah dalam bahasa yang dapat dipahami oleh manusia.

Ketika Rabb Al-Aalamin berkehendak untuk menciptakan, Dia berfirman dengan “kun fa yakuun” (QS 36:82) dengan 2 sifat dominan-nya sebagai Al-Iradah dan al-Qudrah, dan 3 Ism Agung-Nya yaitu Allah, ar-Rahmaan dan ar-Rahiim


yang menjadi kalimat Basmalah (QS 1:1). Perhatikan kesuaian antara nomor surat dan ayat dari kedua firman tersebut dengan memandangnya dari sisi lahir dan batin, sebagai yang Lahir  dan Yang Batin dari QS (57:3) : 3+6+8+2=19 atau kalau kita jumlahkan diperoleh 36+82=108, sebagai yang lahir dari Kun fa Yakuun”, 3 Ism Agung yang menjadi 19 huruf Basmalah yang berbunyi menjadi surat pertama al-Fatihah QS 1:1 dan nomor surat dan ayat ini menjadi angka 11 bukan angka 2. Dari jumlahan 19+11 diperoleh angka 30 sebagai tajalli dari 5 unifikasi Asma dan Sifat, yang menyebabkan penampakkan Allah yang aktual dan tercitrakan sebagai makhluk yang menempati ruang dan waktu dengan dukungan 30 permukaani yang menunjangnya yaitu bentuk Dedokahedron atau berlian 12 sisi, dengan penampang hexagonal (segienam). Kalau kita jumlahkan aspek yang batin dari QS 1:1 sebagai angka 2, maka ia menjadi aspek yang batin dari “kun fa yakuun” yang lahir yaitu 108, sehingga diperoleh jumlahannya sebagai 108+2=110 atau 110/10 yang menunjukkan aktualisasi angka 11 sebagai faktor pengali dari 12 huruf tauhid dan aktualnya an-Nashr QS 110 sebagai realitas yang menjadi sumber penegak semua makhluk.

5 Asma dan sifat ini menjadi batasan maksimal dimana unifikasinya menghasilkan bentuk makhluk yang   paling   sempurna.   Artinya,   cukup   hanya


dengan 5 Asma dan Sifat saja segala sesuatu dapat ditampilkan di alam nyata ini. Ketika kita gunakan Asma dan Sifat dengan angka 6, maka tajalli Allah menuju tidak ketidakberhinggaan alias tidak habis bagi. Dengan demikian, angka 5 emnjadi tetapan dasar semua makhluk yang maujud di alam semesta fisikal ini. Dalam arti dapat diindera manusia. Tajlli Allah lainnya eksis namun tidak dapat diindera oleh inderawi makhluk di alam ke-7 ini yang menunjukkan suatu desain yang membatasi kemampuan makhluk dalam kontinuum kesadaran- ruang-waktunya.

Dengan cara yang berbeda, tajalli 5 Asma dan Sifat dari kun fa yakuun dan Basmalah dapat diperoleh dengan menggunakan formulasi tajalli Allah yaitu :

1/A = 1/x – 1/6


Nilai x adalah jumlah Asma dan Sifat dan A adalah tajalli Allah yang dihasilkan dari 5 Asma dan Sifat jadi x=5 diperoleh A=30. Perhatikan bahwa pada x=6 maka A menjadi tidak berhingga sehingga nilai 1/6 merupakan suatu konstruksi mendasar makhluk agar eksis di alam inderawi.

Angka 5 sebagai unifikasi Asma dan Sifat mempunyai makna fisikal ketika kita merujuk pada penampilan suatu benda ciptaan dengan titik temu yang menegakkan benda tersebut dalam bentuk 3


dimensi yang lebih nyata, atau bentuk lahiriahnya di alam nyata. Setiap sudut di bagian tengah dedokahedron 12 sisi itu merupakan titik temu atau suatu sudut dimana 5 Asma dan Sifat bertemu sebagai suatu kekuatan unifikasi atau gabungan. Dengan demikian, unifikasi 5 asma dan Sifat itu menjadi 19 huruf haulaqah yaitu “Tiada daya dan upaya kecuali daya dan upaya Allah semata”. Dengan itulah maka shalat 5 waktu menjadi ketetapan universal agar semua makhluk tetap berdiri tegak baik manusia maupun alam semesta ditegakkan dengan kalimat haulaqah tersebut.

