Kalimat Basmalah, Tetapan
Universal Awal Mula,
dan Formulasi Matematis Otentifikasi Al Qur’an
dan Formulasi Matematis Otentifikasi Al Qur’an
Distribusikan secara bebas untuk kepentingan Umat Islam
2005-2057 adalah era tegaknya Cahaya Pemurnian Tauhid
Chapter (1) sūrat l-fātiḥah (The Opening)
| Translation | Arabic word | Syntax and morphology |
| (1:1:1) bis'mi In (the) name | P – prefixed preposition bi N – genitive masculine noun
جار ومجرور
| |
| (1:1:2) l-lahi (of) Allah, | PN – genitive proper noun → Allah
لفظ الجلالة مجرور
| |
| (1:1:3) l-raḥmāni the Most Gracious, | ADJ – genitive masculine singular adjective
صفة مجرورة
| |
| (1:1:4) l-raḥīmi the Most Merciful. | ADJ – genitive masculine singular adjective
صفة مجرورة
|
Kalimah Basmalah terdiri dari 19 huruf
yang nyata. Dari 19 huruf yang nyata tersebut, terdapat susunan 4 kelompok
kalimat dan kata yaitu “Bism” (3 huruf), “Allah” (4 huruf), “ar-Rahmaan” (6
huruf), dan “ar-Rahiim” (6 huruf). Sehingga diperoleh jumlah huruf dari
ke-4 kalimat dan kata yang membangun kalimah Basmalah menjadi 19 huruf.
Didalam
al-Qur’an jumlah dari 4 kata yang membangun kalimat “Basmalah” yaitu “Bism”,
“Allah”, “ar-Rahmaan”, dan “ar-Rahiim” ditemukan dengan suatu jumlah
yang mengikuti suatu komposisi perkalian dimana bilangan 19 menjadi faktor
pengali yang tetap. Jadi secara umum berlaku nx19. Hubungan yang berlaku
atas fakta-fakta demikian adalah (Lihat M. Quraish Shihab, “Membumikan
al-Qur’an”, Mizan, 1998) :
• “Bism”
: 1x19=19 kali, jadi kata “Bism” ditemukan sebanyak 19 kali didalam
al-Qur’an pada beberapa surat .
• “Allah”
: 142x19=2698 kali
• “ar-Rahmaan”
: 3x19=57 kali
• “ar-Rahiim”
: 6x19 = 114 kali
Jumlah
kata “ar-Rahiim” ditemukan sebanyak 114 kali yaitu sejumlah surat al-Qur’an.
Sebenarnya terdapat 1 kalimat “ar-Rahiim” yang menjadi kata ke-115 namun
kata ini tidak merujuk kepada penyifatan Allah namun kepada sifat-sifat Nabi
Muhammad SAW yaitu pada QS 9:128.
Dengan
fakta demikian, para ahli Ijaz Adadi sepakat bahwa angka 19 menjadi basis dasar
bilangan yang menentukan kodefikasi penyusunan al-Qur’an. Hal ini menjadi
sangat penting karena dengan adanya fakta demikian maka kodefikasi al-Qur’an sebenarnya
sangat akurat dan eksak mengikuti suatu sistematisasi yang sebenarnya
menggambarkan makna yang sangat luas bahwa al-Qur’an adalah rahasia semesta
alam yang tersirat dalam QS,
Tidaklah mungkin Al Qur'an ini dibuat oleh
selain Allah; akan tetapi (Al Qur'an itu) membenarkan kitab-kitab yang
sebelumnya dan menjelaskan hukum-hukum yang telah ditetapkannya, tidak ada
keraguan di dalamnya, (diturunkan) dari Tuhan semesta alam.(QS 10:37 )
Surah Yunus - سورة يونس
10:37(Yunus 10:37) | <Embed> | English Translation | Tambah Nota | Bookmark | Muka Surat 213 - ٢١٣
Jika mereka yang kamu seru itu tidak menerima
seruanmu (ajakanmu) itu maka (katakanlah olehmu): "Ketahuilah,
sesungguhnya Al Qur'an itu diturunkan dengan ilmu Allah dan bahwasanya tidak
ada Tuhan selain Dia, maka maukah kamu berserah diri (kepada Allah)?"(QS
11:14)
Surah Hud - سورة هود
11:14(Hud 11:14) | <Embed> | English Translation | Tambah Nota | Bookmark | Muka Surat 223 - ٢٢٣
Dua
frase kalimat yang penting yang menjadi salah satu kunci pemahaman dalam 2 ayat
diatas adalah “(Al Qur'an itu) membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya dan
menjelaskan hukum-hukum yang telah ditetapkannya, tidak ada keraguan di
dalamnya, (diturunkan) dari Tuhan semesta alam.” Yang menegaskan kalimat
sebelumnya bahwa Al’Qur’an adalah firman Tuhan sehingga apa yang ada didalamnya
merupakan suatu keputusan Allah SWT yang telah ditentukan sebelum semua makhluk
diciptakan-Nya, semua kitab suci Wahyu yang pernah diturunkan adalah al-Qur’an
sebagai satu-satunya Ummul Kitab, dan mengandung suatu ketetapan dan kepastian
yang tidak akan mungkin untuk diubah sampai akhir zaman seperti tersirat dalam
QS 48:23 yang menjadi basis kajian otentifikasi al-Qur’an Musaf Utsmani ini.
48:23
(Kekalahan orang-orang yang menentang Rasul Allah sudah tetap menurut) "Sunnatullah" (peraturan Allah) yang telah berlaku semenjak dahulu lagi; dan engkau tidak akan mendapati sebarang perubahan bagi cara dan peraturan Allah itu.
(Al-Fat-h 48:23) | <Embed> | English Translation | Tambah Nota | Bookmark | Muka Surat 513 - ٥١٣
Surah Al-Fat-h - سورة الفتح
[48:23] - Ini adalah sebahagian dari keseluruhan surah. [Papar keseluruhan surah]48:23
(Al-Fat-h 48:23) | <Embed> | English Translation | Tambah Nota | Bookmark | Muka Surat 513 - ٥١٣
Dalam
frase “maukah kamu berserah diri (kepada Allah)?”, Allah sebenarnya
memberikan kisi-kisi bagaimana cara untuk memahami al-Qur’an yaitu dengan
berserah diri dan tentunya berendah hati dengan instrumen yang diberikan kepada
al-Insaan yaitu akal pikiran dengan “Iqra” (QS 96:1-5) yang benar dan Penyucian
Jiwa (QS 91:9).
Dengan nama Allah, Yang Maha Pemurah, lagi Maha Mengasihani.'
96:1
Bacalah (wahai Muhammad) dengan nama Tuhanmu yang menciptakan (sekalian makhluk),
(Al-'Alaq 96:1) | <Embed> | English Translation | Tambah Nota | Bookmark | Muka Surat 597 - ٥٩٧
96:2
Ia menciptakan manusia dari sebuku darah beku;
(Al-'Alaq 96:2) | <Embed> | English Translation | Tambah Nota | Bookmark | Muka Surat 597 - ٥٩٧
96:3
Bacalah, dan Tuhanmu Yang Maha Pemurah, -
(Al-'Alaq 96:3) | <Embed> | English Translation | Tambah Nota | Bookmark | Muka Surat 597 - ٥٩٧
96:4
Yang mengajar manusia melalui pena dan tulisan, -
(Al-'Alaq 96:4) | <Embed> | English Translation | Tambah Nota | Bookmark | Muka Surat 597 - ٥٩٧
96:5
Ia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.
(Al-'Alaq 96:5) | <Embed> | English Translation | Tambah Nota | Bookmark | Muka Surat 597 - ٥٩٧
91:9
Sesungguhnya berjayalah orang yang menjadikan dirinya - yang sedia bersih - bertambah-tambah bersih (dengan iman dan amal kebajikan),
(Asy-Syams 91:9) | <Embed> | English Translation | Tambah Nota | Bookmark | Muka Surat 595 - ٥٩٥
Dalam arti yang luas, kedua aspek penting dari pendekatan untuk memahami al-Qur’an tersebut tidak lain menjadi akhlak dan perilaku yang ditunjukkan oleh Nabi Muhammad SAW dengan utuh dan benar (jadi bukan sekedar berbaju atau berteriak mengatasnamakan Islam namun akhlak dan perilakunya jauh dari akhlak Rasulullah SAW yang berendah hati di hadapan Allah sehingga iapun menjadi hamba dan Kekasih-Nya. Simak juga maksud ayat QS 9:128-129).
Surah Al-'Alaq - سورة العلق
[96:1 - 96:5] - Ini adalah sebahagian dari keseluruhan surah. [Papar keseluruhan surah]96:1
(Al-'Alaq 96:1) | <Embed> | English Translation | Tambah Nota | Bookmark | Muka Surat 597 - ٥٩٧
96:2
(Al-'Alaq 96:2) | <Embed> | English Translation | Tambah Nota | Bookmark | Muka Surat 597 - ٥٩٧
96:3
(Al-'Alaq 96:3) | <Embed> | English Translation | Tambah Nota | Bookmark | Muka Surat 597 - ٥٩٧
96:4
(Al-'Alaq 96:4) | <Embed> | English Translation | Tambah Nota | Bookmark | Muka Surat 597 - ٥٩٧
96:5
(Al-'Alaq 96:5) | <Embed> | English Translation | Tambah Nota | Bookmark | Muka Surat 597 - ٥٩٧
Surah Asy-Syams - سورة الشمس
[91:9] - Ini adalah sebahagian dari keseluruhan surah. [Papar keseluruhan surah]91:9
(Asy-Syams 91:9) | <Embed> | English Translation | Tambah Nota | Bookmark | Muka Surat 595 - ٥٩٥
Dalam arti yang luas, kedua aspek penting dari pendekatan untuk memahami al-Qur’an tersebut tidak lain menjadi akhlak dan perilaku yang ditunjukkan oleh Nabi Muhammad SAW dengan utuh dan benar (jadi bukan sekedar berbaju atau berteriak mengatasnamakan Islam namun akhlak dan perilakunya jauh dari akhlak Rasulullah SAW yang berendah hati di hadapan Allah sehingga iapun menjadi hamba dan Kekasih-Nya. Simak juga maksud ayat QS 9:128-129).
1.
Otentifikasi al-Qur’an
19
huruf Basmalah akhirnya menjadi kunci untuk kodefikasi al-Qur’an seperti banyak
ditelaah oleh para ahli tafsir. Bilangan 19 sendiri kalau kita jumlahkan
sebenarnya memiliki angka 10 sebagai suatu bayangan. Jadi, makhluk sebagai
bayangan Allah adalah bayangan dari kalimah Basmalah yang memanifestasikan
keinginan Allah untuk dikenal dengan naungan rahmat dan kasih sayang-Nya yang
tidak berkesudahan.
Dalam
kalimat Basmalah, firman-firman Allah kemudian terurai menjadi 6236 ayat
sedangkan kalau kita tambahkan dengan firman Basmalah yang berjumlah 112
diperoleh 6348. Untuk jumlah ayat ternyata ada 2 versi yaitu 6234 ayat yang
akhirnya menjadi 6346 yang memenuhi kelipatan 19x334 dan 6236 yang akhirnya
menjadi 6348.
Beberapa
versi jumlah ayat al-Qur’an lainnya muncul seperti dikutip oleh buku “Almanak
Alam Islam” terbitan Pustaka Jaya , tahun 2000 yaitu versi 6240 ayat, 6353
ayat dengan 113 Basmalah. Selain itu dari pusat-pusat penyiaran Agama Islam
muncul juga jumlah ayat al-Qur’an yang berbeda-beda misalnya : pembaca Kufah meyakini
ada 6239 ayat, Basrah 6204, Syria 6225 ayat, Mekkah 6219 ayat, Madinah 6211
ayat, dan menurut Ibnu Abbas 6.616 ayat. Meskipun perbedaan ini muncul karena
berbagai penafsiran dari titik tolak yang berbeda, namun tak urung memang
membingungkan. Bahkan dalam penafsiran yang ekstrim, misalnya pandangan
Mohammad Arkoun untuk mendekonstruksi Mushaf Utsmani setidaknya muncul bukan
sekedar karena pengaruh hermetika teologis namun karena banyaknya versi
al-Qur’an yang muncul. Saat ini jumlah ayat dalam mushaf Utsmani adalah 6236
dengan 112 basmalah menjadi 6348.
Untuk
membuktikannya memang diperlukan suatu metode cek paritas untuk menguji
integritas kodefikasi al-Qur’an. Beberapa penelitian (Arifin Muftie,
“Matematika Alam Semesta”, penerbit Kiblat, Mei 2004; KH Fahmi Basya,
“Matematika Islam”, Penerbit Republika Cetakan ke-3 2005) membuktikan
keshahihan al-Qur’an Mushaf Utsmani karena pada beberapa aspek perubahan yang
kecil akan menyebabkan berubahnya struktur al-Qur’an secara menyeluruh, bahkan
konsepsi alam semesta pun berubah.
Namun,
sejauh ini pembuktian kodefikasi itu masih bersifat parsial dan kurang
menyeluruh selain kurang terintegrasi, demikian juga apa dampaknya bila berubah
tidak dipahami dengan persis. Hasilnya memang dapat dilakukan beberapa pendekatan
dengan beberapa metode seperti diungkapkan oleh Arifin Muftie “Matematika Alam
Semesta” maupun KH Fahmi Basya dalam bukunya “Matematika Islam”.
Adakah
satu cara yang lebih utuh dan terintegrasi untuk melakukan cek paritas jumlah
ayat al-Qur’an dan konstruksinya bahwa Mushaf Utsmani adalah Mushaf Nabi
Muhammad SAW, termasuk konsekuensi logis sekiranya struktur al-Qur’an berubah
atau dipaksa untuk dimodifikasi? Saya mengatakannya ada, dan itu tersirat di
ayat-ayat al-Qur’an dengan eksak.
2. Konsep
Penciptaan Dalam Al Qur’an : Rahasia 29 Surat
Fawatih
Konsep
awal mula penciptaan menurut pandangan al-Qur’an dapat diringkas sebagai
berikut :
"ketika
Allah (sebagai angka 1) hendak memperkenalkan diri-Nya, maka Dia ciptakan
cermin (angka 8). Makhluk adalah bayangan kesempurnaan-Nya (angka 10) yang
nampak didalam cermin. Diantara diri-Nya dan cermin serta bayangan-Nya,
terhampar permadani maghfirah sebagai ampunan dan tobat (angka 9) yang
dihamparkan Allah dengan ikhlas (Qs 112) sebagai penauhidan makhluk pada-Nya
(12) untuk kembali kepada-Nya (91:9) dengan ridha-Nya (19 huruf kalimat
Basmalah).”
Jalan
kembali itu sangat luas dan lurus, karena ia merupakan jalan kembali dengan
berserah diri, maka kodefikasi 91 adalah petunjuk jalan kembali, dan penyucian
jiwa (QS 91) untuk mencapai kesempurnaan yaitu tersingkapnya jalan yang luas
atau yang dimaksudkan sebagai Shiraatal-Mustaqiim. Shirataal-Mustaqim
terbangun dari 19 huruf basmalah yang lahiriah, dan 3 huruf tersembunyi
yang menyempurnakan bahwa awal dan akhir segala sesuatu adalah penauhidan
kepada-Nya (QS 57:3). Maka jalan kembali itu, Shirataal-Mustaqiim itu
adalah jalan tauhid, dengan petunjuk dari orang yang diberi nikmat yaitu Nabi
Muhammad SAW sebagai Utusan Allah, yang mampu menginternalisasikan sifat-sifat
Ar-Rahmaan dan ar-Rahiim dengan utuh QS 9:128. Bagi umat manusia, petunjuk
jalan kembali itu aktual dari 19 huruf Basmalah, itulah yang kemudian menjadi
6236 ayat al-Qur'an. Jadi, secara langsung Al Qur’an lah yang dimaksudkan
dengan Shirathaal Mustaqim itu namun dengan catatan bahwa manusia mampu
mengimplementasikan nilai-nilainya didalam dirinya dengan mengikuti petunjuk
atau washilah Rasulullah Nabi Muhammad SAW. Makhluk yang diciptakan
sebagai bayangan di dalam cermin adalah bayangan kesempurnaan Allah. Karena
jalan kembali sebagai Shirathaal Mustaqiim (QS 1:6) adalah Tauhid dengan
panduan yang mendapatkan rahmat Allah atau Muhammad Utusan Allah (Qs 1:7), maka
bayangan yang sempurna didalam cermin adalah kebalikan dari tauhid atau angka
10 atau 1+9=9+1=10 yaitu huruf Ya.
Dari
sisi makhluk, penauhidan kepada Allah yang Esa terletak diantara permadani
maghfirah Allah yang terhampar dengan ampunan dan tobat dengan cermin yang
pertama kali diciptakan-Nya, maka berlaku urutan proses 9 12 8 yang menjadi QS
9:128.
Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang
rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat
menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi
penyayang terhadap orang-orang mukmin.(Qs 9:128)
Jadi,
syarat fundamental bagi yang memasuki jalan yang lurus adalah manusia yang
menauhidkan Tuhan sebagai Allah, Dialah Tuhan Yang Maha Esa, yang kemudian
menjadi QS 112:1-4. Dan untuk kembali kepada-Nya, maka makhluk yang berhasil
adalah yang berhasil melaksanakan mi'raj sebagai 17 rakaat shalat dari jumlahan
Thaa dan Ha menjadi kalimatullah ThaHaa QS 20:1. Semua itu adalah petunjuk yang
diberikan oleh Nabi Muhammad SAW sebagai rasul bagi orang-orang yang mukmin.
Tersingkapnya
kegaiban mutlak Allah, sebagai Tuhan Yang Maha Esa, adalah tersingkapnya tabir
Ghain yang menyemburatkan kehendak-Nya untuk menciptakan dengan menampilkan
Cahaya Kemuliaan-Nya sebagai Cahaya Diatas Cahaya (QS 24:35), maka Allah adalah
ar-Rabb sebagai Rabbul Aalamin.
Tampilnya
cahaya adalah tampilnya 2 pasang sifat dan 3 Ism Agung, namun segala sesuatunya
diawali dengan cahaya yang ghaib maka tampilan Asma dan Sifat pertama kali
tersembunyi dalam kegaiban 2 pasang sifat kesempurnaan dan 5 Asma dan Sifat.
Untuk
menyingkap kegaiban Allah dan Asma dan Sifat-Nya, maka Allah harus menetapkan
suatu konsepsi penciptaan dimana makhluk akan diciptakan dengan suatu kondisi
yang tetap sebagai suatu sunnatullah QS 48:23, terukur (QS 54:49, 15:21), dalam
kondisi awal keseimbangan (Qs 67:3), mempunyai ruang-waktunya sendiri (QS
17:12), dan sadar akan dirinya sebagai makhluk yang mempunyai keterbatasan atas
waktu (QS 103), dan pertamakali menyaksikan Diri-Nya dengan tauhid (QS 7:172).
Kemudian
ketetapan lain yang penting adalah bahwa Dia menciptakan sesuai dengan apa
dengan yang dikehendaki-Nya (QS 28:68). Maka bagi makhluk yang mengenal
dirinya, ia akan mengenal siapakah Tuhannya (man arofa nafsahu, faqod arofa
robbahu). Dan siapapun yang akan memperhatikan bagaimana ia diciptakan akan
menyadari pertemuan kembali dengan Penciptanya (QS 30:8).
al-Aalamin
(QS
1;2) yang diciptakan-Nya adalah al-Aalamin yang menjadi cermin
kesempurnaan-Nya, namun hanya makhluk sempurna yang berakal pikiran yang mampu
menampung pengetahuan-Nya lah yang akan menyingkapkan siapakah Dia. Itulah
makhluk yang tercelup dalam kekuasaan Ilmunya yang tak berbatas, dialah yang
merasakan kekuasaan-Nya sebagai Shibghaatalllahi (QS 2:138).
Bila
makhluk terjerat di dalam Laam sebagai alam semesta yang menabiri, maka
Ghairi dari penyingkapan kegaiban-Nya menjadi “Ghairil” (Qs 1:7, setelah
“Ghairil..” sering dikatakan juga menjadi ayat ke-8 dari al-Fatihah).
Makhluk pun tertabiri oleh semua aspek kebendaan yang menyelimuti dirinya.
Makna makhluk pun menjadi yang dimurkai dan tersesat (QS 1:7).
Hanya
ampunan dan tobat Allah sebagai hidayah yang dapat membebaskan makhluk dari
penjara Laam sebagai alam materi, yaitu yang diciptakan sebagai
penampilan kesempurnaan-Nya yang tercerap alam inderawi. Itulah makhluk pertama
yang menjadi awal dan akhir kehendak Allah untuk menciptakan. Siapakah dia?
Esensinya
dinamakan sebagai Dal sebagai kesempurnaan azali, dan bayangan
kesempurnaannya di dalam cermin adalah Mim. Dengan demikian, Mim berada
dalam Laam baik secara individual sebagai eksistensi semua makhluk
maupun secara global sebagai al-Aalamin. Dan unifikasi Mim - Dal menjadi
bayangan kesempurnaan-Nya yang memberikan rahmat bagi seluruh alam. Ketika Hha
sebagai 5 Asma dan Sifat-Nya tercetuskan di alam gaib, maka Hha menjadi
nyata sebagai tersingkapnya Asma-Nya sebagai ar-Rahmaan dari titik dibawah Baa
dari Allah sebagai Dzat Yang Esa dan al-Ghaibi.
ar-Rahmaan
tampil sebagai bentuk sepasang bintang lima
yang saling berhadapan ketika cermin Ha wujud, keduanya membangun enam
titik temu menjadi bentuk hexagonal, segienam, atau penampang sarang tawon.
Dari sepasang segi lima berhadapan tersebut, Allah memfirmankan QS 2:255 dan QS
55 sebagai ar-Rahmaan yang memberikan rahmat dan kasih sayang dan wujud sebagai
dia yang disebutkan-Nya sebagai Rahmatan Lil Aalamin (QS 21:107).
Dan
tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta
alam.
Tampilnya
5 titik temu menjadi segi lima
ar-Rahmaan terbangun dari 7 ruas dari pertemuan 3 Asma dan Sifat. Tiga (3)
titik temu terbangun dari masing-masing ruas yang membangun ar-Rahmaan, maka
darinya penauhidan makhluk adalah penauhidan awal dan akhir, lahir dan batin ,
dan yang meliputi segala sesuatu yaitu QS 57:3.
Dari
sepasang segilima yang membangun segi enam penampang sarang tawon, maka konsepsi
penciptaan ditentukan bahwa hexagonal itu terbangun dari 7 Asma dan sifat
dengan 3 titik temu dalam keadaan keseimbangan yang tidak habis bagi sebagai
tampilnya As-Shamadiyah Dzat Allah (QS 112:2). Oleh karena itu QS 67:3
difirmankan sebagai prinsip penciptaan makhluk yang diciptakan dalam keadaan
seimbang, dengan potensi baik dan buruk yang sama (QS 91:7-8).
Ketika
huruf Hha membangun tampilan ar-Rahmaan maka ar-Rahiim nyata sebagai
sifat yang melekat dan kekuasaan yang dimiliki Allah sebagai ar-Rahmaan, maka
Allah memperkenalkan dirinya sebagai Dia adalah ar-Rahmaan (Qs 17:110) dan
memiliki sifat ar-Rahiim yang menyiratkan kekuasaan-Nya atas segala eksistensi
makhluk. Semua makhluk hanya tegak karena kekuasaan Allah sebagai ar-Rahmaan
yang memiliki sifat ar-Rahiim. Bayangan yang tampil didalam cermin adalah
ar-Rahmaan dan ar-Rahiim sebagai Rahmatan Lil Aalamin yang aktual
setelah semburatnya Nun dan Raa menjadi Nur yang disingkapkan ketika Allah
menyatakan diri-Nya sebagai Ar-Rabb Al-Aalamin. Makhluk yang wujud
kemudian disebutkan-Nya sebagai Rahmatan Lil aalamin yang tidak lain
adalah Cahaya sebagai Nur Muhammad yang menjadi esensi makhluk pertama.
Dengan
aktualnya ar-Raab sebagai Rabbul Aalamin, terjadi proses yang nyaris mandiri
dimana-mana, jadi pengertian yang menyangkut ruang-waktu saat itu, dialam yang
gaib awal mula, tak bisa digambarkan sebagai suatu proses, karena semuanya
mandiri terjadi serentak layaknya kita menumpahkan sekardus jigsaw puzzle diatas
lantai.
Dengan
aktualnya Nur Muhammad, maka bayangan Hha mandiri tercipta didalam cermin
sebagai Nun. Lantas, ar-Rahmaan ar-Rahim aktual sebagai Rahmaatan Lil
Aalamin yang menaungi huruf Mim yang tampil lebih nyata karena Nur
awal mula sudah aktual sebagai Nur Muhammad.
Nur
Awal Mula adalah hakikat Nur dari Allah sebagai ar-Raab, yaitu tersingkapnya
tabir al-Ghaibi dari esensi Dzat Allah yang aktual. Firman Ghairi tanpa
akhiran Laam (l) adalah Ra yang tersingkap yang menyingkap Ba dan
titik dibawahnya sebagai Esensi Ilahiyah yaitu kekuasaan Allah sebagai
ar-Rahmaan. Ketika Hha wujud, maka Mim yang dinaungi Rahmaatan Lil Aalamin adalah
Hha-Mim (Qs 40:1) sebagai kesempurnaan unifikasi awal mula Alif-Dal yang
tertabiri huruf Ghain atau al-Ghaibu Allah. Jadi firman QS 40:1 adalah firman
Hha-Mim awal mula yang menjadi al-Mukmin. Dengan demikian Dal – Mim, yang
dilihat dari sisi makhluk di dalam cermin menjadi Mim – Dal, mempunyai
sisipan Hha Mim menjadi lafaz yang utuh sebagai Muhammad yang lahiriah
sebagai nabi dan rasul terakhir, ialah makhluk yang pertama kali diciptakan
dengan kesempurnaan-Nya. Didalam cermin yaitu huruf Ha (8) terjadi unifikasi
antara Allah-Muhammad sebagai Alif – Mim yang akhirnya akan menegakkan
semua eksistensi makhluk. Laam tanpa Mim tidak bisa eksis, Mim tanpa Alif tidak
akan berdiri, Alif sendirian maka Dia sebagai al-Huwa menjadi Dzat Yang Ahad,
Ash-Shamad, dan Ghaib Mutlak.
Saat
yang sama, ketika Nur aktual maka angka 9 sebagai permadani maghfirah
menampilkan bayangannya didalam cermin sebagai angka 6 atau huruf Wau.
Wau seperti cahaya yang muncul sebagai garis melengkung sesaat yang
kemudian membesar menjadi benderang dan menjadi huruf Sin. Maka dari
kondisi diam kemudian bergerak, maka firman Allah kemudian menyatakan Thaa
Sin (QS 27:1): yaitu gerakan 69 sebagai aktualnya energi awal mula seperti
gerakan cakram galaksi Bimasakti.
Thaa
Sin sebagai
gerak awal mula munculnya eksistensi makhluk awal mula yang nyata tidak lain
adalah firman al-Haqqah (QS 69:1) sebagai "yang pasti terjadi”
karena sebelumnya kehendak Allah sudah dinyatakan dialam gaib sebagai "Sin
Nun dan Ta" yang menjadi sunnatullah yang tetap QS 48:23.
Ta
sebenarnya
muncul dari aktualnya huruf Dal dengan multiplikasi dari tersingkapnya
satu tabir ghain menjadi Qaaf (Qs 50). Jadi ketika Allah sebagai Yang
Maha Gaib (al-Ghaibi) berkeinginan untuk memperkenalkan diri, Dia
tertabiri oleh 3 tabir yaitu diri-Nya sebagai Allah, Dzat Yang Maha Esa dan
Ghaib Mutlak, dan 2 atribut-Nya yaitu Asma dan Sifat.
Satu
tabir tersingkap adalah tabir Sifat yang mengaktualkan Dal sebagai
kesempurnaan yang menyingkapkan Ahadiyyah dan Shamadiyyah,
ketunggalan dan keunikannya, dan ketidak terserupakannya (QS 112:1-4). Tabir
kedua adalah tabir Asma yaitu ketika Dia sebagai Allah mengatakan dirinya
sebagai ar-Rahmaan (QS 17:110). Tabir ketiga adalah diri-Nya sebagai Allah.