Dengan merujuk pada kondisi Asma dan Sifat = 5 dan batasan maksimum yang menyebabkan Allah tidak habis bagi, maka relasi Rabb Al-Aalamin dapat diringkas sbb:

Raa = 6/5 (NM + Ral/12)

Oleh karena itu, unifikasi NM+Ral/12 tidak lain adalah A.

A = NM+Ral/12

Untuk memperoleh nilai A = 1 sebagai penampakkan pertama maka disyaratkan :

1 = NM + Ral/12


Bila Ral=12 maka NM=0, artinya tidak terjadi penciptaan. Bila NM=0 maka Ral=12,  diperoleh Raa = 6/5 (12/12) = 6/5 artinya tajalli Raa sebagai Dirinya sendiri.

Oleh karena itu untuk terjadi penampakkan maka Ral < 12 dan NM > 0 . Dengan demikian,

12=12 NM+Ral atau Ral = 12(1-NM)

Ral = 10, NM = 2/12 = 1/6 maka A = 1/6 + 10/12 = 2/12+10/12 = 12./12 = 1
Ral = 11, NM = 1-11/12 = 1/12 A = 1/12 + 11/12 = 12/12=1
Ral = 2, NM = 1-2/12 = 10/12 = 5/6 Ral = 1, NM = 1-1/12 = 11/12

Ral = 6 , NM = 1/2

Diperoleh suatu hubungan menarik bahwa pada Ral
= 11 dan NM=1/12, nilai Raa akan=6/5 sebagai tajalli Diri-Nya sendiri dengan Nur Muhammad sebagai konstruksi 1/12 dan Asma ar-Rahmaan sebagai Ral = 11. Ral sebagai Rahmaatan Lil Aalamin akan menjadi menjadi dasar konstruksi al- Qur’an.

Al Qur’an = Ral/NM = 11/(1/12) = 11x12 = 132
= 6x22=2x3x2x2x2x3 =


AQ = Alam Semesta/12

Alam Semesta = 12*(Al Qur’an) = 12*(6*22) = 2x2x3x2x3x2x2x2x3 = 25x33

Kalau  kita  kalikan  jumlah  ayat  al-Quran  dengan nilai ini diperoleh :

Alam Semesta = 12*6236 = 74382

Dengan      jumlahan      bilangan      1+2=3       dan 6+2+3+6=17 diperoleh angka

Alam Semesta = 3*17 = 51 atau 3*(1+7)=24

Hasil              kali              keduanya                adalah 51*24=1224=2x2x3x2x2x2x3

51=5+1=6 demikian juga 24=2+4=6 , 6x6=36 yang merupakan konstruksi 1x6 sebagai lingkaran dengan 6 sisi yang melingkar atau 6 bidang. Selain itu, angka 36 juga  menunjukkan korelasi dengan Yaa Siin sebagai surat no 36 yang menjadi jantung alam semesta.

-------------

Diperoleh  kemudian  kalau  kita  masukkan  nilai A=30 nilai Raa adalah :


A=[NM + Rla/12]

Ral=6 A=30 diperoleh NM = 30  6/12 = (30x12
 6)/12 = (360-6)/12
NM = 354/12 = 29.5

Raa = 12xA/10

12xA=12x30=354 + 6 = 360 = 6x6x10

Raa = 12/10 x 30 = 12x3 = 2x3x3=36=6x6


Nilai Raa ini menunjukkan QS 57:3 “Yang Awal dan Yang Akhir, Yang Lahir dan Yang Bathin, ilah Yang maha Mengetahui” yaitu 12x3 adalah penauhidan tiga tahap. Sebagai simbolisme lingkaran yang tidak lain adalah jantung dari Alam semesta sekaligus jantung dari Al-Qur’an yaitu Yaa Siin. Jantung atau hati alam semesta adalah metafora tingkat tinggi untuk mengatakan sebagai adanya Cahaya Diatas Cahaya atau Hakikat Muhammad sebagai pembangun tatanan alam semesta yang merupakan manifestasi langsung Rabb Al-Aalamin.