Jadi Qaaf (Qs 50) aktual ketika tabir sifat terbuka menjadi
"Qaaf" dan "Laam" yang berakhir dengan "Qul"
atau "katakan", yang akhirnya menjadi firman QS 112 untuk menampilkan
Ahadiyyah dan Shamadiyyah Dzat-Nya Yang Maha Esa dan menjadi tempat bergantung
bagi semua makhluk. Maka dari sinilah semua eksistensi makhluk tak lain dari 19
huruf yang menjadi padanan Basmalah yaitu kalimat Haulaqah :
“Laa
Hawla walla quwwata illa billah”
Setelah
Thaasin mengaktualkan al-Haqqah sebagai sunnatullah yang pasti terjadi, Laam
yang tersirat sebagai Qaaf dan Laam dalam firman "Qul" dan juga
menjadi akhir dari "Laam" dari firman ke-8 al-Fatihah
"Ghairil" sebagai tersingkapnya tabir kegaiban menjadi Laam
menunjukkan wujud aktual sebagai kesempurnaan makhluk yang diciptakan Allah
menjadi "Alif Laam Mim" dalam QS al-Ankabut (QS 29:1) dan
menjadi al-Aalamin (QS 1:2).
Saat
itu sebenarnya firman Allah mempertemukan Alif Laam dengan Ra menjadi Alif Laam
Ra (QS 10:1) yang wujud diantara hamparan Taubat dan bayangan Allah sebagai
huruf Ya. Jadi, bayangan yang tercipta sebagai makhluk hanya dapat meraih
taubat yang benar jika ia menerima cahaya langsung dari Allah yang tak lain
adalah frase terakhir dari surat An-Nuur ayat ke-35 dan dengan kalimat
Haulaqah.
“Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis),
Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki, dan Allah
memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui
segala sesuatu.(Qs 24:35)”
Setelah
itu terjadi pertemuan yang difirmankan sebagai Alif Laam Mim Ra (QS
13:1) sebagai bertemunya semua makhluk baik sebagai Mim yang menjadi bayangan
kesempurnaan maupun Laam sebagai al-Aalamin. Hal ini juga
menunjukkan bahwa Mim sebagai Muhammad menjadi washilah bagi
semua makhluk. Yang mengikuti jalan lurus dengan tauhid dan Muhammad sebagai
yang diberi nikmatlah yang akan selamat meniti Shiraatal Mustaqiim.
Apakah Allah pilih kasih?
Tentu
saja tidak karena sebagai makhluk pertama, ia menaungi semua makhluk lainnya
dengan Rahmaatan Lil Aalamin dari ar-Rahmaan dan ar-Rahiim Allah.
Demikian juga, terdapat proses pembelajaran untuk menghimpun pengetahuan yang
disediakan Allah bagi makhluk-Nya yaitu munculnya pengertian waktu.
Sepanjang sejarahnya, sejak zaman Adam sampai Nabi dan Rasul yang menyampaikan
tauhid, Pengetahuan tentang Tuhan sudah difirmankan yaitu yang tersirat dalam
firman Alif Laam Ra dari QS Hud (QS 11), Qs Yusuf (QS 12), Qs Ibrahim (QS 14),
dan al-Hijr (QS 15) dan dalam surat al-Anbiya (QS 21).
Namun,
sejarah berkata lain, ketika nafsu ammarah menyelubungi manusia, maka semua
Pengetahuan tentang Tuhan ternyata diselewengkan oleh para generasi setelah
Nabi-nabi yang menjadi Ulul Azmi. Distorsi realitas ini muncul karena
keberhasilan Iblis menelusup kedalam hati manusia yang saat itu menjadi tamak
akan kekuasaan dan previledge baik ia sebagai penguasa (raja) maupun
penguasa otoritas keagamaan yang terlena dengan hak dan keistimewaan yang
diterima dari masyarakatnya.
Penyewengan
itu pun akhirnya semakin menjauhkan manusia ke dalam lumpur kehinaan yaitu
membengkokkan firman-firman Tuhan sesuai dengan keinginan hawa nafsunya,
pengkultusan berlebihan, fanatisme yang bodoh, kedengkian, dan penyakit iblis
lainnya. Maka pengetahuan tentang tauhid pun menjadi semakin bengkok sampai
akhirnya esensi makhluk awal mula sebagai Mim yang menjadi Nabi dan Rasul
terakhir muncul di muka bumi sebagai Nabi Muhammad SAW sebagai penutup para
Nabi dan Rasul. Dialah yang kemudian menjadi al-Mahi sebagai Khalqi
Avatar – Utusan Allah yang terakhir yang memerangi kekufuran dan menegakkan
tauhid yang murni dengan al-Ikhlas.
Surat
al-Ankabut sebagai firman Alif Laam Mim menyiratkan bahwa dalam Laam sebagai
alam semesta dan semua isinya, komposisi Laam terdiri dari 29:1 atau 29 alam
menjadi tatanan alam Ghaib dan 1 alam menjadi alam nyata. 29 surat mengandung
huruf fawatih juga muncul dari pengertian angka 29 dari nomor surat al-Ankabut
yang sebenarnya menunjukkan aktualnya Esensi Ilahiah sebagai Ain yang
tersingkap dari titik dibawah Ba, yaitu tersingkapnya Qaaf dengan Ba menjadi
huruf Nun yang akhirnya mengaktualkan cahaya.
Namun
Nun yang mengaktualkan cahaya tersingkap setelah Mim disingkapkan oleh Ba
sebagai Kaf, dengan demikian jadilah kemudian firman penciptaan Adalah
"Kun". Huruf Ba, Sin, dan Mim kemudian disebutkan dalam surat al-Alaq
QS 96:1 menjadi "Bismi" dan Raab menjadi Khalaq yang menciptakan ,
yang kemudian menjadi “Bismillahir” sebagai aktualnya 3 Ism Agung dari
Allah dengan ar-Rahmaan dan ar-Rahiim, dan munculnya Nur dari unifikasi Nun dan
Ra. Ketika Bism dari Bismillahir terucapkan maka "Kaf Ha Ya Ain
Shaad" melakukan unifikasi menjadi surat Maryam (QS 19:1) sebagai
aktualnya hamparan maghfirah dari ar-Rahmaan yaitu rahmat dan kasih sayang.
Kalimatullah
"Kun" sebenarnya dicetuskan sebagai firman Allah setelah ThaaSin
menyinari cermin Ha menampilkan bayangan kesempurnaan Alif sebagai angka 1 yang
ditauhidkan sebagai "Laa Ilaaha Illaa Allah" yaitu 01 menjadi
angka 10 alias huruf Ya, maka difirmankan oleh Allah "YaaSin" (QS
36:1) sebagai firman yang menyatakan aktualnya makhluk baik sebagai wujud awal
mula sebagai Mim maupun Laam sebagai alam semesta global - keduanya adalah
bayangan kesempurnaan Allah sebagai huruf Ya. Jadi, Yaasin merupakan degup
jantung kehidupan semua makhluk yang diciptakan oleh Allah. Oleh karena itu,
firman "kun" tercantum dalam surat
Yaasin sebagai QS 36:82.
Aktualnya
Yaasin mengaktualkan firman "Kun" dan "Kaf Ha Ya Ain Shaad (QS
19:1), dan dengan demikian semua makhluk akhirnya tercelup dalam Shibghataallahi
(QS 2:138) sebagai aktualnya Pengetahuan Awal Mula sebagai Cahaya Awal Mula
(Cahaya awal) atau sering disebut Akal Awal sebagai yang harus dipatuhi. Jadi,
YaaSiin (Qs 36:1) adalah Muthaain (Mim Tha Ain) sebagai tersingkapnya Ain
sebagai Esensi Ilahi yang berada di bawah titik Ba menjadi titik diatas “Nun”
yang akhirnya bertemu Kaf menjadi firman "Kun", oleh karena itu
Muthaain sebagai yang menyingkapkan Ain harus dipatuhi karena dapat dipercaya
(QS 81:21), dan karena ia adalah Al Amiin.
Kun
menyingkap Ain, kemudian melakukan unifikasi dengan Sin dari Yasin dan Qaaf
dari firman Qaaf (Qs 50) yang akhirnya tersingkap menjadi Nun yaitu surat
al-Qalam (QS 68). Ain Sin Qaaf kemudian melakukan unifikasi dengan Hha Mim dari
Qs 40:1, sehingga firman Allah aktual sebagai Hha Mim Ain Sin Qaaf Qs 42:1-2
sebagai esensi ilahiah yan tersingkap sebagai Laam lengkap dengan semua
ketentuannya sebagai sunnatullah. Bimillahir kemudian dipertemukan dengan
firman ar-Rahmaan ar-rahiim (Qs 1:3) maka jadilah kemudian lafaz yang diucapkan
oleh Nabi Sulaiman a.s sebagai “Bismillahir ar-Rahmaan ar-Rahiim” (Qs 27:30)
sebagai aktualnya ampunan dan tobat menjadi rahmat dan kasih sayang Allah yang
menjadi firman pertama surat
al-Fatihah.
Dari
proses yang tumpang tindih diatas, maka dalam kalimat Basmalah sebenarnya ada 2
firman yaitu “Bismillahir” dan “ar-Rahmaan ar-Rahiim”. Dan dengan demikian,
karena surat
ke-7 Basmalah juga terdiri dari 2 bagian yaitu terpisah di bagian “Ghairil”,
maka al-Fatihah sejatinya ada 9 ayat dengan komposisi 2-5-2 . Komposisi ini merupakan komposisi
yang tersembunyi didalam al-Fatihah sebagai komposisi at-Taubah dan komposisi Shirathaal
Mustaqiim sebagai jalan luas dan lurus yang mengarahkan makhluk menuju Allah,
sehingga dalam banyak segi terdapat 2 konfigurasi al-Fatihah yaitu 1-7, 1-8,
dan 1-9; atau kompisisi 1,2,3,4,5,6,7; 1,2, 3,4,5,6 - 7,8 ; dan 1,2 – 3,4,5,6,7
– 8, 9. Namun, dalam formalisasinya al-Fatihah menjadi 7 ayat termasuk Basmalah
sebagai Induk Al Qur’an. Seolah-olah, dengan susunan bertingkat ini Allah
mengisyaratkan bahwa untuk mneyingkap hakikat al-Fatihah semua manusia harus
belajar, melalaui suatu rangkaian ujian dengan pemurnian jiwa (QS 91), sehingga
dapat menyingkap lapis demi lapis firman Allah sesuai dengan kondisi ruhaninya
saat itu. Apapaun yang tersingkap dari al-Qur’an adalah pengetahuan Allah yang
harus disampaikan kepada makhluk sebagai suatu kabar gembira, sebagai suatu
rahmat bagi yang mengimani-Nya, maka dikatakan-Nya bahwa
Katakanlah:
"Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka
bergembira. Karunia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang
mereka kumpulkan".(QS 10:58 )
Bagi
mereka berita gembira di dalam kehidupan di dunia dan (dalam kehidupan) di
akhirat. Tidak ada perobahan bagi kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. Yang
demikian itu adalah kemenangan yang besar.(Qs 10:64)
…agar
kamu tidak menyembah selain Allah. Sesungguhnya aku (Muhammad) adalah pemberi
peringatan dan pembawa kabar gembira kepadamu daripada-Nya,(Qs 11:2)
Semua
makhluk atau makhluk awal mula yaitu esensi nabi Muhammad SAW sebagai Hakikat
Muhammadiyyah kemudian menauhidkan dengan Alif Laam Mim dalam Qs 3:1-2.
Kemudian semua ketentuan bagi makhluk ditetapkan sebagai QS 2:2-5 setelah
sebelumnya Allah kembali mengingatkan dengan Alif Laam Mim Qs 2:1. Tatanan
wujud kemudian aktual sebagai tempat-tempat tertingggi yaitu Alif Laam Mim
Shaad (Qs 7:1) yang tak lain adalah alam meta-gaib dengan konstruksi sebagai
tatanan 7 langit bumi. Setelah itu firman Alif Laam Mim berturutan sebagai
suatu kesebandingan energetis dimana dikiaskan sehari=1000 tahun dalam surat As-Sajdah yaitu lif
Laam Mim pada QS 32, 31, dan 30.
Konsepsi
penciptaan yang terungkap dari 29 surat fawatih dapat diringkas menjadi
beberapa surat yang menjadi bagian dari surat fawatih, dan menjadi komposisi
bagaimana konsepsi Allah dalam mengkonstruksi al-Qur’an sebagai Ummul Kitab,
yang awal dan yang akhir. Ringkasan dari uraian diatas dapat ditemui dalam
beberapa ayat khusus berikut :
Surat
29:14 yang merupakan bagian dari surat al-Ankabut merupakan ayat yang
menyatakan konsepsi tersingkapnya tabir kegaiban mutlak Allah yaitu huruf Ghain
dari Ghaibi dengan nilai 1000 yang dikiaskan Allah sebagai 1000 tahun, Nun
adalah pengurangan sebagai “illa Khasim” yaitu 50 tahun, dan 950 tahun adalah
tersingkapnya esensi Nun dengan Kaf yang menjadi Ain dengan Mim dan Thaa yaitu
Muthaain setelah aktualnya Thaa Sin dan Alif Laam Mim menjadi 7 tatanan langit
bumi atau al-Aalamin.
Konsepsi
demikian oleh KH Fahmi Basya dengan sedikit perubahan makna saya uraikan sbb:
01
- Tauhid - Laa iIlaaha iIlaa Allah
illa
Khamsin = kurang 50
Laa=tidak
ada=0
0=Tuhan-Allah
Tuhan
adalah tersingkapnya tabir Ghain dengan munculnya cahaya awal mula sebagai Nur
Muhammad dan Rahmaatan Lil Aalamin, untuk menciptakan alam semesta dan semua
isinya sebagai makhluk yaitu Laam, maka kalimatullah “Ghairil” dalam
kalimatullah QS 1:8 (QS 1:7) adalah Yang Gaib Mutlak yang membuka 3 cadarnya
(1000=103)
menjadi 0, sehingga 1000 tahun (103) menjadi 100=1.
Formulasi tauhid menjadi :
0=1-Allah,
Allah adalah Tuhan Yang Esa
1=Allah
Dari
pengertian demikianlah kemudian ketentuan awal mula adalah kalimatullah tauhid
yang terdiri dari 12 huruf arab “Laa Ilaahaa Illaa Allaah”. Dari pengertian
demikian kemudian difirmankan surat
al-Ikhlas QS 112 (4 ayat), sebagai tampilnya Ahadiyyah dan Shamadiyyah Dzat di
dalam cermin. Makhluk yang pertama kali diciptakan menauhidkan dengan QS 3:2,
QS 9:129, kemudian QS 2:163, QS 57:3 . Dalam praeksistensi sebelum dihidupkan
di alam dunia makhluk menyaksikan dengan QS 7:172. Setelah YaaSiin difirmankan,
maka konsepsi waktu bagi makhluk difirmankan sebagai QS 17:12.
Dari
konsep penauhidan, maka konstruksi jagat raya sebagai al-Aalamin yang
tersingkap oleh tersingkapnya tabir Ghain adalah Qs 29:41 yang merupakan cermin
dari Qs 29:14 atau penguraian yang lebih sistematis. Maka, Alif Lam Mim yang
pertama adalah alif lam mim QS 29 yang merupakan titik tengah dari 29 surat
fawatih dengan perbandingan 29:41. Ketentuan lainnya yang berkaitan dengan konsepsi
alam semesta sebagai KONTINUUM KESADARAN – RUANG –WAKTU (jadi bukan kontinuuum
ruang-waktu seperti dipahami filsafat materialisme saat ini) yaitu QS 48:23
sebagai sunnatullah yang tetap, QS 72:28 sebagai suatu cara bahwa Allah
menghitung satu persatu atau kuantifikasi kuantum, QS 17:12 konsepsi waktu
relatif dan QS 103 Al Ashr sebagai konsepsi kesadaran atas waktu bagi makhluk
yang disempurnakan yaitu Manusia sebagai al-Insaan dan an-Naas. Kesadaran atas
waktu disebut al-Qur’an sebagai pertolongan Allah atau an-Nashr QS 110 yang
akan membawa makhluk kepada al-Kautsar Qs 108. Namun semua itu nampaknya akan
menjadi jelas bagi makhluk seperti manusia bila segala sesuatunya diarahkan
semata-mata untuk menerima ridha Allah dengan keikhlasan seperti halnya Allah
menghamparkan keikhlasan-Nya (QS 112) untuk menciptakan makhluk yang memberikan
hidayah terbesar sebagai maghfirah.
Tidak
ada kompromi ketika makhluk tidak selaras dengan kehendak Allah sebagai
sunnatullah yang tetap. Ketika hal demikian dilanggar, maka sunnatullah Allah
berlaku tidak pandang bulu dengan konsepsi keseimbangan al-Mizan : Aksi=Reaksi,
Amaliah=Pahala, Kejahatan=Hukuman. Semuanya diberikan Allah sebagai wujud dari
KemahaAdilan-Nya yang seringkali tidak dipahami makhluk karena kebodohannya
sendiri terjerat dalam tipu daya Iblis yaitu KEBODOHAN dan KESOMBONGAN yang
menutup matahatinya.
3. Formulasi
Umum Jumlah Ayat Al-Qur’an & komposisinya
Dengan
uraian penciptaan diatas, maka secara umum komposisi al-Qur’an dapat diuraikan
lebih jelas. Untuk mengkonstruksi jumlah ayat, kita perlu menggunakan suatu
persamaan umum yang melibatkan tetapan universal yang pertama yaitu kalimat
tauhid sebagai angka 12 dari 12 huruf “Laa Ilaahaa Illaa Allaah”, angka
8 sebagai simbol cermin atau qolbu mukminin dan angka 10 sebagai bayangan
kesempurnaan Allah yaitu angka 19 dari huruf Basmalah sebagai kalimah
penciptaan oleh Rabbul Aalamin. Konsepsi untuk merumuskan persamaan diatas
adalah konsepsi dimana ketika Allah berkehendak untuk memperkenalkan diri-Nya,
maka Dia ciptakan cermin (angka 8, huruf Ha), setelah itu Dia hamparkan
maghfirah sebagai ampunan dan taubat (angka 9) sebelum bayangan (1+9=10) di
dalam cermin muncul sebagai bayangan Allah. Konsep demikian sebenarnya tersirat
dalam QS 7:172,
Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan
keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian
terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah Aku ini Tuhanmu?"
Mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi".
(Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan:
"Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini
(keesaan Tuhan)",(QS 7:172)
Persamaan
umum tersebut menggambarkan terurainya 7 Asma dan Sifat Allah sebagai bayangan kesempurnaan
yang nilainya tak lain adalah jumlah ayat al-Qur’an. Untuk itu kita gunakan
notasi 10.Y sebagai persamaan yang menyatakan kesebandingan bayangan dari
kalimatullah Basmalah. Jadi Y adalah Basmalah namun dalam bentuk yang terurai
sebagai ayat-ayat al-Qur’an. Bayangan 10.Y itu muncul didalam cermin, jadi
nilainya sebanding dengan angka 8. Sedangkan bayangan itu juga merupakan
manifestasi dari keinginan dan kehendak Allah untuk dikenal yaitu kalimat
Tauhid dimana Allah memperkenalkan diri sebagai “01” atau “Laa Ilaaha Illaa
Allah” sebagai 12 huruf Arab (yaitu manifestasi dari surat al-Ikhlas QS
112).
Kalau
kita notasikan Asma dan Sifat itu menjadi X, maka persamaan umum untuk cek
paritas jumlah ayat al-Qur’an dapat dituliskan :
10.Y
= 12.X+8
Nilai
X inilah yang harus memberikan nilai yang sesuai sehingga diperoleh jumlah ayat
yang menunjukkan akurasi dari kitab suci Al-Qur’an seusai dengan apa yang telah
menjadi suatu ketetapan Allah seperti tercantum dalam QS 48:23,
Sebagai
suatu sunnatullah yang telah berlaku sejak dahulu, kamu sekali-kali tiada akan
menemukan perubahan bagi sunatullah itu.(Qs 48:23)
4. Tetapan Universal Awal Mula
Ternyata
bilangan yang memenuhi nilai X memenuhi suatu tetapan-tetapan awal mula yang
erat kaitannya dengan peribadahan Umat Islam dan sesuai dengan konstruksi alam
semesta dimana kita tinggal yaitu Planet Bumi di dalam sistem tatasurya.
Koefisien yang muncul dalam persamaan diatas harus memenuhi pengujian bahwa
semuanya berjumlah 30 yaitu jumlah Juz al-Qur’an : 10+12+8=30 yang juga menjadi
sama dengan nomor ayat QS 27:30 yaitu kalimat Basmalah kedua dari surat ke-27 “Bismilahir
ar-Rahmaan ar-Rahiim”.
Selain
itu, angka-angka yang dimaksud berkaitan erat dengan konsep-konsep agama Islam
yaitu “Iqra”(Qs 96:1) dan “Penyucian Jiwa”(Qs 91:9-10),
angka-angka tersebut juga menyiratkan kaitannya dengan tauhid yaitu 12 bilangan
sebagai tetapan awal mula yang dapat diekstrak dari QS 48:23 sbb:
a) 2+3=5, 2 pasang sifat (2x2=4)
dengan 3 Ism Agung yang menegakkan semua makhluk dan menjadi tajalli Allah.
b) 2+5=7, 7 Asma dan Sifat yang sudah
tersingkap, 7 langit bumi, tatanan dan konstruksi tajalli Allah makro maupun
mikro. Jumlah ayat surat
al-Fatihah yang formal.
c) 4+8=12(5+7=12), 12 huruf tauhid “Laa
Ilaaha Illaa Allaah”.
d) 12+5=17, 17 rakaat shalat dengan
ketukan 2 rakaat.
e) 17+2=19, jumlah huruf dalam
Basmalah yang lahiriah, Allah sebagai al-Wahiid dengan jumlah al-Jumal huruf
19, 19 huruf Haulaqah “Laa Haula Wallaa Quwaata Illa Billah”.
f) 17+5=22, kesempurnaan bentuk berupa
lingkaran, maujud dari 2 pasang sifat; menjadi basis angka 4 sebagai angka yang
menyatakan Allah dan bayangan kesempurnaan-Nya yaitu Muhammad menjadi rahasia
huruf Ha yang menjadi cermin (angka 8).
g) 19+5=24, Basmalah berasal
dari 5 Asma dan Sifat sehingga selama periode yang akan ditetapkan sebagai
suatu ketukan atau siklus kehidupan, semua makhluk hakikatnya dinaungi oleh
rahmat dan kasih sayang Allah semata. Angka 24 juga menyatakan Shibghatallaahi
(QS 2:138), yaitu tampilnya Ilmu Pengetahuan Allah secara terus menerus dimana
angka 24 diperoleh dari 138-114=24. Kemahapemurahan Allah lah yang menyebabkan
semua makhluk itu eksis dan ada. Dan Kemahapemurahan itu tersirat sebagai suatu
maujud dari 3 Ism yang muncul sebagai bayangan didalam cermin Ha (8)
3x8=24 yang difirmankan oleh Allah sebagai Celupan Ilahiah “Shibghatallaahi”
berupa Allah Yang Maha Berilmu (yaitu tampilnya seluruh Asma dan Sifat),
sedangkan unifikasi 3u8 menjadi 30+8=38 atau Laam Ha yang menjadi
bayangan atau alam nyata, sebelumnya adalah konstruksi Alif Laam sebagai
1+30=31, jumlahannya adalah 69 sebagai gerak penciptaan yang mulai nyata
seperti tersirat dalam surat yang diawali dengan firman Thaa Sin (Qs
27:1) dan akhirnya mengaktualkan sunnatullah (Qs 48:23) sebagai “yang
pasti terjadi” yaitu surat al-Haqqaah (QS 69:1). Dengan demikian Alif
Laam dan Laam Ha adalah “Allah” yang menjadi “Wujud
Absolut” (al-Haqq) dari yang maujud (yang dibangun oleh Wujud
Absolut) yaitu alam semesta dan semua isinya (Laam dalam firman-firman yang
menyebutkan unifikasi huruf Alif Laam Mim).
h) 12+17=29, jumlah surat dengan huruf-huruf fawatih yang
merupakan konstruksi alam gaib yang menutup ke dirinya sendiri seperti tasbih
sebagai simbol Kemahakuasaan Allah. 29 orbital alam yang menopang 1 alam nyata
sehingga jumlahannya dengan angka 1 adalah nilai al-Jumal huruf Laam sebagai
alam semesta dan semua isinya. Angka 1 diatas adalah simbol huruf Mim(40)
ditambah dengan yang menegakkan-Nya yaitu angka 1 sebagai Alif, sehingga
Laam mencakup Mim sedangkan Mim mencakup Alif;
karena itu Laam tanpa Mim tidak akan ada dan Mim tanpa Alif
juga menjadi tidak ada, namun Alif sendirian tetap eksis karena Alif
tidak tergantung kepada Laam dan Mim. Dengan demikian
konstruksinya adalah 1+29+40=70, dalam al-Qur’an kemudian tersirat sebagai QS
29:41 yaitu kiasan bahwa alam semesta adalah seperti sarang laba-laba yang
rapuh karena ditegakkan oleh Allah semata (artinya jangan menduakan Allah,
jangan syirik). Dengan demikian, kiasan dalam QS 29:41 sebenarnya identik dengan
“Alif Laam Mim”. Dapat diperoleh juga dari 10+19=29 sebagai makhluk
adalah bayangan (10) kesempurnaan Allah yang dinaungi rahmat dan kasih sayang
Allah (Basmalah).
i) 17x5=85, jumlah surat non-fawatih yang menunjukkan aspek
peribadahan makhluk. Dapat dimaknai sebagai 5 Asma dan Sifat dibalik cermin Ha
(8). Cermin itu tidak lain adalah singhasana Allah Arsy) yaitu qolbu
mukminin (QS 40, 85 ayat).
j) 17x3=30+3x7=51, jumlah rakaat
shalat wajib dan sunnah
k) 8x5=40, bayangan kesempurnaan yang
terbentuk dari Allah yaitu Muhammad sebagai makhluk sempurna, Insan Kamil,
al-Mukmin (QS 40) kondisi titik desain optimum dalam semua bentuk penciptaan.
Semua ciptaan akan “menjadi” pada posisi optimum sebagai suatu titik desain
4x10 sebagai manifestasi makhluk yang diciptakan sebagai bayangan kesempurnaan
Allah. Sama dengan nilai al-Jumal huruf Mim=40.
l) 51+40=91, Alif, Mim, dan Nun atau
“Amien” (dengan ya dihilangkan dalam pengucapannya) kunci menuju makrifatullah
yaitu surat
ke-91 ayat ke-9 dan 10 dengan menyucikan jiwa. Tersingkapnya cahaya rembulan
(al-Qamar, QS 54:1) sebagai pantulan dari cahaya matahari (Asy Syam, QS 91).
Tabir yang akan menyingkap hakikat penciptaan dan keseimbangan global Al-Aalamin
yaitu dengan menyingkap tabir “Basmalah” dengan qolbu (8) dan “Iqra”
(91+5=96). Jadi pengertian “Iqra” adalah tersingkapnya tabir “Amien” bahwa
manusia itu harus menggunakan Ilmu Pengetahuan Allah yaitu 5 Asma dan Sifat
dengan hati yang jernih dan bersih yaitu qolbu yang menjadi cermin karena
penyucian jiwa (QS 91:9-10).
m) 8+91=99, Asma Ul Husna,
tersingkapnya bayangan Allah (angka 9+1=10) menjadi uarian Asma-asma Allah.
n) 19x6=114 tajalli rahmat dan kasih
sayang Allah seutuhnya sebagai tersingkapnya 6 Asma dan Sifat Allah yang maujud
sebagai bayangan kesempurnaan berupa an-Naas (QS 114, manusia), yang
dinaungi rahmat dan ampunan berupa Basmalah dan maghfirah atau taubat
(QS 9) yang menjadi pencerah hakikat penciptaan yaitu manusia yang berpikir
dengan “iqra” dan “qolbu”, sehingga eksistensi dirinya tak lebih dari bayangan
angka 1 yaitu Allah dengan 6 Asma dan sifat-Nya. Tujuan akhirnya adalah apa
yang tersirat dalam Qs 9:128-129.
o) Dari angka-angka diatas, konstruksi
11x12 kemudian dinyatakan dengan 11 angka berikut: 5, 7, 12, 17, 19, 22, 24,
29, 85, 99, 114. Namun konstruksi ini adalah konstruksi suatu sistem kealaman
dimana manusia tidak ada didalamnya. Sehingga dalam penguraian selanjutnya
konstruksi 12x12 digunakan yaitu dengan menambahkan angka 91 sebagai “kunci
makrifat” alias huruf Alif Mim dan Nun (dengan ya
dihilangkan) yang sering kita sebut di akhir surah al-Fatihah atau
doa-doa menjadi “Amiin” artinya secara harfiah dimaknai “kabulkanlah
permohonan kami” namun hakikatnya adalah “bukalah qolbu kami atau
jernihkanlah cermin hati kami sehingga kami dapat menyingkap rahasia Basmalah”.