Dalam QS 36, “kun fa yakuun” sebagai firman penciptaan semua makhluk difirmankan dalam QS 36:82 sebagai penggerak pertama dari Penciptaan segala sesuatu. QS 36 secara keseluruhan menunjukkan  bahwa  Rabb  Al-Aalamin  sebagai


pencipta, pemelihara dan pendidik. Maka keruntuhan alam semesta sebagai  tajalli  Allah adalah keruntuhan penauhidan Sang Pencipta - Rabb Al-Aalamin. Denyut pertama alam semesta adalah Yaa Siin, denyutan selanjutnya ternyata merupakan simbolisme yang nyata yang berhubungan dengan surat al-Faathiir [35]:1 (35+1=36) dimana malaikat bahu membahu membangun alam semesta, merealiasaikan hukum- hukum menjadi teori kuantum dan relativitas. Dalam QS 35 hal itu difirmankan dalam QS 35:1 sebagai suatu rincian penciptaan oleh para malaikat yang bersayap 2,3,4 dan seterusnya. Untuk memahami hal ini, kita sebenarnya memerlukan terobosan psikologis di luar wilayah pengertian huruf. Namun, dalam wilayah angka dan makna yang lebih luas. Bagi yang mengenal fisika modern sebenarnya hal ini mudah dilakukan ketika Allah berfirman dengan QS 35:1 dimana malaikat mempunyai sayap 2,3,4 dst. Hal ini berkaitan dengan teori kuantum atau teori atom yang merupakan rincian penciptaan alam mikro oleh Nur Muhammad yang kelak menjadi gelombang elektromagnetik dan Rahmaatan Lil Alamin sebagai manifestasi ar-Rahmaan sebagai gelombang gravitasi.

Angka 36 sebenarnya menunjukkan simbolisme bentuk lingkaran kalau kita kalikan dengan angka 10 dari  Asma  dan  sifat  Allah,  sehingga  diperoleh


36x10=360. Atau suatu lingkaran yang terbangun dari 6 segitiga sama sisi yang membangun segi enam (hexagonal). Dengan demikian angka 36 sebanding dengan keliling lingkaran sebagai huruf PHI dikali 2 atau 2x22/7 atau

Raa = 36=2xPHI= (21/7 +1/7)x2 = 42/7 + 2/7
= 6+2/7

Kita peroleh secara simbolis adanya hubungan antara QS 1:2 sebagai segala puji bagi Allah seru sekalian alam dengan angka 6 yang diperoleh dari 42/7=6x7/7. Sejatiny aketika kita menguraikan hal ini berdasarkan PHI sebagai simbol kesempurnaan Rabb al Aalamin angka 6 adalah 6 surat al-Fatihah setelah Basmalah, sedangkan 2/7 menunjukkan ayat ke-2 yang berhubungan dengan Hamdalah. Jadi hubungan-hubungan di dalam al-Qur’an dapat diturunkan dengan formulasi Raa = 12 [Ral+NM/12].
-------------
Basis dasar dari penguraian Raa sebagai al-Qur’an dapat juga diperoleh dengan cara yang berbeda beda. Namun, tetapannya sama yaitu angka 12 sebagai tetapan universal. Secara umum nilai Raa harus sama dengan jumlah ayat al-Qur’an saat ini.

Raa=12/10x[NM + Rla/12]


Formulasi ini ternyata mempunyai korelasi dengan


formulasi yang dihasilkan dari penguraian al-Qur’an dengan konstruksi matriks 11x12 yang menghasilkan :

Y = 12*12*Z/10 + 8/10 = (12/10)(12*Z + 8/12)
= 12/10 (12*Z + 2/3)

dimana Y adalah jumlah ayat al-Qur’an. Kalau kita samakan :
(12/10)(12*Z + 2/3) = (12/10)(NM + Ral/12)
Diperoleh hubungan antara NM, Z, dan Ral : NM + Ral/12 = 12xZ + 2/3;
NM = 12xZ dan Rla/12 = 2/3 atau Ral = 24/3 = 8

Z adalah suatu tetapan yang menyebabkan Raa berjumlah 6236, yaitu sejumlah ayat al-Qur’an dari mushaf Utsmani.

Dengan penguraian matriks 12x12, rangkaian bilangan berikut menjadi suatu tetapan yang tidak bisa diubah-ubah sebagai suatu baris : 5,7,12,17,19,22,24,29,85, 91,99,114. Nilai Z ternyata
jumlahan dari 11 bilangan ini dengan membuang angka 91 :


Z = (5+7+12+17+19+22+24+29+85+99+100) = 433,

Nilai ini adalah sama dengan nilai diagonal matriks 12x12 dimana pada lajur baris yaitu baris ke-10 dimana terletak bilangan 91 dihilangkan. Penghilangan baris ke-10 ini sedikit  misterius karena menyebabkan matriks 12x12 dengan rangkaian angka diatas menjadi matriks 11x12. Kalau kita ubah nilai kolom dengan 12 kolom angka sembarangan, nilai diagonal diatas masih tetap sama yaitu 433. Sehingga 11 rangkaian angka diatas layaknya seperti suatu tetapan yang tidak bisa diutak-atik.

Kalau kita gunakan nilai Z=433 diperoleh :


NM = 12*433 = 5196

diperoleh nilai Raa :

Raa=12/10x[NM + Rla/12]


Raa = (12/10)[5196 + 8/12) = 6235.2 + 0.8 = 6236

Yang  menarik     jumlah  ayat  al-Qur’an  ini  dapat dikonstruksikan sebagai berikut :


6+2   2+3   85      dan    3+6   29  atau
2u2+3=2u5 =25 dan 3+6 u 6+2 = 98

Angka 29 adalah jumlah surat yang mengandung huruf fawatif sedangkan 85 adalah non-fawatih. 85 diperoleh dengan mengalikan angka  5 dengan jumlahan dari 6+2+3+6=17, jadi 85=5x17, sedangkan angka 29 adalah bilangan prima. Dengan teorema dua pasang dua bilangan dengan unifikasi diperoleh :

29 dan 85 akan membangun pasangan horisontal 2985, vertikal 2895 dan diagonal 2598. Jumlah masing-masing sama yaitu 2+9+8+5=24.

Dengan mengalikan hasil unifikasi dengan angka 24
, kemudian ditambahkan dengan pembagian 24/3
= 8 diperoleh

Dalam arah horisontal 2985x24+8=71648, vertikal 2895x24=69480+8=69488 dan diagonal 2598x24+8=62360.

Jumlah ayat al-Qur’an dengan eksak dipenuhi oleh unifikasi 2598, dimana hasil kalinya dibagi dengan angka 10 yaitu 62360/10=6236.

Kalau kita sandingkan dengan hasil sebelumnya angka 8 dan pembagian dengan angka 10 dengan jelas  menunjukkan  Rla  sebagai  tetapan  universal


Rabb Al Aalamin yang tidak lain adalah angka Rla=8 yaitu 24/3 yang diperoleh dari 3 pasang hasil penjumlahan angka surat fawatih yang pada akhirnya akan berhubungan dengan tetapan shalat 17x5=85, jadi 24 diperoleh dari 2+9+8+5. Nilainya identik dari hasil jumlahan 2+5 dan 9+8 7 dan 17 atau 7+17=24. kalau jumlahan ini kita masukkan ke dalam persamaan Raa dimana angka 8 diganti dengan (7+17)/3, diperoleh struktur Raa yang menarik :

Raa = (12/10)[5196+(7+17)/3x12] = (12/10)[12x433+ 7/36 + 17/36]

Dengan menggunakan penyebut 36 maka suku 12x433 haru dikalikan dengan 36 sehingga diperoleh persamaan :

Raa = (12/360)(12x36x433 + 7 + 17) = (12/360)(432x433 +7+17)

Nilai 433 merupakan suatu tetapan yang unik karena bilangan prima, oleh karena itu rangkaian 11 bilangan yang menghasilkan 433 merupakan suatu tetapan universal yang tidak saja berkaitan dengan peribadahan umat Islam namun menentukan tetapan alam lainnya, artinya menentukan desain alam semesta.
















Pengertian  demikian  semakin  nyata  kalau  kita

No comments:

Post a Comment

 
back to top