Dari ke-12 rangkaian angka sebagai suatu tetapan atau sunnatullah itulah
kemudian Basmalah terurai menjadi 6236 ayat dengan konstruksi persamaan sbb:
Jumlah Ayat=(1/10)x[12x12x(5+7+12+17+19+22+29+85+99+114)+8] = 6236; Perlu
diperhatikan bahwa nilai 91 tidak dimasukkan ke dalam jumlahan angka diatas
karena angka 91 hakikatnya adalah sekedar kunci makrifat bagi bayangan Allah
(9+1=10), jadi sejatinya ia adalah “tiada” atau “nol”. Angka 91 juga sebenarnya
merupakan unifikasi dimana manusia yang mencapai angka 9 sebagai pengetahuan
tertinggi harus berendah hati untuk kembali kepada angka 1 atau kembali kepada
Allah (91), jika tidak maka ia akan tersesat ke dalam jebakan Iblis yaitu
munculnya sifat sombong dan takabur. Demikianlah al-Qur’an sebagai pedoman
makhluk di semua alam, alam semesta, dan manusia kemudian berproses dari 11
tetapan universal ini. Tetapan yang muncul kemudian merupakan pengembangan dari
11 angka ini yang kemudian menjadi tetapan peribadahan Umat Islam yaitu shalat
5 waktu dengan 17 rakaat, dan kemudian berkembang menjadi Pengetahuan Ilahiah
PI=22/7, kecepatan cahaya, tetapan Planck, tetapan Ridberg ataupun tetapan alam
semesta fisikal lainnya sesuai dengan QS 48:23 yang menjadi rahasia “Rabb
Al-Aalamin” untuk menciptakan, memelihara, dan mendidik semua makhluk.
5.
Pengetahuan Ilahiah, PI=22/7
PI=22/7=3,142857…
adalah bilangan yang nyata dan berulang serta tak habis bagi yang menyimpan
hakikat Lauh mahfuzh seperti tersirat dalam QS 22:70,
Apakah
kamu tidak mengetahui bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa saja yang ada di
langit dan di bumi?; bahwasanya yang demikian itu terdapat dalam sebuah kitab
(Lohmahfuz) Sesungguhnya yang demikian itu amat mudah bagi Allah. (QS 22:70)
Tiada
suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri
melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhmahfuz) sebelum Kami menciptakannya.
Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.(QS 57:22)
yang
(tersimpan) dalam Lauhmahfuz.(Qs 85:22)
PI=3,1428571428571….
juga mengisyaratkan bilangan-bilangan yang terurai dari 19 huruf Basmalah
misalnya angka 3 adalah 3 Ism Agung Allah , ar-Rahmaan, ar-Rahiim;
142 adalah jumlah kata Allah didalam al-Qur’an dibagi 19 yaitu 142; 8 adalah
simbolisme qolbu mukminin yaitu angka 8 sebagai cermin atau huruf Ha dengan
nilai al-Jumal huruf Ha dalam bahasa Arab 8; 57 adalah jumlah kata ar-Rahmaan
didalam al-Qur’an.
Kalau
kita ekstraks lebih jauh dimana diambil angka 28571 diperoleh angka yang
menunjukkan tanggal lahir Nabi Muhammad SAW yaitu 22-4-571 Masehi seperti
ditulis kitab “Sirah Nabawiyah” karangan Syaikh Shafiyyurrahman
Al-Mubarakfury (terbitan Pustaka Al-Kautsar, Agustus 2001); juga tersirat
lama waktu turunnya al-Qur’an yaitu 22 tahun 2 bulan 22 hari.
Dengan
kenyataan demikian dan beberapa ayat yang nomor surat dan ayatnya menyangkut
angka 22/7 maka PI adalah Pengetahuan Ilahiah yang sudah berabad-abad
menjadi bagian dari pengetahuan manusia jauh sebelum al-Qur’an diturunkan
kepada Nabi Muhammad SAW. Secara matematis PI=22/7 adalah perbandingan antara
keliling lingkaran yang bulat sempurna dengan diameternya yang sudah diketahui
sejak zaman pembangunan Piramida di Mesir, atau zaman Nabi Idris a.s sekitar
4000-5000 tahun Sebelum Masehi.
6.
Mushaf Utsmani adalah Mushaf Muhammad SAW
Dengan terurainya 12 bilangan dari QS
48:23, maka menjadi jelas bahwa formulasi “cek paritas” kesahihan Mushaf
Utsmani dapat dibuktikan,
10.Y=12x12x433+8Y=6236 dengan 112
Basmalah diperoleh 6348 ayat
Penulisan
cek paritas jumlah ayat al-Qur’an dapat dituliskan dengan cara yang berbeda
sebagai suatu cek paritas keshahihan konstruksi al-Qur’an dengan penulisan sbb
:
Y
= (12/10) (10.X+112/4+5) + 8/10
Dimana
nilai X adalah 40 yaitu nomor surat al-Mukmin (QS 40, 85 ayat) identik dengan
inisial nama depan Nabi Muhammad SAW yaitu nilai al-Jumal huruf Mim (40), 112/4
adalah nomor surat al-Ikhlas dibagi jumlah ayatnya yang bernilai 28 atau
menjadi nomor surat al-Qashash yang memiliki jumlah ayat 88, dan 5 adalah
shalat 5 waktu (atau 3 Asma dan 2 pasang sifat).
Tetapan
11 bilangan dengan jumlah 433 yang diekstrak dari QS 48:23 dapat dimaknai
sebagai unifikasi “4 dan 33”. Sehingga diperoleh pengertian yang sudah kita
ketahui bersama,
4
Tahlil,
Tasbih, Tahmid, Takbir
33Ketukan Dzikir untuk
Menyingkap Esensi Ilahiah yang tersembunyi sebagai sebuah titik dibawah huruf
Baa
Tetapan X=433 dapat
diuraikan sbb:
X=400+33
X=40x10+112/4+20/4
X=QS40:1xQS10:1+QS112:4+QS20:4
X=[QS
al-Mukmin]x[Qs Yunus]+[QS al-Ikhlas]+ [QS ThaaHaa]
Selain
persamaan umum yang menyatakan hubungan jumlah ayat al-Qur’an dengan 11 tetapan
universal yang berkaitan dengan peribadahan Umat Islam dan dapat dikembangkan
menjadi tetapan universal fisika seperti kecepatan cahaya dan tetapan Planck,
maka cek paritas berikut menunjukkan suatu cara untuk membuktikan keotentikan
al-Qur’an Mushaf Utsmani yang tidak lain adalah Mushaf Nabi Muhammad SAW :
• Nilai
X = 12(400+33) = 5196, jumlahkan 5+1+9+6=30Juz Al Qur’an yang
nilainya sama dengan nilai al-Jumal huruf Laam, dan sama dengan jumlah
koefisien 10+12+8=30. Angka 30 merupakan tampilnya 3 Ism dan 2 pasang sifat
Allah (5 Asma dan Sifat) sebagai tajalli kesempurnaan di alam nyata. Munculnya
koefisien 433 nampaknya berkaitan juga dengan firman Allah dalam Qs 43:3, ”Sesungguhnya
Kami menjadikan Al Qur'an dalam berbahasa Arab supaya kamu berpikir.” Ayat
ini nampaknya menegaskan bahasa Arab sebagai bahasa yang paling memadai untuk
mengungkapkan wahyu-wahyu Allah. Hal ini bukan saja karena konsepsi bahasa Arab
yang sempurna baik dari segi huruf maupun bilangan yang merupakan instrumen
pengetahuan manusia saat itu bahkan sampai saat ini (desimal 123456789 dari
budaya Arab demikian juga alfabet). Namun karena konsep bahasa Arab nampaknya
merupakan bahasa yang dapat dipahami secara tri-lateral yaitu tiga arah baik
sebagai huruf-huruf yang menjadi kata maupun kalimat, bilangan/numerik dengan
makna yang berhubungan dengan simbolisme huruf, maupun simbolisme bentuk
geometris dengan huruf dan bilangan (misalnya : seni kaligrafi) sehingga dalam
banyak aspek kandungan al-Qur’an boleh jadi secara utuh merupakan integrasi
ketiga sudut pandang tersebut. Artinya, bukan sekedar kata-kata dengan makna
kebahasaan, namun juga makna-makna numerikal/bilangan dan geometrik untuk
memaparkan wahyu Allah sebagai Pengetahuan Ilahiyah yang eksistensinya adalah 3
Ism Agung yang menjadi dasar kalimat Basmalah yang kemudian menjadi
huruf-huruf, nomor surat dan ayat, dan isi dari ayat-ayat al-Qur’an.
• Jumlah
total nomor surat Al Qur’an (nomor surat dijumlah dari
1+2+3+…+114) : Y1 = 6236+433-114 = 6555 = 345x19
• Angka
19 harus memenuhi hubungan: 19=10*(12x5+54)/12x5; dimana 60=12x5 adalah
penauhidan dan shalat 5 waktu yang hasil kalinya sama dengan jumlah surat
dengan jumlah ayat genap, Yge=345x10=3450
• 54
adalah jumlah surat dan jumlah ayat bernomor ganjil
yang juga merupakan nomor surat
al-Qamar (Qs 54:1) sebagai awal penyingkapan menuju tersingkapnya As-Syams (Qs
91). Selain itu, 54=9x6 yaitu hasil kali dari nomor surat al-Alaq kalau kita unifikasikan (96),
atau 54 = 9x(60/10) = (12x5)(9/10); Ygi=345x19=6555. Koefisien 9/10 muncul
sebagai koefisien Taubat yaitu yang berkaitan dengan surat ke-9 At-Taubah.
• Dengan
konstruksi 60 dan 54 tersebut maka nomor surat
dan ayat tidak bisa dipertukarkan.
• Munculnya
koefisien angka 345 dalam cek paritas diatas sebenarnya merupakan suatu isyarat
nyata dari Allah bahwa isi, konstruksi, baik penomoran surat maupun ayat saling berkaitan dan
berhubungan . khususnya dengan kaidah bagaimana Allah menciptakan makhluk yaitu
konsep “Alif Laam Mim” atau “Pencipta dan Makhluk” sebagai “Yang Bercermin dan
bayangan-Nya” (QS 7:172) yang juga menjadi kaidah konstruksi penyusunan
al-Qur’an. Hal ini kemudian dengan tegas difirmankan oleh Allah dalam Qs 34:5
dan cerminannya yaitu QS 54:3,
”Dan orang-orang yang berusaha untuk
(menentang) ayat-ayat Kami dengan anggapan mereka dapat melemahkan
(menggagalkan azab Kami), mereka itu memperoleh azab, yaitu (jenis) azab yang
pedih.”(QS 34:5). ”Dan mereka mendustakan (Nabi) dan mengikuti
hawa nafsu mereka, sedang tiap-tiap urusan telah ada ketetapannya.”(QS 54:3).
• 57
surat memiliki nomor surat
dan jumlah ayat ganjil, jumlah nomor surat
dan ayatnya: Ygigi=6236 (sama dengan jumlah ayat al-Qur’an)
• 57
surat memiliki nomor surat
dan jumlah ayat genap, jumlah nomor surat dan
ayatnya: Ygege=6555 (sama dengan jumlahan semua nomor surat al-Qur’an)
• 57
adalah titik tengah dari 114 surat al-Qur’an
yang merupakan surat
al-Hadiid dimana ayat ke-3 menyatakan tauhid (QS 57:3).
• Jumlah
nomor ayat dan jumlahan suratnya: 6236+6555=12.791 ; Bilangan ini merupakan
bilangan prima deretan ke-1525. Kalau dijumlahkan dengan dua angka diperoleh
1+5=6 dan 2+5=7; Unifikasi 6 dan 7 menjadi 67 adalah surat al-Mulk yang
menyatakan prinsip keseimbangan global penciptaan alam semesta yang tanpa cacat
seperti tersirat dalam ayat ke-3 dan ke-4 (QS 67:3-4). Sedangkan cerminan dari surat ke-67 adalah nomor 76 yang menjadi tujuan awal dan
akhir penciptaan yaitu surat
al-Insaan. Yang menarik, konstruksi bilangan 12.791 kalau kita jumlahkan akan
diperoleh 12.17 dengan jumlahan akhir 12+17=29 (29 surat fawatih), sedangkan (1+2).(1+7)=3.8
atau 38=2x19 yang menjadi basis dasar selanjutnya untuk menentukan cek paritas
kesahihan al-Qur’an.
• Konstruksi al-Qur’an dapat dibagi menjadi 3
bagian surat dengan komposisi 38 surat (2x19, 2 basmalah di surat ke-27) dapat
habis dibagi bilangan 3, 38 surat dapat habis dibagi bilangan 2, dan 38 surat
hanya dapat dibagi 1. Pembagian demikian berkaitan dengan konstruksi Asma dan
Sifat yaitu 3 Ism Agung, 2 pasang Asma, dan 1 nama sebagai Diri-Nya sendiri
yaitu Ism Agung Allah.
Apa
yang dapat disimpulkan dari fakta-fakta demikian? Dengan cek paritas yang
terintegrasi, maka semua macam kodefikasi al-Qur’an yang tidak memenuhi
persyaratan-persyaratan kodefikasi diatas harus dianggap “TIDAH SAH BAHKAN
BOLEH DIKATAKAN BATIL”. Artinya, satu-satunya mushaf al-Qur’an yang sah
adalah Mushaf Utsmani yang tidak lain adalah Mushaf Nabi Muhammad SAW. Jika
menolak fakta demikian, maka konsepsi pengetahuan Agama Islam tentang Tuhan,
Alam Semesta, dan Manusia dengan basis syariat Islam yang dipenuhi dengan
shalat 5 waktu 17 rakaat, dan penauhidan dengan “Laa Ilaaha illaa Allaah,
Muhammadurrasulullah” dapat dianggap “TIDAK SAH” artinya “AGAMA ISLAM
RUNTUH” (kecuali kodefikasi al-Qur’an yang berbeda dengan Mushaf Utsmani mampu
membuktikannya dengan eksak konsepsi dan kodefikasinya).
7.
Hubungan 11 bilangan dengan Sistem Tata Surya
11
bilangan yang menjadi baris dari matriks 11x12: 5,7,12,17,19,22,24,29,85,99,114
dengan 91 dihilangkan sesuai dengan jumlah orbital tata surya, yaitu 11 orbital
dengan sabuk asteroid. Ke-12 bilangan ini tidak bisa diubah karena merupakan
suatu tetapan awal mula sehingga satu angka diubah semua aturan peribadahan
Umat Islam seperti shalat 5 waktu dan konstruksi al-Qur’an akan runtuh (tidak
berlaku). Dan pada akhirnya semua tetapan fisika yang berhubungan dengan jagat
raya tidak berlaku juga. Ilmu Pengetahuan yang dikenal manusia pun akan runtuh.
Dalam
sistem tatasurya, Planet Bumi menempati orbit ke-3 (urutan ke-3 dari matahari)
yaitu yang menauhidkan selama 12x2=24 jam dengan jantung yang berdetak sebagai
suatu sistem kehidupan dengan ketukan : 3 Ism(Basmalah) x12=36, angka ini
adalah nomor surat Yaa Siin (QS 36, 83 ayat) yang menjadi jantung kehidupan
semua makhluk baik mikro maupun makro (perhatikan bagaimana jumlah surat
YaaSiin adalah cermin dari angka 38 .
Oleh
karena itu semua sistem kehidupan makhluk memiliki rasio 3/2 : 3 Ism didukung
oleh 2 pasang Sifat al-Hayyu & al-Qayyum, al-Iradah & al-Qudrah (QS
3:1-2). Atau 3 Ism dan 4 Sifat. Sujudlah semua makhluk dengan ketukan 34 kali
sujud atau 17 rakaat shalat yang dibagi menjadi 5 kali sehari semalam. Dengan
demikian, shalat 5 waktu 17 rakaat berkaitan erat dengan stabilitas dan
eksistensi semua makhluk di sistem tata surya bahkan di alam semesta global. 5
kali shalat 17 rakaat selama 12 jam dibagi dengan rangkaian ketukan rakaat
shalat sbb. : 2 4 4 3 4. Setiap ketukan rakaat shalat merupakan suatu “daya
dan upaya Allah” untuk menggerakkan Bumi sebagai Planet yang diciptakan
dengan rahmat, kasih sayang, dan hamparan maghfirah Allah SWT.
12/2=6
12/4=3 12/4=3 12/3=4 12/4=3
Susunannya
menjadi :
6
3 3 4 3 = 6+3+3+4+3=19
(jumlah
huruf Basmalah)
Dengan
demikian, setiap shalat shubuh 6 Asma dan sifat menggerakkan rotasi Bumi,
setiap dhuhur dan asar 3 Ism menebarkan rahmat, setiap magrib ampunan dan tobat
diberikan sebagai tanda kesempurnaan dan rahmat dari Rahmaatal lil Aalamin,
dan setiap Isya maka 3 Ism menaungi semua makhluk sampai subuh tiba. Semua itu
hanya digerakkan oleh Tauhid (12) dan Rahmat ar-Rahmaan yaitu kalimat Basmalah
(19 huruf) sehingga semua eksistensi sejatinya ditegakkan oleh 19 huruf
haulaqah:
“Laa
Haulaa Wallaa Quwwaata Illaa Billaah”
(
Tiada daya dan upaya kecuali daya dan upaya Allah)
Matriks
11x12 dapat diuraikan menjadi matriks 12x12 setelah penguraian pertama dengan
perkalian antar baris dan kolom. Matriks 11x12 dapat diuraikan sbb:
11x12=12x12-12=12(12-1)=132, bilangan ini yang menunjukkan konstruksi alam
semesta sebagai bayangan Allah (dan juga merujuk kepada Qaaf(100) Laam(30)
Ba(2) alias Qalb – qolbu), khususnya sistem tata surya bumi-matahari dengan
11 orbital planetari. Angka 132 dapat diuraikan menjadi 1x3x2 atau 1x6 yang
merupakan konstruksi dasar kealaman 7 langit bumi yang tersirat sebagai
al-Fatihah dimana Basmalah terurai menjadi 6 ayat. Dapat juga dimaknai sebagai
1x32=1x9
dengan angka 9 sebagai at-tawbah (Qs 9), atau dapat dimaknai sebagai 132-114=18
sebagai surat al-Kahfi yang menjadi konsepsi penciptaan Allah bahwa ketika
Allah berkehendak untuk menciptakan maka Dia ciptakan cermin (angka 8). Semua
angka diatas mempunyai makna yang sangat khusus dan eksak sebagai suatu
sunnatullah yang pasti, tetap, dan tidak berubah sampai Hari Kiamat tiba.
Satu
(1) sebagai Allah adalah hakikat penampakkan Allah dengan 7 Asma dan Sifat-Nya
(termasuk Ism Agung Allah didalamnya) di alam inderawi (alam nyata). Unifikasi
7 dan 6 menghasilkan angka 76 yang merujuk kepada surat al-Insaan (31 ayat),
sehingga alam semesta dimana planet bumi berada didalamnya menjadi sempurna
setelah manusia ada didalamnya, yaitu berubahnya matriks 11x12 menjadi 12x12
dengan membagi semua nilai yang diperoleh dari perkalian matriks 11x12 dengan
angka 5 atau menambahkan angka 1 didalam angka 11 sehingga diperoleh matriks
12x12 (=144, lagi-lagi kita temui 1.(4+4)=18, atau 144-114=30 sebagai bilangan
al-Jumal huruf Laam dan merupakan penjumlahan dari koefisien 10+12+8=30).
Kesempurnaan itu tidak lain dari adanya penauhidan (1 identik dengan 12 huruf
tauhid) dengan shalat 5 waktu, yang akhirnya menjadi 17 rakaat.
Secara
fisikal, sistem tatasurya bumi-matahari sebenarnya melibatkan satu faktor
penyeimbang yang akan datang dengan ketukan 76. Faktor ini ternyata berkaitan
dengan KOMET HALLEY yang melintasi sistem tata surya bumi-matahari dengan
periode 76 tahun sekali. Komet Haley dalam al-Qur’an tersirat dalam surat
At-Takwiir (QS 81:16) sebagai “kunnas” yang tersirat dalam ayat ke-16
sebagai “yang beredar dan yang terlindung”. Makna “terlindung”
disini adalah suatu benda langit yang sistem orbitalnya sangat lebar karena
menempuh 76 tahun sekali untuk mengelilingi matahari atau periodenya 76 sekali
mengunjungi Bumi. Sehingga, jarang sekali manusia mengetahui (bahkan mungkin
tidak tahu) peredaran benda langit ini sebagai bagian dari sistem tatasurya
kita dan secara periodik selalu kembali mengunjungi bumi. Pertama karena
periodenya yang panjang bahkan kalau kita rata-ratakan umur manusia cuma 65
tahun maka boleh jadi selama seumur hidup Anda tidak pernah tahu adanya Komet
Halley dengan mata kepala sendiri. Jadi, secara fisikal, atau konstruksi jagat
raya fisikal, adanya KOMET HALLEY yang secara periodik mengitari sistem tata
surya bumi-matahari berkaitan dengan kesempurnaan desain jagat raya (dalam
lingkup tata surya) sebagai penyeimbang. Inilah cermin keseimbangan global yang
tersirat dalam QS 67:3 sebagai prinsip penciptaan sehingga matriks 11x12
menjadi 12x12.
Ketika
manusia di muka bumi “musnah” atau “tidak ada” lagi yang menauhidkan “Allah”,
maka kiamat global secara fisikal boleh jadi terjadi akibat terjadinya
ketidakseimbangan sistem tata surya khususnya di Bumi yang berkaitan juga
dengan adanya perubahan lintasan KOMET HALLEY ini. Dengan kata lain, boleh jadi
sistem tata surya musnah, khususnya bumi musnah, ketika lintasan KOMET HALLEY
melenceng dan menumbuk Planet Bumi, atau salah satu planet di tata surya
sehingga seluruh sistem dan konstruksi tata surya tidak stabil dan akhirnya
runtuh; dan demikian juga sebaliknya. Komet Halley terakhir kali berkunjung
mendekati Bumi pada tahun 1986, menurut taksiran para astronom Komet Halley
akan kembali mengunjungi Bumi pada tahun 2062 atau sekitar 57 lagi dari
sekarang (2005). Saat itu apakah Umat Manusia di Planet Bumi masih menauhidkan
Allah sebagai Yang Maha Esa dengan penauhidan hakiki Dialah,
“Yang Awal dan Yang Akhir, Yang lahir dan
Yang batin, Dan Dialah Yang Maha Mengetahui”(QS 57:3) atau sudah tidak sama
sekali? Hanya Allah lah yang tahu, yang jelas kita harus selalu mawas diri
bahwa dalam QS ar-Rahmaan (QS 55), 31 kali Allah menyebutkan suatu peringatan
bagi makhluk yang tinggal di Planet Bumi yang jumlahnya sama dengan jumlah ayat
dari surat al-Insaan (QS 76), jadi peringatan ar-Rahmaan itu untuk
al-Insaan – manusia – yaitu ,
“Maka
nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?(Qs 55:13)”
8.
Apakah al-Qur’an Buatan Manusia?
Mungkin
pertanyaan paling mendasar diatas akan muncul dibenak Anda. Saya tegaskan bahwa
melihat konstruksi isi, komposisi nomor surat dan ayat, dan apa yang
dimaksudkan dalam unit-unit wahyu terkecil yang bersifat “khusus” maka satu
kata yang dapat menjawab adalah “MUSTAHIL al-Qur’an dibuat oleh manusia”.
Kendati dalam beberapa aspek konsepsi geometris dan bentuk mungkin sudah
dikenal, namun penomoran surat :ayat dan penamaan
yang terdapat pada beberapa surat
dan ayat sangat mustahil diketahui manusia di zaman Nabi Muhammad SAW karena
menyangkut konsepsi pengetahuan “MASA DEPAN”. Beberapa surat/ayat yang saya
maksud dan sangat eksak melibatkan pengetahuan masa depan adalah :
• Surat al-Hadiid (besi)
yang memiliki nomor 57. Unsur besi atau Ferrum dalam tabel unsur-unsur kimia
modern yaitu tabel Mendeleyev mempunyai isotop stabil pada Fe-57. Nama
al-Hadiid sendiri memiliki nilai al-Jumal 57. Nilai ini merupakan kelipatan
ke-3 dari hasil kalinya dengan 19 yaitu 3x19=57. Fe-57 adalah isotop besi yang
stabil dengan 31 neutron, dengan energi ionisasi tingkat ke-3 sebesar 2957
jk/mol dan massa atom Fe-57 56,9354. Jumlah ayat dari surat al-Hadiid adalah 29 yang merupakan 2
dijit pertama dari energi ionisasi besi. Fakta demikian baru diketahui kurang
dari 2 abad yang lalu. Jadi mustahil Nabi Muhammad sebagai manusia yang
menuliskan bahwa nomor surat al-Hadiid adalah 57 dan jumlah ayatnya 27 dengan ayat
ke-3 menyatakan tauhid yaitu selaras dengan ionisasi tingkat ke-3. Nomor atom
besi adalah 26 yang merupakan pengurangan jumlah ayat 29 dengan angka 3,
29-3=26. Kodefikasi ayat dan surat
al-Hadid 2957 sesuai dengan energi ionisasi tingkat ke-3 yang stabil. Kendati
sejak zaman dahulu besi dikenal manusia namun perincian dari data-data elemen
besi adalah produk kimia modern. Jadi, hanya kekuatan supranatural dari Allah
lah yang menginformasikan hal ini kepada Nabi Muhammad SAW sebagai penerima
wahyu sehingga surat
ke-57 disebut besi. Dan asal tahu saja besi adalah elemen inti dari bumi yang
menurut pakar geologi menjadi suatu unsur yang tidak mungkin dibentuk di bumi
karena memerlukan temperatur sangat tinggi. Setidaknya, besi merupakan hasil
dari suatu ledakan supernova dari Bigbang yang terjerat gravitasi matahari dan
akhirnya membangun Planet Bumi.
• Kelompok
Fakir 60 dari Amerika Serikat menjelaskan bahwa banyaknya kata dalam surat ini
adalah 574 kata, sedangkan banyaknya kata dari awal surat ini sampai ayat ke-25
(Qs 57:25) adalah 451. Bilangan 574 menunjukkan bahwa Fe-57 adalah salah satu
isotop yang stabil dari isotop yang ada atau berarti yang mempunyai 4 tingkatan
energi. Bilangan 451 adalah simbol 8 isotop keluarga besi yaitu Fe-52, 54, 55,
56, 57, 58 sampai Fe-60; yaitu 52+54+55+56+57+58+59+60=451.
• Jumlahan
dari nomor surat
dan ayat QS 57:25 adalah 5+7+2+5=19.
• Surat al-Hadid terletak di
tengah al-Qur’an sedangkan elemen besi bernomor unsur 26 diletakkan ditengah
tabel periodik unsur-unsur.
• Jumlahan
angka 1 sampai 57 akan menghasilkan hasil yang sama dengan perkalian nomor surat dan ayat yaiu 57x29.
Uraian
diatas merupakan sekelumit rincian ilmu pengetahuan yang dapat diekstrak dari
satu surat
yaitu al-Hadiid yang sebagian besar informasinya adalah informasi yang baru
diketahui manusia di abad yang lebih modern sebagai bagian dari ilmu kimia
modern. Jadi sangat mustahil jika Nabi Muhammad SAW memiliki rincian informasi
demikian sehingga beliau menggunakan surat
al-Hadiid dengan sistematika penomoran yang demikian rinci kecuali adanya
Pengetahuan Ilahiyah yang langsung campur tangan menetapkannya.
Uraian
rinci surat al-Hadid membuktikan satu aspek penting dari kesucian al-Qur’an
bahwa “mustahil” Nabi Muhammad SAW mengarang al-Qur’an, semua informasi
al-Qur’an adalah wahyu Ilahi baik dari isi maupun penomoran surat dan ayat,
maupun konstruksi kodefikasinya yang dikenal saat ini sebagai Musaf Utsmani.
Beberapa ayat dan surat
menyiratkan adanya Pengetahuan Allah langsung karena berkaitan dengan ilmu
pengetahuan kimia dan fisika modern antara lain:
• QS
76 al-Insaan berkaitan dengan nomor unsur ke-76 yaitu Osmium atau perak
sepuhan. Hal ini terkait dengan makna QS 76:15 dan QS 76:16 yang mengkiaskan
bejana perak yang jernih laksana kaca bagi mereka yang berada di surga.
• QS 32:5, QS 22:47, QS 70:4 mengisyaratkan
teori relativitas Einstein.
• QS
35:1 mengisyaratkan teori kuantum spektrum frekuensi dengan kelipatan bilangan
bulat yang dimulai dari n=2,3,4…..
• QS
91:1-7 mengisyaratkan keseimbangan energi antara energi materi dan energi
gravitasi sebagai gelombang elektromagnetik sangat halus yang muncul karena
gerakan stasioner bumi mengelilingi matahari, atau karena tasbihnya bumi
mengelilingi pusatnya. Hal ini akhirnya mengakibatkan keseimbangan medan gravitasi dan energi-materi dipermukaan bumi dengan
formulasi umum : mc2=hv (m=massa
partikel yang sampai di permukaan bumi dan memiliki kecepatan menuju nol, c
tetapan universal kecepatan cahaya, h tetapan universal Planck, v frekuensi
periode bumi mengelilingi matahari). Produk keseimbangan ini adalah suatu
partikel materi elementer yang sangat halus yang saya sebut sebagai PHA
(Partikel Hipotetik Atmo) dengan nilainya yang selaras dengan pengertian agama
Islam 0,23458321x10-57 kg, 234 adalah kodefikasi maghfirah yang disebutkan
didalam al-Qur’an sebanyak 234 kali, sedangkan 5 adalah ketentuan awal mula
shalat 5 waktu, atau 2345 adalah surat al-Baqarah ayat ke-2 sampai ke-5 yang
merupakan fondasi Iman dan Islam; 8 adalah simbol qolbu mukminin sebagai Arasy
Allah sebagai cermin, 321 adalah uraian dari As-Shirathaal Mustaqim yang
tidak lain adalah surat at-Taubah (nomor 9, dengan penulisan 32x1=9x1
atau surat ke-91, atau menunjukkan konstruksi al-Fatihah 3x2x1=6x1 dan tatanan
jagat raya). 57 adalah kodefikasi tauhid yaitu surat al-Hadiid [57]:3. Perhitungan diatas
dilakukan dengan nilai-nilai tetapan universal yang telah digunakan ilmu
pengetahuan masa kini. Frekuensi bumi mengelilingi matahari adalah frekuensi
kedirian bumi (eigen value) secara menyeluruh dan individual (yaitu
berlaku secara keseluruhan bumi dan semua isinya, maupun individual yaitu
manusia secara pribadi memiliki frekuensi awal sebagai frekuensi kedirian yang
sama atau eigen value yang sama). Frekuensi ini muncul karena bumi
terikat didalam sistem tatasurya dengan matahari sebagai pusat sistemnya dan
berputar dengan periode tetap 365 hari per Hz, Kecepatan cahaya c = 299792458
meter per detik, tetapan universal Planck atau konstanta Planck , h =
6,626176x10Joule.detik. Dengan memasukkan nilai ini diperoleh massa kedirian PHA sebesar 0,23458321x10kg.
PHA sebagai partikel elementer yang halus muncul atau eksis sebagai hasil dari
dualisme gelombang elektromagnetik dengan gelombang gravitasi bumi pada
frekuensi rendah sebagai hasil dari sifat-sifat eksistensi energetis pada
frekuensi rendah yang disebut simetri yang memecah secara mandiri (Self
Symmetri Breaking Process, SSBP) suatu konsepsi fisika modern yang
digunakan oleh Prof Abdus Salam ketika beliau menemukan partikel elementer
bernama partikel Z dan W untuk menyatukan gaya elektro lemah dan nuklir
kuat/lemah. SSBP merupakan konsep dimana sebuah entitas berfrekuensi tinggi
tidak terbedakan identitasnya, namun pada frekuensi rendah dapat diketahui
identitasnya misalnya seperti nomor rulet yang nampak jelas kalau roda ruletnya
semakin pelan. Ketika roda rulet berputar kencang (frekuensi tinggi), kita
tidak mengetahui nomor 1,2,3 dan seterusnya. Namun, ketika roda rulet semakin
pelan maka kita mengetahui identitas masing-masing kotak rulet yang dinomori,
mana yang nomor 1 atau namor 2 dst. Demikian juga partikel elementer, ketika ia
berenergi tinggi maka kita tidak tahu partikel A atau B, namun ketika
ferkuensinya merendah maka partikel itu teridentifikasi. Prinsip demikian terjadi
karena konsep penciptaan dalam keseimbangan seperti tersirat dalam QS 67:3 dan
diuraikan dengan terperinci namun dengan bahasa Wahyu Ilahi dalam QS 91:1-10
sebagai keseimbangan tatanan alam dan keseimbangan di dalam jiwa manusia
(Uraian masalah ini saya perinci di risalah mawas diri saya, “Kun Fa Yakuun”
release 4). tahun, bila kita merujuk pada pusat galaksi bima sakti sebagai
pusat maka nilainya tidak 365 hari, entah berapa milyar tahun. Nilai Frekuensi
Kedirian Bumi dalam hitungan satu hari sama dengan 23,9182 jam (dari hitungan
astronomis), satu jam 3600 detik menjadi, maka frekuensi kediriannya adalah :
v=1/(365x23,9182x2600) = 3,1818182x10-8 -34 -57
• Konsep-konsep al-Qur’an yang berkaitan dengan
prinsip penciptaan makhluk yaitu “seusia dengan ukuran kuantifikasi kuantum
(QS 54:49, 15:21) “, “keseimbangan (Qs 67:3-4)”, “di hitung satu
per satu (QS 72:28)”, “ketelitian (19:94)” menunjukkan hubungan yang
erat bahwa al-Qur’an dan pengetahuan fisika dan matematika sangat berkaitan,
baik yang modern maupun klasik.
• Tetapan
universal segala sesuatu diinformasikan oleh Allah dalam konstruksi surat QS 48:23 sebagai
suatu sunnatullah yang tetap (lihat uraian sebelumnya).
• Konstruksi
Umul Kitab yaitu Al-Fatihah adalah konstruksi optimum semua maujud makhluk
yaitu 1x6 (atau cerminannya sebagai 3x2x1, 6x1) sebagai bangunan dengan
geometri seperti penampang sarang tawon (segi enam) sebagai struktur yang
paling optimum di alam semesta (QS 16, QS 29:41). QS 29:41 sendiri menunjukkan
konsepsi ruang jagat raya yang dikiaskan Allah sebagai sarang laba-laba yang
lemah menunjukkan konsepsi fundamental “superspace” alam semesta global
sebagai al-Aalamin.
• Konsepsi
waktu dan periodesasinya dinyatakan dalam Qs 17:12.
• Konsepsi
kesadaran atas diri manusia dinyatakan dalam Qs Al Ashr (QS 103).
• Dengan
demikian alam semesta menurut al-Qur’an adalah : kontinuum
kesadaran-ruang-waktu bukan sekesar kontinuum ruang-waktu belaka seperti
yang diyakini saat ini oleh pengetahuan manusia dengan dasar filsafat materialisme-atheisme.
Karena kesadaran manusia melibatkan Iqra dan Penyucian Jiwa yaitu qolbu maka
konsepsi alam semesta adalah konsepsi yang lebih utuh sebagai KKRW Kontinuum
Kesadaran-Ruang-Waktu.
• Dan
beberapa surat
dan ayat lainnya.
Fakta
demikian tentunya tidak bisa diabaikan begitu saja oleh Umat Islam karena “semua
itu bagian dari Pengetahuan Allah”. Mengabaikan fakta demikian sama saja
kita seperti Ablasa yang tidak memahami Sifat-Sifat Allah Yang Maha Berilmu.
Demikian juga penegasan Allah bahwa Dia “menurunkan al-Qur’an dalam Bahasa
Arab supaya manusia berpikir (QS 43:3)” mengisyaratkan bahwa bahasa Arab
sebenarnya mempunyai pengertian tri-lateral :
• huruf/kata/makna (bahasa),
• numerik (bilangan)-matematik (bilangan),
dan
• simbolis geometrik, baik individual maupun
dari huruf dan bilangan
ketiganya
merupakan bagian dari cara untuk memahami al-Qur’an yang lebih utuh karena
al-Qur’an dikonstruksi baik “isi” maupun “sistematisasi kodefikasinya”
oleh Allah dengan bahasa Arab yang memiliki konsep pemahaman tri-lateral (3
arah, dengan demikian terdapat 3x3=9 jalur pengetahuan sebagai jaringan neural)
sebagai maujud dari 3 Ism Agung-Nya yang menjadi kalimat Basmalah. Dari
pemahaman demikian akan terungkap suatu fakta yang eksak berupa Pengetahuan
Ilahiyah bahwa al-Qur’an adalah Kitab Tentang Segala Sesuatu, sebagai pedoman
manusia, sebagai catatan sejarah alam semesta dari awal sampai akhir, dan
dikonstruksi sedemikian rupa oleh Allah dengan suatu konsep yang utuh
terintegrasi dan masif seperti sifat-sifat Allah yang memiliki Ahadiyyah dan
Ash-Shamadiyyah Dzat yang tidak habis bagi (QS 112:1-2).
Demikianlah
pengetahuan manusia telah berkembang dari apa yang dihamparkan oleh Allah
sebagai penampakkan Asma & Sifat, Af’al-Nya dan semua itu akhirnya menjadi
instrumentasi untuk memahami kitab suci al-Qur’an sekiranya kita mau membuka
cara berpikir kita dengan apa yang sudah disarankan oleh Allah yaitu dengan
“IQRA” yang benar dengan panduan “Basmalah” (QS 96:1-5) dan dengan kekuatan
makrifatullah berupa penyucian jiwa (Qs 91:9-10) agar kebenaran tentang
al-Qur’an adalah kebenaran dari al-Haqq sebagai satu-satunya kitab suci
dari Allah yang pernah diturunkan karena Dialah “Yang Awal dan Yang Akhir,
Yang Dhahir dan Yang batin, dan Dia Maha Mengetahui Segala Sesuatu” (QS
57:3).
9. Penafsiran Al Qur’an dan
al-Munasabah
Ilmu
yang menelusuri seluk beluk penempatan surat
dan ayat al-Qur’an disebut sebagai ilmu munasabah. Yang intinya adalah menjawab
pertanyaan “Mengapa ayat dan surat itu
ditempatkan setelah ayat atau surat
ini?”.
Kebutuhan
atas munculnya pertanyaan diatas nampaknya memang muncul dari struktur
al-Qur’an yang tidak linier baik dari segi isi maupun penomoran surat dan
ayatnya, meskipun sebenarnya terdapat kaitan yang erat antara nomor surat dan
ayat dengan hubungan matriks 2x2 sebagai hubungan tri-lateral (yaitu
horisontal, vertikal dan diagonal). Dengan demikian, nampaknya apa yang
difirmankan oleh Allah sebagai al-Qur’an terkait langsung dengan struktur
bahasa Arab itu sendiri seperti tersirat dalam QS 43:3. Jadi ada tiga aspek
penting yang harus ditinjau untuk memahami al-Qur’an secara totalitas yaitu
kebahasaan, bilangan dan geometri.
Dalam
menafsirkan al-Qur’an, nampaknya sejauh ini hanya huruf dan makna saja yang
banyak diulas oleh para ulama karena memang merupakan cara komunikasi kita
sehari-hari yang mudah dipahami secara lahiriah. Para ahli mengabaikan aspek
penting yang lebih akurat yaitu bilangan dan geometri bentuk, padahal dengan
tambahan 2 parameter ini, sebenarnya dapat digali pemahaman paling mendasar dan
utuh, selain lebih universal dan bersifat pasti sebagai suatu sunnatullah yang
tetap yaitu dengan menggunakan 2 parameter lainnya.
Geometri
dan bilangan akan melibatkan konsepsi operasinya mulai dari unifikasi,
pemisahan, jumlahan, pengurangan, perkalian, pembagian dan perpangkatan;
sedangkan konsepsi geometris akan melibatkan bentuk titik, garis, bidang,
sampai bentuk tiga dimensi yang lebih nyata. Dalam pengertian geometris maka
bentuk bidang merupakan bentuk 2 dimensi yang dibangun dari 3 garis saling
berpotongan yaitu segitiga, maka benda 3 dimensi secara mendasar diaktualkan
karena komposisi 3 ruas trilateral yang membangun konstruksi 12 bidang
permukaan dengan 30 titik temu sebagai titik temu optimum dan paling elementer.
Demikian juga dalam pemahaman yang utuh maka pengetahuan yang berasal dari
al-Qur’an dapat kita gali lebih mendalam kalau kita kaitkan dengan 3 arah
pemahaman atau sintesis trilateral : bahasa, bilangan dan geometri.
Sejarah
al-Qur’an yang banyak dikaji mufasir menyimpulkan bahwa al-Qur’an dan
sistematikanya diterima apa adanya seusai dengan wahyu yang diterima oleh Nabi
SAW (lihat buku M. Quraish Syihab “Membumikan Al Qur’an”). Bahkan dalam
pewahyuannya kepada Nabi Muhammad, menurut para ahli dapat dibagi menjadi
beberapa periode yaitu Mekkah dan Medinah. Namun, dalam setiap turunnya wahyu,
semua itu dicatat oleh Rasulullah SAW dan nampaknya pencatatan demikian terkait
juga dengan kodefikasi penomoran juz, surat
dan ayatnya. Kalau tidak demikian, maka penomoran al-Qur’an menyangkut suatu
pengetahuan tertinggi yang diterima oleh Nabi Muhammad Saw sebagai Pengetahuan
Ilahiyah yang mencakup masa lalu, masa kini, dan masa depan karena konstruksi
al-Qur’an menyiratkan hal yang demikian, baik dari segi isi , maupun kodefikasi
penomorannya.
Sifat
isi yang tidak linier menyirat kaitan-kaitan isi al-Qur’an satu sama lain
sebagai suatu mekanisme yang rumit dan kompleks. Saya cenderung mengatakannya
sebagai suatu jaringan neural dari apa yang menjadi Pengetahuan Allah
yang disampaikan kepada Nabi untuk kepentingan Umat manusia. Jadi apa yang
disampaikan didalam al-Qur’an melulu bukan kepentingan Allah, namun kepentingan
bagi manusia untuk kembali kepada-Nya dengan selamat yaitu melalui Shiraatal
Mustaqiim yang tidak lain adalah menauhidkan Allah sebagai Tuhan Yang Maha
Esa dengan ampunan dan tobat, dan mengikuti apa yang disampaikan oleh Nabi
Muhammad SAW sebagai Utusan Allah yaitu orang yang diberi nikmat. Ketika saya
menuliskan beberapa konsep dasar saling hubungan antara bahasa, bilangan dan
geometri, saya tidak memahami ilmu munasabah, karena bukan spesialis di bidang
itu. Namun, dengan adanya bidang kajian munasabah ini barangkali kajian yang
saya lakukan akan bersingggungan dengan ilmu munasabah. Sedikit banyak, tersingkapnya
pengertian-pengertian yang tersirat dalam beberapa surat yang berkaitan dengan penciptaan dan
prosesnya menyangkut aspek posisitioning dari firman-firman Tuhan itu
sendiri. Namun, hal ini jangan dimaknai yang mana duluan yang difirmankan, karena
kalau kita di posisi Allah, atau memandang dari dalam Diri-Nya sebagai makhluk
yang tercelup dalam Shibghatallaahi (QS 2:138) maka tidak ada
relevansinya mengatakan mana duluan. Semuanya nyaris berbarengan kalau boleh
saya katakan demikian. Hal ini ibarat Anda menggelontorkan sekardus jigsaw
puzzle mainan anak-anak sekaligus diatas lantai. Acak-acakan dan tidak
linier, namun masih bisa tersusun dengan menggunakan kaidah logis yang saya
sebut suatu proses penciptaan. Meskipun, istilah “proses” juga
kurang tepat, namun sebagai makhluk di alam relatif mau tak mau kita
menggunakan kaidah kebahasaan kita sendiri yang relatif untuk memahami adanya
suatu kehendak Allah untuk menciptakan makhluk.
Hal
ini berbeda dengan pewahyuan kepada Nabi Muhammad SAW, maka proses kronologi
turunnya wahyu dapat kita telaah dengan baik, meskipun pada akhirnya al-Qur’an
tidak disusun sebagai suatu urutan kronologis, namun lebih cenderung kepada
uraian konsepsi “apa sih maksudnya Allah menciptakan makhluk?”. Inilah
kunci pemahaman fundamental untuk memahami kenapa satu surat yang meskinya berurutan menjadi
dipisah-pisahkan dan tidak linier bahkan cenderung kalau dipetakan menjadi
suatu neural network.
Saya
tidak tahu sebab yang pasti, namun yang dapat saya simpulkan sejauh ini adalah
“itulah ciri penguraian dari sisi Allah” yang kurang dipengaruhi pengertian
ruang-waktu relatif untuk menjaga kesucian Kitab Suci Al Qur’an yang memiliki
nilai Keabadian sebagai Wahyu Allah bagi manusia. Allah memang sudah mengetahui
bahwa al-Qur’an akan dikaji oleh semua kalangan baik yang Islam maupun bukan,
sehingga penafsiran dan pemahaman yang utuh dan benar hanya berasal dari Umat
Islam itu sendiri bukan dari orang lain (misalnya orientalis).
Boleh
jadi konsepsi pengetahuan yang dirancang manusia dapat menjelaskan al-Qur’an
dengan “cara yang dia yakini benar sebagai manusia yang menggunakan suatu
metode tertentu”, namun hakikat kebenaran bukan sekedar analisis penguraian
menjadi “pengetahuan relatif”. Hakikat kebenaran al-Qur’an akan tersingkap oleh
manusia yang beragama Islam (dalam hal ini pengetahuan atau instrumen
pengetahuan yang digunakannya boleh jadi diambil dari semua kalangan berupa
ilmu pengetahuan dan teknologi) dan tahu bagaimana seharusnya memahami
al-Qur’an baik sebagai Kitab Suci maupun Kitab tentang segala sesuatu, yaitu
mereka yang menerapkan nilai-nilai al-Qur’an kepada dirinya sendiri dan menjadi
abidin dan muslimun, yang mempunyai kecerdasan Iqra (QS 96:1-5) dan penyucian
jiwa (Qs 91:9-10), dan tentu saja mengimani Nabi Muhammad SAW sebagai Utusan
Allah dan bukan dari luar Agama Islam. Sehingga secara konseptual,
manusia yang mampu menginternalkan al-Qur’an sebagai sistem operasi dirinya
sebagai yang berjasad dan berjiwa yang tersirat dalam QS 9:128-129 sebagai
konsepsi al-Insan al-Kamil dengan rujukan utama Nabi Muhammad SAW.
Dan
dari sini manusia kemudian mulai menggalinya menjadi berbagai format
pengetahuan baik yang sifatnya peribadahan maupun hubungannya dengan makhluk
lainnya dan Tuhannya. Salah satu syarat untuk memahami hal ini ternyata suatu
syarat yang sederhana yaitu “berendah hatilah di hadapan Allah” dengan
qolbu dan iqra yang benar untuk memahami firman-firman-Nya karena firman-firman
itu muncul dari keikhlasan Allah dengan permadani maghfirah, dan limpahan
rahmat dan kasih sayang-Nya untuk memperkenalkan Diri-Nya bahwa Dia adalah
Allah Yang Esa, Tuhan Sermesta Alam. Artinya, kepada Umat Islam yang berendah
hati di hadapan Allah lah, maka Allah akan menyingkapkan Pengetahuan –Nya yang
sudah dijadikan-Nya sebagai suatu sunnatullah yang tetap yakni Kitab Suci Al
Qur’an.
Saya
tidak meyakini bahwa semua pengetahuan manusia sebagai hasil ijtihad akalnya
atau konsensus menjadi suatu pengetahuan yang mutlak benar. Semuanya bisa
berubah total dan runtuh bilamana ada suatu pengetahuan lain yang jauh lebih
meyakinkan untuk menyingkap hakikat sesuatu. Dalam hal ini, karena al-Qur’an
memiliki sumber dari Pengetahuan Mutlak, maka apa yang disampaikan al-Qur’an
adalah kebenaran sejak awal dan akhir alam semesta. Yang berarti Al Qur’an
lah Ummul Kitab dan Satu-satu-Nya kitab suci sejak Allah berkehendak untuk
menciptakan yang mencakup Awal dan Akhir. Kitab samawi lainnya yang pernah
ada adalah serpihan dari Ummul Kitab yaitu al-Qur’an yang terjaga kebenaran dan
kesuciannya, dalam setiap zaman, sampai Allah menetapkan kapan mawar merah
al-Haqqah muncul lagi membelah langit alias Hari Kiamat. Oleh karena itu, Umat
Islam mengimani kitab suci Allah yang pernah turun, namun dalam sejarahnya
terdistorsi oleh kepentingan segelintir oknum baik individual atau kelompok
yang membengkokkan risalah Wahyu Ilahi menjadi kepentingan untuk kekuasaan
politik maupun keagamaan atau katakan saja kepentingan duniawi yang tak lain
adalah instrumen tipu daya Sang Iblis (filsafat materialisme, hedonisme, sekularisme,
atheisme, dan isme lain-lainnya).
Apa
yang disampaikan al-Qur’an, baik secara umum maupun khusus menyangkut alam
semesta, masyarakat, peradaban, dan manusia secara individual, sejak manusia
lahir sampai mati dan kembali kepada Allah, maka semua itu suatu kebenaran yang
bersifat mutlak. Hanya, penguraiannya bagi kepentingan manusia dengan kemampuan
yang beragam memerlukan suatu cara penyampaian yang tepat sesuai zamannya atau
ruang-waktunya, sehingga hal ini atau cara penyampaian dan instrumen pengetahuan
relatif yang digunakannya boleh jadi berubah drastis. Termasuk disini
penafsiran al-Qur’an pun bisa berubah atau berkembang sesuai zamannya. Artinya,
tidak relevan kalau kita merujuk ruang-waktu zaman Nabi untuk Zaman sekarang,
hal itu melanggar prinsip yang menjadi sunnatullah Allah yang tetap yaitu
keselarasan dengan kehendak Allah.
Namun,
substansi dari apa yang terdapat di dalam al-Qur’an adalah kebenaran yang
bersifat mutlak karena menyangkut aspek-aspek elementer dari hubungan Tuhan,
manusia dan alam semesta, sehingga ia berkembang mengikuti zamannya tanpa
kelonggaran atau keringanan apapun, karena sangat elementer dan pasti terjadi.
Dan demikian, kesahihan al-Qur’an Musaf Utsmani sebagai Mushaf Asli Nabi
Muhammad SAW tak bisa diubah karena menyangkut aspek-aspek elementer antara
manusia, alam semesta dan Tuhan. Sekali aspek elementer dilanggar misalnya
shalat wajib 5 waktu menjadi 6 waktu, atau satu ayat ditambahkan dan diubah
tanda kalimatnya diubah, maka semuanya akan runtuh. Artinya, sama saja kita
tidak beriman dan tidak mempercayai al-Qur’an sebagai satu-satunya Kitab Wahyu
dari Allah sejak Dentuman Besar (Big bang) sampai saat ini. Dan dengan
demikian, memang sangat penting mempertahankan al-Qur’an dalam bahasa Arab yang
asli karena bahasa Arab mempunyai keunikan yang tidak dapat ditemui dalam
bahasa apapun (catatan: Meskipun demikian, tidak tertutup kemungkinannya
bahwa atas kehendak dan hidayah Allah seseorang yang tidak bisa memahami bahasa
Arab dengan sempurna dapat memahaminya. Dalam hal ini saya sebenarnya mempunyai
hipotesis yang perlu dibuktikan oleh semua Umat Islam bahwa al-Qur’an
sebenarnya sudah ter-install sejak awal mula didalam esensi diri kita yang
termurnikan. Katakanlah semacam sistem operasi manusia langsung dari Allah. Dan
itu akan tersingkap atau teraktifkan bila kita mampu menerapkan ikhlas dengan
benar dengan kunci Iqra dan penyucian jiwa sebagai kunci-kunci makrifatullah.
Ketika hal ini berhasil dilakukan, Insya Allah membaca dan memahami al-Qur’an
bagaikan membaca “Diari Ilahi atau seperti Catatan Harian Rabbul
Aalamin”), dan ia menjadi bahasa induk dari semua peradaban yaitu
bilangan 0123456789 dan huruf alfabet dengan pemahaman tri-lateral (dalam
pengertian bahasa, bilangan dan geometri) yang mencakup 46 arah pemahaman
ilmu pengetahuan yang saling terkait sebagai neural network.
(Dalam kontek al-Qur’an dari arah bahasa
diperoleh 6x6=36 pemahaman saling terkait yaitu tanda baca, huruf, kata,
kalimat, ayat, dan surat; dari segi bilangan terkait pemahaman 3x3=9 arah pemahaman
yaitu nomor juz, surat dan ayat; dari geometri hanya terkait satu bentuk dasar
sebagai unifikasi 3 Ism Agung yaitu bentuk segitiga Allah, Ar-Rahmaan,
ar-Rahiim yang membangun kalimat Basmalah sebagai kondisi awal dan akhir dalam
keseimbangan; totalnya 36+9+1=46 yang dikenal sebagai 46 ilmu kenabian).
Karena
keunikan dan komposisi al-Qur’an maka saya simpulkan bahwa Mushaf Utsmani
adalah mushaf al-Qur’an yang dipersiapkan oleh Allah dan rasulnya Nabi Muhammad
SAW sejak awal mula, yaitu dengan menggunakan suatu kodefikasi yang sahih. Dan
boleh jadi konsepsi penyusunan al-Qur’an menjadi suatu pengetahuan yang
diterima “as is” apa adanya sejak semula. Komposisi tersebut tidak
sekedar nomor juz, surat dan ayat, namun dalam penyusunan bentuk kitab, apa yang
tersirat dalam setiap halaman , penomoran halaman, dan jumlah baris serta
kodefikasi lainnya mestinya sangat akurat dan mengikuti apa yang sudah diterima
oleh Nabi Muhammad SAW sebagai Wahyu Ilahi.
Dekaplah
al-Qur'an dan as-Sunnah dengan erat,
bukalah
dan bacalah dengan Iqra dan Qolbu yang jernih,
engkau
akan dapati rahasia-rahasia dari catatan harian-Ku.
Disitu,
akan
engkau temui tentang dirimu dan Aku,
sebagai
Allah, Yang Maha Esa.
Sebagai
Raabul Aalamin,
dan
sebagai Kemahaagungan dan Kemahaindahan
dari
semua Kehendak-Ku.
Engkau
adalah bayangan kesempurnaan-Ku,
yang
Ku-ciptakan dengan rahmat dan cinta-Ku,
dengan
hamparan permadani maghfirah,
Maka,
kenapakah
engkau lupakan dan sia-siakan
pedoman
yang menjadi Dzikra Lil Aalamin?
Pedoman
yang menjadi penuntunmu memasuki Shirathaal Mustaqiim?
Pedoman
yang menjadi Rahmaatan Lil Aalamin?
Belum
cukupkah bukti-bukti yang kuhamparkan sebagai Arsy-Ku dan dirimu sendiri?
Belum
cukupkah bukti-bukti yang Ku-singkapkan kepada hamba-hamba-Ku yang Ku-kehendaki
untuk mengingkapkan-Nya?
Apakah
engkau menunggu mawar merah al-Haqqah memancarkan kilapan minyaknya?
Ketahuilah,
ketika kepastian itu terjadi,
maka
permadani maghfirah-Ku sudah Ku-gulung,
yang
tersisa adalah rasa takut dan penyesalan yang mendera
karena
kebodohan Ablasa yang engkau pelihara.
Kembalilah
pada-Ku,
dengan
ridha-Ku,
dalam
naungan rahmat-Ku.
Segala
puja dan puji hanya patut dipersembahkan kepada Allah semata, Tuhan Semesta
Alam.

No comments:
Post a Comment